Menunggu terkadang menjadi rutinitas baru. Berharap yang ditunggu akan datang dan bertemu di lain kesempatan, karena perihal meninggalkan dan ditinggalkan bukan sesuatu yang mudah bagi sebagian orang.
Dulu aku bosan menunggu, lelah menanti yang tak pasti. Namun karena dia, semua tak ada yang membosankan. Tentangnya semua menyenangkan.
Aku selalu menunggu hal-hal tak pasti darinya. Sedikit gila, tapi itulah yang aku lakukan.
—
Awal pertemuan kami adalah pameran.
Aku senang mengunjungi event tahunan di salah satu galeri seni pada sebuah pusat kota. Galeri seni menurutku adalah tempat paling ikhlas untuk menyimpan kenangan bahkan semua hal dari masa lalu.
Laki-laki berperawakan seniman, dengan pakaian sederhana namun ikonik seperti tokoh Ghibli, terlihat kesulitan saat akan membayar tiket masuk pameran.
“Maaf, Mbak, sepertinya ponsel saya sulit menangkap sinyal atau malah paket data saya habis ya? Transaksi pembayarannya gagal dari tadi.”
Bukan menguping, tapi aku yang di belakangnya tak sengaja mendengar percakapan itu.
“Apakah bisa pakai uang tunai, Mbak?” tanyanya sekali lagi.
“Maaf sekali, tapi sistem pembayaran kami non-tunai, Mas,” jelas penjaga loket pintu masuk dengan hati-hati.
“Pakai punya saya dulu aja, Mas,” selaku tanpa ragu. Dia memandangku tetap dalam diam.
“Baik, Mbak, totalnya enam puluh ribu ya. Boleh melalui nomor ini untuk transaksi pembayarannya,” jelas penjaga loket. Tak lama setelah itu, kami dipersilakan masuk galeri untuk menikmati pameran.
Lelaki itu mengikuti langkahku dari belakang. “Sebelumnya terima kasih ya, Mbak, akan saya ganti besok. Nanti boleh kirim nomor rekeningnya?”
“Dengan senang hati saya bantu, Mas. Mungkin gantinya boleh temani saya minum kopi di kedai langganan sepulang dari pameran ini? Tidak jauh dari tempat ini kok,” tawarku tanpa pikir panjang.
“Wah boleh, dengan senang hati juga nanti saya temani,” jawabnya dengan senyum paling tulus yang kulihat sore itu.
—
“Kamu sering datang ke pameran ya?” tanya pria Ghibli yang masih setia berjalan di sampingku untuk menelusuri lorong galeri.
“Iya hehe, kok tahu?”
“Kelihatan aja dari sosokmu yang antusias di sepanjang lorong ini, dan caramu menikmati semua yang dipamerkan,” lagi-lagi dia tersenyum saat memberi jawaban–dan aku tidak bosan melihat senyum tulusnya.
“Terkadang galeri pameran juga salah satu perjalanan favoritku setelah denyut nadi pariwisata dan budaya di pusat kota ini. Aku tidak pernah bosan untuk membicarakan bahkan mengunjunginya. Kalau kamu? Sering ke pameran juga?”
“Hampir setiap hari. Dulu ada seseorang yang begitu sering mengajakku mengunjungi pameran, bahkan hampir setiap hari. Katanya galeri seni seperti rumah kedua untuknya, dia orang yang pandai merawat masa lalu. Sepertimu.”
Aku tertegun.
“Tapi sekarang dia sudah lama pergi, bersama cinta barunya, karena egoku dulu yang tidak bisa mempertahankan semua sehingga sekarang kami tidak bisa menikmati pameran setiap hari lagi,” kali ini dia menjelaskan tidak dengan senyuman, tapi dengan raut wajah penyesalan.
Aku terdiam cukup lama, menanti apa ucapan selanjutnya, tetapi nyatanya tidak ada.
“Menurutku yang sudah pergi tidak perlu dipertanyakan lagi, mungkin sudah saatnya untuk pergi. Terkadang masa lalu juga boleh kok dirayakan sebagaimana mestinya, seperti datang ke tempat ini contohnya. Dengan begitu, kita merasa pernah hidup bersamanya di masa yang belum ada habisnya,” jawabku agar percakapan kami tidak kembali sepi.
Tetapi dering telepon pria itu menyela obrolan kami–atau malah mengakhirinya? Ia perlahan menjauhiku untuk menerima panggilan itu.
Tak lama ia datang kembali dengan terburu-buru. “Maaf aku harus pergi duluan, bungaku telah kembali.”
“Hah? Bunga? Maksudmu?” tanyaku kebingungan, tetapi pertanyaanku tak juga diindahkan.
“Untuk rencana minum kopi, maaf tidak bisa malam ini. Datanglah esok hari di kedai kopi langgananmu, jika masih takdir mungkin kamu akan menemukanku.” Belum sempat aku menjawab, langkah kakinya terlihat sudah mendahuluiku pergi.
Meninggalkanku seorang diri di tempat masa lalu dengan ribuan tanya yang belum sempat kudapatkan jawabannya.
—
Keesokan harinya, saat matahari belum tertidur sepenuhnya aku sudah duduk manis di kedai kopi langgananku. Aku ingin menepati janji kepada pria Ghibli kemarin.
Kursi paling depan adalah pilihan yang tepat menurutku, agar saat dia datang bisa langsung melihatku dan mengambil alih tempat duduk di depanku hingga akhirnya kami bisa melanjutkan obrolan yang tertunda.
Ya, itu adalah harapanku saat pertama kali membuka pintu kedai dan masuk ke dalamnya. Namun, harapan tetaplah harapan.
Dua gelas es kopi gula aren kesukaanku sudah tandas beberapa jam yang lalu, dengan buku antologi puisi yang sudah selesai aku baca, tapi sosoknya tak kunjung tiba. Hingga kedai itu benar-benar tutup dan tertempel tulisan closed di depan pintu. Dia tidak datang.
Pertemuan awal dengan orang asing di pameran itu sekarang hanya sebatas puing-puing harapan. Galeri seni dan kedai kopi jadi tempat yang aku benci sekaligus sukai. Mau bagaimanapun aku tetap hidup di antara keduanya.
Di persimpangan jalan pulang aku masih bisa mengingatnya. Wajahnya yang teduh, pun saat dia tertawa diikuti matanya yang juga ikut tersenyum layaknya bulan sabit di malam-malam yang penuh rindu.
Dan semua tetap pada akhir yang tak pasti. Pertemuan itu masih akan menjadi sesuatu yang dinanti, dan menunggu adalah kegiatan yang mengiringi.















