Tag: Cerpen

  • Nama yang Pernah Ada Kian Berlumut

    Nama yang Pernah Ada Kian Berlumut

    Suara kertas buku tua mengisi atmosfer kala itu. Kira-kira pukul 12.00, bel berbunyi dan membuat suara derap langkah bak tentara yang berlarian. Aku menutup buku dan memasukkan kembali laptop yang menjadi tontonanku kala itu. Huft, bukan FOMO, aku ikut dalam derap langkah itu yang menuju ke ruang pertempuran, kata teman-temanku.  Ah, panjang umur. Aku tersenyum…

    Lanjutkan Membaca

  • Ada yang Pergi dari Tatapan Gembul Malam Ini

    Ada yang Pergi dari Tatapan Gembul Malam Ini

    Di sebuah gang kompleks yang tak terlalu besar tetapi dipenuhi pot bunga retak dan suara pedagang bakso setiap sore, hiduplah seekor anjing cokelat berbulu lebat bernama Gembul. Ia bukan anjing penjaga yang galak ataupun anjing ras mahal yang sering dipeluk anak-anak kompleks. Gembul hanyalah anjing biasa dengan telinga sedikit turun dan kebiasaan tidur di depan…

    Lanjutkan Membaca

  • Malam-Malam Penuh Rindu

    Malam-Malam Penuh Rindu

    Menunggu terkadang menjadi rutinitas baru. Berharap yang ditunggu akan datang dan bertemu di lain kesempatan, karena perihal meninggalkan dan ditinggalkan bukan sesuatu yang mudah bagi sebagian orang.

    Lanjutkan Membaca

  • Hadiah Musim Gugur

    Hadiah Musim Gugur

    Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang gadis cantik bernama Faranisa itu. Aku mengenalnya tiga belas tahun yang lalu, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke sepuluh.

    Lanjutkan Membaca

  • LENTERA HANGAT

    LENTERA HANGAT

    Mentari pernah bermimpi suatu hari. Katanya, ia ingin menjadi manusia hebat dan pantang menyerah. Bahkan dulu saat kecil, ia selalu bercerita pada bapak tentang bagaimana masa depannya yang dirancang sendiri dengan begitu idealis. Dimana hari-hari dewasa yang begitu dinantinya akan sukses seperti ekspetasinya dulu. Namun hari itu, setelah air mata dan hampa di hari kepergian…

    Lanjutkan Membaca

  • Rabi’ah

    Rabi’ah

    Rabi’ah mencoba merogoh kunci dari kantong sakunya, sialnya yang di dapatkan hanyalah sebuah permen, hasil kembalian dari membeli bolpoin di toko kelontong yang berada di depan kantor kecamatan. Lalu Rabi’ah meletakkan tasnya dan mencoba mencari dengan teliti di mana ia menaruh kunci motornya itu. Rabi’ah terus mencari dan menggerutu “hari sial tidak ada dalam kalender”.…

    Lanjutkan Membaca