Menjelang tengah malam, lampu kamar kos masih menyala. Di atas meja, laptop terbuka dengan beberapa tab referensi, sementara secangkir kopi menemani mahasiswa yang berpacu dengan tenggat tugas. Pemandangan seperti ini bukan lagi hal yang asing. Begadang dan kopi seolah telah menjadi pasangan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan perkuliahan.
Bagi sebagian mahasiswa, begadang merupakan pilihan yang sulit dihindari. Padatnya jadwal kuliah, organisasi, pekerjaan paruh waktu, hingga banyaknya tugas membuat malam menjadi satu-satunya waktu yang tersedia untuk belajar.
Dalam kondisi tersebut, kopi sering kali dipilih sebagai cara sederhana untuk menjaga konsentrasi dan mengusir rasa kantuk agar pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.
Di sisi lain, kebiasaan ini juga menimbulkan pertanyaan. Apakah begadang benar-benar menjadi tanda kerja keras, atau justru mencerminkan pola belajar yang kurang efektif? Padahal, tidak semua tugas harus dikerjakan hingga dini hari.
Ada kalanya begadang terjadi karena kebiasaan menunda pekerjaan, manajemen waktu yang kurang baik, atau kebiasaan mahasiswa yang merasa lebih produktif ketika tenggat sudah sangat dekat. Istilah mahasiswa sekarang adalah SKS, (Sistem Kebut Semalam).
Kopi pun memiliki posisi yang serupa. Minuman ini bukanlah penyebab utama mahasiswa sering begadang, melainkan sekadar alat bantu. Kandungan kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan dalam jangka pendek, namun tidak dapat menggantikan kebutuhan tubuh akan istirahat.
Ketika konsumsi kopi menjadi solusi utama untuk menutupi kurangnya waktu tidur, muncul risiko kelelahan, kesulitan berkonsentrasi keesokan harinya, hingga penurunan kualitas kesehatan jika dilakukan secara terus-menerus.
Namun, tidak adil pula jika seluruh tanggung jawab dibebankan kepada mahasiswa. Beban akademik yang padat, tenggat yang berdekatan, hingga aktivitas di luar kelas menjadi faktor yang turut membentuk kebiasaan tersebut. Dalam situasi tertentu, begadang memang sulit dihindari, terutama pada masa ujian atau penyelesaian proyek besar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa begadang dan minum kopi bukan sekadar persoalan gaya hidup mahasiswa. Keduanya merupakan gambaran dari dinamika kehidupan akademik yang kompleks, dipengaruhi oleh tuntutan, kebiasaan pribadi, serta lingkungan belajar.
Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak hanya berupa ajakan untuk “jangan begadang”, tetapi juga upaya membangun manajemen waktu yang lebih baik, budaya belajar yang sehat, serta sistem akademik yang mendorong mahasiswa bekerja secara bertahap, bukan hanya menjelang tenggat.
Pada akhirnya, produktivitas tidak semestinya diukur dari berapa banyak malam yang dilewati tanpa tidur atau berapa banyak cangkir kopi yang dihabiskan. Mahasiswa tetap dapat berprestasi tanpa harus menjadikan begadang sebagai rutinitas.
Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan tugas yang selesai tepat waktu, tetapi juga menciptakan proses belajar yang berkelanjutan dan menjaga kesehatan fisik maupun mental mahasiswa.
Editor: Olivya Permata Agustina
Thumbnail: pinterest Jeje















