Kisah ini diceritakan oleh seorang laki-laki yang dulu bersekolah di SMP berasrama daerah Temanggung, sebut saja namanya Tono. Tono memiliki seorang teman dan mengalami hal ini di kamar asramanya, semasa mereka masih duduk di bangku SMP tersebut.
Asrama di sekolah Tono memiliki tampilan biasa saja, seperti bangunan asrama yang biasa kita tahu selama ini. Lingkungan di dalamnya tampak biasa, tetapi ada taman dan kolam di bagian tengah, kemudian sisi kanan terdapat bangunan kamar siswa perempuan, sementara sisi kiri kamar siswa laki-laki.
Di setiap kamar siswa ini, sudah dilengkapi dua kamar mandi dalam. Berdasarkan peraturan yang berlaku, setiap malam hari kamar mandi di asrama tersebut lampunya tidak boleh dimatikan.
Suatu malam, temen Tono–sebut saja namanya Joko–merasa gelisah, tidak bisa tidur. Joko tidur di ranjang atas–karena asrama di SMP ini menggunakan ranjang bertingkat untuk para siswa–dan di sebelah ranjang atas Joko terdapat sebuah ventilasi yang mengarah langsung ke area luar–yaitu taman asrama.
Malam hari di saat Joko tidak bisa tidur, Joko merasa kebelet ingin buang air kecil, beranjaklah ia menuju kamar mandi. Selesai dengan urusan buang air kecil, keluarlah Joko dari kamar mandi tersebut.
Namun saat akan kembali ke ranjangnya, Joko mendengar pompa air merek sanyo yang mengarah ke kamar mandi itu berbunyi, bergegaslah Joko keluar kamar untuk mematikan pompa air tersebut karena tombolnya ada di luar kamar. Kemudian kembalilah Joko menuju ranjangnya dan berusaha untuk tidur.
Setengah merebahkan badan, Joko mendengar pompa air itu berbunyi lagi–padahal ia merasa tadi sudah dimatikan. Joko keluar lagi untuk mematikan pompa air tersebut dan kembali lagi ke kamarnya.
Setelah aktivitas berulang mematikan pompa air tersebut, akhirnya pompa air itu tidak berbunyi lagi. Joko merasa lega, tetapi suasana kamar tetap hening karena semua telah tidur dan hanya dia yang masih terjaga.
Saat akan memejamkan mata, Joko malah mendengar suara janggal dari luar. Terdengar suara “Ting.. ting!” yang berulang. Suara tersebut adalah tiang listrik di taman asrama yang sengaja dipukul menggunakan sebuah sendok atau kayu atau benda yang bisa menimbulkan suara.
Karena penasaran dengan suara itu, Joko bergegas melihat keluar melalui ventilasi di sebelah ranjangnya. Terlihat “dua anak kecil” yang memandang ke arah Joko.
Baca juga: Ketika Trauma Diterjemahkan ke Layar Lebar: Menilik Adaptasi Heartbreak Motel
Hal tak terduga datang menghampiri Joko malam itu juga. Setelah melihat “dua anak kecil” tersebut, Joko mendadak kesurupan parah hingga melompat dari ranjangnya sendiri. Kejadian malam itu cukup menggemparkan satu kamar bahkan asrama laki-laki.
Tak berhenti di situ, kejadian horor seperti ini masih dialami lagi oleh siswa lain di asrama. Di malam berikutnya, teman Tono yang lain bernama Daniel merasa lapar. Selayaknya orang lapar, bergegaslah Daniel menuju dapur asrama untuk makan dan mengisi perutnya yang keroncongan.
Di dapur asrama ini, Daniel sendirian dan memilih meja untuk makan di bagian pojok dekat wastafel. Tiba di dapur, Daniel tidak menghidupkan semua lampu dapur, hanya lampu yang letaknya di atas meja yang akan Daniel gunakan untuk makan yang dihidupkan.
Makanlah Daniel dengan tenang, meski sendirian ia tidak merasa takut atau apa pun. Singkat cerita seusai makan, Daniel bergegas menuju wastafel untuk mencuci piring. Di saat Daniel setengah jalan mencuci piring, Daniel merasa ada yang memanggil namanya.
“Daniel.. daniel…” suara tersebut terdengar jelas memanggil namanya meski lirih, tetapi berulang. Daniel merasa suaranya berasal dari pintu dapur. Setengah berani, Daniel mencoba menoleh ke belakang, mencari tahu siapa yang sedang memanggilnya.
Tatapan Daniel jatuh di meja makan bagian pojok dapur. Dengan lampu remang-remang itu, Daniel melihat ada “dua anak kecil” tengah duduk dan tersenyum seram sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Anak kecil itu adalah sosok yang sama seperti yang dilihat Joko kemarin.
Merasa takut, Daniel akhirnya berlari pergi meninggalkan cuciannya itu. Keesokan harinya, seorang suster asrama menemukan bekas cucian piring yang belum selesai di wastafel. Suster pun bertanya kepada para siswa siapa yang semalam habis makan dan cuciannya belum selesai.
Daniel pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada suster tersebut. Pada akhirnya, menurut pengakuan anak asrama di SMP itu wastafel tersebut tidak lagi digunakan sampai sekarang.
Editor: Yemima Christia Dewi
Thumbnail: Canva (Tim Artistik Bengkel Jurnalistik)















