Musim kemarau tahun itu benar-benar tidak main-main. Siang harinya panas menyengat, jenis panas yang bikin badan lengket dan pikiran jadi gampang emosi. Karena sudah tidak tahan gerah, aku dan teman-teman akhirnya sepakat: sore itu kami berenang saja di salah satu kolam di area Condongcatur.
Kami tiba sekitar pukul empat sore. Awalnya cuma niat menyegarkan badan sebentar, tapi namanya juga keasyikan di air, waktu jadi terasa cepat sekali. Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul 18.00, dan suara azan Maghrib mulai terdengar samar dari kejauhan. Semua teman-temanku beragama Islam, tinggal aku sendiri yang bukan. Jadi wajar kalau mereka satu per satu naik dari kolam untuk bersiap salat, meninggalkanku sendirian di air.
Kebetulan sore itu kolam memang sudah sepi. Yang tersisa cuma sepasang kekasih di pojok, aku, dan tas-tas milik teman-temanku yang tergeletak di kursi pinggir kolam. Begitu mereka pergi, praktis tinggal aku sendirian yang masih berendam.
Entah kenapa, kolam yang tadinya terasa biasa saja tiba-tiba jadi terasa aneh. Padahal ini kolam outdoor dan tak begitu besar, tapi suasananya gelap, lebih gelap dari yang seharusnya. Lampu-lampu di sekitarnya juga redup, seolah sengaja diredupkan. Aku masih santai saja, berenang pelan sambil menunggu teman-teman selesai salat.
Sampai kemudian aku dengar suara kecipak air. Seperti ada orang yang baru saja masuk ke kolam. Refleks aku menoleh, berpikir mungkin itu sepasang kekasih tadi yang pindah tempat, atau ada pengunjung baru yang datang. Tapi begitu aku perhatikan area kursi, tidak ada tas baru di sana, bahkan dua sejoli tadi. Hanya tasku dan tas teman-temanku, seperti sebelumnya.
Aku mulai memperhatikan permukaan air. Ada bayangan samar di bawahnya, bergerak pelan, lalu perlahan-lahan naik ke permukaan. Begitu kepalanya muncul, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas: seorang ibu-ibu, usianya mungkin sekitar 40 sampai 50 tahun, mengenakan pakaian serba hitam dari ujung ke ujung.
Sempat deg-degan sesaat, tapi begitu tahu itu “cuma” manusia, aku malah lega. Aku lanjut berenang santai, menunggu teman-teman selesai salat sambil sesekali melirik ke arahnya.
Namun ada satu hal yang bikin bulu kudukku sedikit berdiri: saat aku menoleh ke arahnya, dia sudah lebih dulu menatapku. Bukan menatap biasa. Tatapannya datar, kosong, seperti tidak benar-benar melihatku sebagai orang, hanya… melihat. Karena masih berusaha berpikir positif, aku cuma membalas dengan anggukan kecil dan senyum sekadarnya. Toh, mungkin dia memang suka berenang sore-sore begini, pikirku waktu itu.
Tapi ibu itu tidak membalas senyumku sama sekali. Dia hanya diam mengapung di tengah kolam, dengan posisi tubuh yang janggal, tegak lurus seperti berdiri, padahal di bagian itu kedalaman air jauh melebihi tinggi badannya. Rambutnya yang basah menutupi separuh wajah, dan anehnya, rambut itu sama sekali tidak bergerak, meski riak air di sekelilingnya jelas-jelas ada. Seolah dua hal berjalan sendiri-sendiri: air yang bergerak, dan sosoknya yang membeku.
Aku mulai tidak nyaman. Perlahan aku menjauh, berenang ke sisi kolam yang masih tersorot lampu meski redup, lalu duduk di pinggirannya dengan kaki masih terendam air. Aku mencoba menenangkan diri, berharap azan segera selesai dan teman-temanku segera kembali.
Beberapa menit berlalu tanpa kejadian apa-apa. Aku sempat melihat ke tengah kolam lagi, tapi, ibu itu sudah tidak terlihat. Aku bernapas lega, mengira dia sudah naik ke darat. Tapi begitu aku menoleh ke kanan, ke arah tangga kolam yang paling dekat denganku, dia sudah berdiri di sana. Basah kuyup, diam, dengan tatapan datar yang sama seperti sebelumnya.
Jantungku langsung berdebar kencang. Aku yakin betul, beberapa detik lalu dia masih ada jauh di tengah kolam. Tidak mungkin dia berpindah secepat itu tanpa suara kecipak sedikit pun. Aku mencoba berpikir logis. Mungkin mataku menipu, mungkin cahaya minim ini yang membuatku salah lihat.
“Permisi, Bu,” ucapku pelan, setengah berusaha sopan, setengah lagi hanya ingin memecah keheningan yang mencekam. Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Tapi senyum itu salah, terlalu lebar, jauh melampaui batas wajar sebuah senyuman manusia biasa, seperti bibirnya membentang lebih jauh dari yang seharusnya bisa dilakukan mulut manusia.
Aku langsung berdiri, mundur beberapa langkah dari tepi kolam, kaki gemetar tak terkendali. Aku ingin berteriak memanggil nama teman-temanku, tapi suaraku seolah tersangkut di tenggorokan. Dan di saat itulah, satu-satunya lampu yang menerangi kolam berkedip beberapa kali, lalu padam total.
Gelap gulita. Yang tersisa hanya suara percikan air pelan, seperti seseorang berjalan mendekat di dalam kolam, meski aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Aku terus mundur sampai punggungku membentur pagar pembatas.
“Mbak… mau ikut berenang sama Ibu, ya?”
Suara itu muncul entah dari mana, dekat sekali, seolah tepat di sebelah telingaku, padahal aku yakin tidak ada siapa pun sedekat itu. Suaranya lembut, seperti suara ibu-ibu pada umumnya. Tapi ada yang salah di dalamnya, terlalu datar, terlalu tenang untuk suasana segelap dan sesunyi itu.
Aku menjerit sekuat tenaga, memanggil nama teman-temanku berkali-kali. Untung saja tak lama kemudian lampu di area musala menyala terang di kejauhan, dan aku mendengar suara langkah kaki teman-temanku dan dua penjaga kolam yang sepertinya tadi juga salat kini berlari mendekat, panik karena mendengar jeritanku.
“Kenapa? Kenapa?!” salah satu dari mereka berteriak sambil menyalakan senter dari HP-nya handphone-nya. Cahaya itu langsung menyapu permukaan kolam. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain aku yang berdiri gemetar di pinggir kolam, basah kuyup dan pucat pasi.
Aku menceritakan semuanya sambil terisak. Teman-temanku saling berpandangan, wajah mereka berubah serius seketika. Salah satu, yang paling tua di antara kami, akhirnya bicara pelan, hampir berbisik.
“Kamu nggak tahu, ya… katanya dulu, sebelum kolam ini dibangun, tempat ini bekas…”
Salah satu penjaga kolam yang tadi hanya diam setelah ikut berlari dari mushola, kini berbicara. “Ya sudah, Dik. Nggak usah dibahas sekarang. Yang penting kalian sudah selesai dan masih baik-baik saja. Sudah, pulang saja ya.”
Malam itu juga kami langsung berkemas dan pergi. Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak bisa berhenti memikirkan tatapan datar dan senyum yang terlalu lebar itu. Sejak kejadian itu, aku bersumpah tidak akan pernah lagi berenang menjelang Maghrib. Apalagi sendirian.
Dan sampai sekarang, aku masih sering bertanya-tanya sendiri: kalau malam itu aku benar-benar mengiyakan ajakannya untuk “berenang sama Ibu”… apakah aku masih bisa duduk di sini, menceritakan semua ini?
Editor: Olivya Permata Agustina
Thumbnail: Canva(Tim Artistik)















