,

Belajar Makna Ketika Pulang Berarti Menerima Diri Sendiri, dari Novel Pukul Setengah Lima Karya Rintik Sedu

Judul Buku: Pukul Setengah Lima Penulis: Rintik Sedu (Nadhifa Allya Tsana) Tahun Terbit: 2023 Nama Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman: 208 halaman Nomor ISBN: 9786020672748  Tidak semua orang yang berbohong melakukannya untuk menyakiti orang lain. Ada kalanya, kebohongan lahir dari keinginan sederhana: ingin menjadi seseorang yang tidak dibebani masa lalu. Gagasan inilah yang menjadi…

Judul Buku: Pukul Setengah Lima

Penulis: Rintik Sedu (Nadhifa Allya Tsana)

Tahun Terbit: 2023

Nama Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 208 halaman

Nomor ISBN: 9786020672748 

Tidak semua orang yang berbohong melakukannya untuk menyakiti orang lain. Ada kalanya, kebohongan lahir dari keinginan sederhana: ingin menjadi seseorang yang tidak dibebani masa lalu. Gagasan inilah yang menjadi napas utama Pukul Setengah Lima, novel karya Rintik Sedu yang mengajak pembaca menyelami luka batin, pencarian identitas, dan kerinduan akan hidup yang terasa lebih layak dijalani.

Novel ini berpusat pada Alina, perempuan yang membenci kehidupannya sendiri. Saat pertemuannya dengan seorang laki-laki di dalam bus pada pukul setengah lima sore menjadi titik balik yang mengubah hidupnya. Laki-laki itu bernama Danu. 

Alih-alih memperkenalkan diri sebagai Alina, ia justru memilih menjelma menjadi orang lain.,  Marni. Identitas baru yang Alina pilih malah perlahan memberinya ruang untuk merasakan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia miliki. Namun, setiap kebohongan selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Premis tersebut mungkin terdengar seperti kisah romansa dengan konflik identitas. Namun, Rintik Sedu menghadirkan sesuatu yang lebih dalam. Novel ini tidak berbicara tentang cinta semata, melainkan tentang seseorang yang begitu lelah menjadi dirinya sendiri hingga merasa perlu menciptakan kehidupan lain agar dapat bertahan.

Kekuatan terbesar novel ini terletak pada cara Rintik Sedu membangun kondisi psikologis tokoh utamanya. Alina bukan karakter yang mudah disukai, tetapi justru mudah dipahami. 

Keputusan-keputusannya sering kali terasa keliru, bahkan membuat pembaca ingin mempertanyakan tindakannya. Namun, seiring cerita berkembang, pembaca mulai menyadari bahwa pilihan-pilihan tersebut lahir dari luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Sebagaimana karya-karya Rintik Sedu sebelumnya, bahasa dalam Pukul Setengah Lima cenderung sederhana, ringan, dan mengalir. Kalimat-kalimatnya tidak dipenuhi metafora yang rumit, tetapi mampu menghadirkan emosi secara perlahan. 

Gaya penulisan seperti ini membuat novel mudah diikuti oleh berbagai kalangan pembaca, terutama mereka yang menyukai cerita dengan nuansa reflektif dan emosional.

Meski demikian, kekuatan emosional tersebut terkadang menjadi kelemahan. Beberapa bagian cerita terasa bergerak lambat karena lebih banyak berfokus pada pergulatan batin tokoh dibandingkan dengan perkembangan konflik. Bagi pembaca yang mengharapkan alur penuh kejutan, ritme novel ini mungkin terasa kurang dinamis. Di sisi lain, pembaca yang menikmati eksplorasi karakter justru akan menemukan daya tariknya di sana.

Novel ini juga mengangkat isu yang relevan dengan kehidupan banyak anak muda, yaitu trauma keluarga, rasa tidak percaya diri, kebutuhan untuk diterima, hingga keinginan melarikan diri dari identitas yang terasa menyakitkan. 

Rintik Sedu menunjukkan bahwa luka tidak selalu tampak dalam bentuk tangisan atau kemarahan. Terkadang, luka hadir dalam bentuk senyum yang dipaksakan dan kehidupan yang dijalani menggunakan nama orang lain.

Yang menarik, tokoh laki-laki bernama Danu dalam novel ini tidak ditempatkan sebagai “penyelamat”. Kehadirannya memang membawa harapan bagi Alina, tetapi tidak semata-mata menyelesaikan konflik yang berakar dari dalam diri tokoh utama. Dengan demikian, novel ini secara halus menyampaikan bahwa proses berdamai dengan diri sendiri tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada orang lain.

Pada akhirnya, Pukul Setengah Lima bukan sekadar kisah tentang kebohongan identitas. Novel ini merupakan refleksi mengenai betapa beratnya hidup ketika seseorang tidak lagi mampu menerima dirinya sendiri. 

Di balik romansa yang menghangatkan, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah kebahagiaan benar-benar bisa ditemukan dengan menjadi orang lain, atau justru dimulai ketika seseorang berani menerima seluruh luka yang dimilikinya?

Pukul Setengah Lima memperlihatkan bahwa pelarian mungkin dapat memberikan ketenangan sementara, tetapi tidak pernah benar-benar menyembuhkan sepenuhnya. 

Sebab, sejauh apa pun seseorang berlari dari masa lalunya, ia tetap harus pulang kepada dirinya sendiri. Itulah pesan yang membuat novel ini terasa dekat dengan banyak pembaca, terutama mereka yang pernah merasa asing terhadap kehidupannya sendiri.

Editor: Olivya

Thumbnail: Pinterest: Eca

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang KataKarsa

KataKarsa adalah portal berita yang dikelola oleh UKPS Bengkel Jurnalistik, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Cari