Puing-Puing Duka

Pagi itu hari Senin. Aku sedang duduk di depan rak sepatu sambil mengikat tali sepatu yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu mudah lepas. Kuarahkan pandanganku ke jendela ruang tamu, kulihat langit sudah mulai gelap dan angin sesekali membuat dedaunan di halaman bergerak pelan. “Oh sudah mau hujan,” gumamku dalam hati. “Nak, jangan lupa bawa payung…

Pagi itu hari Senin. Aku sedang duduk di depan rak sepatu sambil mengikat tali sepatu yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu mudah lepas. Kuarahkan pandanganku ke jendela ruang tamu, kulihat langit sudah mulai gelap dan angin sesekali membuat dedaunan di halaman bergerak pelan. “Oh sudah mau hujan,” gumamku dalam hati.

“Nak, jangan lupa bawa payung ya. Sepertinya bakal hujan.” Suara ibu terdengar dari dapur.

“Iya, Bu.” Aku menjawab sekenanya tanpa menoleh. Tanganku masih sibuk membuat simpul pada tali sepatu. Setelah selesai, aku berdiri dan melaksanakan ucapan ibu untuk mengambil payung biru yang terletak di samping rak sepatu. Payung itu langsung kumasukkan ke dalam tas dan bergegas untuk berangkat ke sekolah. Namun, saat hendak membuka pintu, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Ya ampun,” aku buru-buru melepas sepatuku lagi lalu berlari masuk ke kamar.

Di atas meja belajar masih tergeletak buku catatan biologiku. Sabtu kemarin, anak laki-laki yang duduk di sebelahku memintanya untuk dipinjam. 

“Senin bawa ya. Aku belum sempat mencatat materi kemarin.” Aku masih ingat betul bagaimana dia mengatakan itu sambil tersenyum memohon padaku minggu lalu. 

“Loh, kok belum berangkat?” suara ibu terdengar lagi.

Aku tersenyum kecil. “Tadi lupa bawa sesuatu.”

“Apa?”

“Catatan biologi. Bu, Ibu tahu kan temanku yang sering kuceritain itu? Dia mau pinjam.”

Aku menunggu respons Ibu dari dapur, tetapi tak ada suara yang terdengar. Tidak ingin ambil pusing, aku berpikir mungkin ibu sedang sibuk berkutat dengan pesanan catering-nya.

Baca juga: Misteri di Balik Dinding Kamar Asrama yang Tak Pernah Sepi 

Rumah terasa seperti biasanya pagi itu. Aku masih bisa mencium aroma masakannya di dapur, masih bisa membayangkan bagaimana kerepotannya ibu berdiri di depan kompor menyelesaikan pesanan pelanggannya, sembari sesekali mengingatkanku agar tidak terlambat sekolah. Semuanya terasa biasa bagiku.

Aku kembali duduk untuk mengenakan sepatu. Di luar, langit semakin gelap. Angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Aku mengencangkan simpul terakhir lalu berdiri–dan ketika berdiri, saat itulah suara ibu kembali terdengar pelan, sangat pelan.

“Nak, ikhlaskan kepergiannya, ya.”

Aku terdiam. Tanganku yang memegang tas mendadak terasa lemas. Perlahan aku menoleh ke belakang. Kuedarkan pandanganku ke arah dapur. Di dapur tidak ada siapa-siapa. Rumah itu kosong  dan tak ada siapa-siapa, selain aku. Dadaku langsung terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang selama ini sengaja kutahan akhirnya memaksa untuk keluar. Aku memejamkan mata dan untuk pertama kalinya pagi itu, aku benar-benar mengingat, oh iya, teman yang duduk di sebelahku itu sudah meninggal Sabtu sore kemarin karena kecelakaan saat perjalanan pulang dari sekolah.  Lalu ibu, dia juga sudah tidak ada.  Sudah seminggu berlalu sejak pemakamannya. Aku membuka mata dan menatap rumah yang tiba-tiba terasa asing. Kosong, sepi, dan sunyi.

Benar, beberapa hari terakhir ini aku memang terus berpura-pura. Berpura-pura ibu masih ada di dapur, berpura-pura masih ada yang akan menungguku pulang sekolah, dan berpura-pura kalau kehilangan itu tidak pernah terjadi. Padahal, kenyataannya akan tetap sama.

Mereka sudah pergi dan tidak akan kembali. Tanpa sadar air mataku kembali mengalir begitu deras.

Di luar, hujan mulai turun. Rintiknya terdengar pelan di atap rumah sebelum berubah menjadi deras. Aku tertawa kecil di sela tangis. Rasanya lucu, Senin pagi ini aku sibuk mengingat payung, mengingat catatan biologi, mengingat semua hal kecil yang tidak penting, tetapi justru aku melupakan kenyataan terbesar yang sedang kucoba hindari. 

Orang-orang yang paling sering mengisi hari-hariku kini hanya tinggal kenangan. Aku mengusap wajah dengan lengan seragam, menarik napas panjang, lalu mengambil tas yang sejak tadi tergeletak di lantai. Sedikit demi sedikit, rasa sesak itu memang tidak hilang dan mungkin juga tidak akan hilang dalam waktu dekat. Namun hidup tetap berjalan. Waktu tetap berjalan dan mau tidak mau, aku juga harus terus berjalan. 

Senin pagi itu, meski masih enggan, aku akhirnya membuka pintu rumah dan bersiap berangkat menuju sekolah. Udara dingin langsung menyambut wajahku. Hujan turun semakin deras. Aku berjalan menembus hujan menuju sekolah dan membawa semua kenangan, kehilangan, serta puing-puing duka yang masih berserakan di dalam dada.

Editor: Olivya Permata

Thumbnail by Pinterest (@☆lexie☆)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *