,

“Daulat Pariyem: Antara Nelangsa dan Mulia” Hidupkan Kembali Karya Linus Suryadi Ag. dalam Balutan Drama Musikal

Karya sastra Pengakuan Pariyem kembali hadir dalam wajah baru melalui drama musikal Daulat Pariyem: Antara Nelangsa dan Mulia yang dipentaskan di IFI-LIP Yogyakarta, Rabu (5/8). Alih wahana yang digarap Asriuni Pradipta selaku sutradara mempertemukan kekuatan prosa liris Linus Suryadi Ag. dengan elemen musik, vokal Nusantara, dan seni pertunjukan untuk menghadirkan pengalaman baru bagi penonton.  Pertunjukan…

Karya sastra Pengakuan Pariyem kembali hadir dalam wajah baru melalui drama musikal Daulat Pariyem: Antara Nelangsa dan Mulia yang dipentaskan di IFI-LIP Yogyakarta, Rabu (5/8). Alih wahana yang digarap Asriuni Pradipta selaku sutradara mempertemukan kekuatan prosa liris Linus Suryadi Ag. dengan elemen musik, vokal Nusantara, dan seni pertunjukan untuk menghadirkan pengalaman baru bagi penonton. 

Pertunjukan yang digelar selama dua hari ini, yaitu pada Rabu dan Kamis (5–6 Agustus 2026),  merupakan pertunjukan yang terbuka untuk masyarakat secara gratis, tetapi perlu reservasi terlebih dahulu karena kapasitas tempat yang terbatas. 

Hari pertama ini venue sudah tampak ramai oleh pengunjung. Pukul 19.45 WIB pengunjung dan tamu undangan mulai memasuki auditorium. Dengan posisi panggung yang cukup intimate, hal ini justru menambah kesan hangat untuk pertunjukan ini. Bisik-bisik penonton yang terdengar sedikit membahas alur cerita dan menunggu pemain muncul menandakan rasa tidak sabar mereka untuk menyaksikan pertunjukan.

Acara dimulai tepat pada pukul 19.53 WIB dan dibuka oleh trio ubyang-ubyung selaku pembawa acara. Menariknya, selain untuk membuka acara, mereka juga pemain di drama musikal ini. Lelucon yang sudah dibawakan sejak awal pertunjukan menambah keseruan selama pertunjukan karena penonton menjadi sangat menikmati cerita sehingga riuh tawa dan tepuk tangan mengalir begitu saja.

Drama musikal ini berlangsung selama kurang lebih 60 menit. Alur cerita yang dibawakan begitu indah, ditambah banyaknya iringan musik dan nyanyian dari para aktor. Selain itu, pertunjukan ini semakin menarik karena ada interaksi dengan para penonton, semacam ciri khas suatu kesenian rakyat. Antusiasme dan sorak-sorai penonton menambah riuhnya pertunjukan ini.

Melalui pertunjukan ini, Asriuni Pradipta berupaya menghidupkan kembali denyut batin tokoh Pariyem dengan mengalihwahanakan prosa liris ke dalam bentuk drama musikal. Adaptasi tersebut memadukan monolog, dialog, gerak ekspresif, serta lagu-lagu yang dibalut aransemen musik dan vokal Nusantara tanpa menghilangkan kekuatan bahasa dan keindahan rima yang menjadi ciri khas karya aslinya.

Mengusung tajuk Daulat Pariyem: Antara Nelangsa dan Mulia, pertunjukan ini mengajak penonton menyelami perjalanan hidup Pariyem sebagai seorang abdi perempuan Jawa yang bergulat dengan pengabdian, keteguhan, dan martabat. Kisah tersebut dihadirkan melalui pendekatan artistik yang intim sehingga penonton dapat merasakan pergulatan batin tokohnya dari jarak yang dekat dan hangat.

Baca juga: Air Bidet Sering Mampet, Kapan Solusinya Mengalir Lancar?

“Bagian yang paling membekas buat saya adalah babak terakhir, dimana statement itu saya jadikan judul pertunjukan ini. Daulat sendiri memiliki dua makna, berkat dan tulah. Pada akhirnya semua itu tergantung kedaulatan kita sebagai manusia, mau memaknai sebuah peristiwa hidup sebagai kesialan atau keberkahan. Itu alasan saya membuat judul pertunjukan ini, Daulat Pariyem : Antara Nelangsa dan Mulia. Saya ingin mengajak penonton untuk berefleksi dan berdaulat dalam menjalani hidup,” jelas Asriuni Pradipta saat ditemui seusai pertunjukan.

Selain menampilkan Asriuni Pradipta, pementasan ini juga melibatkan sejumlah aktor dan aktris, di antaranya Ibnu Gundul, Ido Bento, Novanda Revi, Rio Pratama, Chi Wardana, dan Dita Gajih. Sementara itu, bagian pemusik diisi oleh Eko Balung, Harly Yoga Pradana, Krisna Tompo, Wasis Tanata, dan Edipcheese. 

Saat menemui salah satu pemain, yaitu Ido Bento yang berperan sebagai Pairin atau adik Pariyem. Beliau berbagi soal tantangannya selama memerankan Pairin ini, yaitu ada pada bagiannya yang bermonolog. Dengan persiapan sekitar dua minggu dengan dialog panjang yang hanya berisi monolog tersebut membuatnya harus berlatih dengan ekstra.

Ido Bento sendiri merupakan tokoh yang lahir dari keluarga seniman, Alm. ayahnya dulu merupakan pemain ketoprak dan pemain wayang orang. “Saya jadi merasa benar-benar memerankan naskah ini,” jelas Ido.

Dramaturgi pertunjukan digarap oleh Garin Nugroho, sementara posisi asisten sutradara diisi oleh MM Shinta Wardhani. Produksi dipimpin oleh Muhammad Rasyid Ridlo dengan dukungan tim artistik yang menangani tata kostum oleh Retno Damayanti, penata musik oleh Eko Balung, dan penata koreografi oleh Febby Nursyahvira.

Pertunjukan ini menjadi salah satu upaya menghadirkan kembali karya sastra Indonesia melalui medium seni pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat. Menurut pengakuan Asriuni, alasan ia memilih mengadaptasi prosa liris Pengakuan Pariyem ini karena Linus Suryadi sendiri adalah sastrawan asli Yogyakarta yang di mana tulisannya itu sangat puitis dan lirikal sehingga begitu membaca rasanya sudah musikal. Alasan itulah yang menggugah Asriuni untuk mengubah buku tersebut menjadi sebuah drama musikal.

Asriuni juga berbagi tantangan yang ia hadapi selaku sutradara untuk pertunjukan ini, “Karena bahasanya itu memang puitis, jadi merangkai adegannya dari awal sampai akhir yang agak bingung. Gimana supaya puzzeling ini tuh tetap rapi sehingga orang yang nggak baca bukunya itu tetap bisa mengikuti ceritanya. Selain itu bagaimana membuat komposisi yang pas, bagian mana yang didialogkan, mana yang dinyanyikan, mana yang dimonologkan, atau mana yang diinstrumenkan.”

Menurut penjelasan Asriuni, yang tetap dipertahankan dari alih wahana prosa menjadi seni pertunjukan adalah prosa lirisnya. Bahasa-bahasa puitis, dan akhiran-akhiran yang sama, memang bentuk asli dari bukunya itu sendiri. 

Dari pertunjukan ini, terlihat bahwa alih wahana dari karya sastra ke panggung musikal tidak hanya menawarkan pengalaman estetis yang berbeda, tetapi juga membuka ruang pembacaan baru terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pengakuan Pariyem.

Saat menemui salah satu penonton, Farras dari komunitas Unit Studi Sastra dan Teater Universitas Negeri Yogyakarta (Unstrat UNY) memberi kesan dan pesan untuk pertunjukan drama musikal ini. Menurut pengakuannya, pertunjukan malam ini sangat seru “Aku sangat amaze sama suara para aktor dan juga pembawaan para aktor yang lucu banget. Dari sisi alur cerita juga pesan yang ingin disampaikan juga dapet banget.”

Bagi Farras, ada juga beberapa bagian dari drama yang membekas di benaknya. “Kalau adegan yang membekas itu kalau udah mulai nyanyi ya para aktornya, tapi yang paling membekas juga pas tahu kalau Pariem-nya itu lagi hamil terus pas mendekati ending pesan yang disampaikan dapet banget.”

Selama mengikuti drama musikal ini, pada akhirnya pementasan seperti ini menjadi salah satu upaya menghadirkan kembali karya sastra Indonesia melalui medium pertunjukan yang lebih dekat dengan generasi masa kini. 

“Pesanku, namanya kondisi yang sempurna itu memang tidak pernah ada. Jadi kalau kita menunggu itu maka kita tidak akan pernah menjadi apa-apa. Dalam segala keterbatasan dan kekurangan itu, di situlah sikap kita dibutuhkan. Apa yang mau kita buat, apa yang mau kita berikan untuk hidup kita sendiri, untuk orang di sekitar kita, dan juga untuk nusa dan bangsa tentunya,” tutup Asriuni pada wawancara malam ini.

Editor: Olivya Permata Agustina

Thumbnail: Dokumentasi Pribadi Penulis

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *