Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Seriboe Djendela (TSD) Universitas Sanata Dharma kembali menggelar Studi Pentas (Stupen) jilid ke-2. “Anak Rantau” adalah parade ke-2 studi pentas dalam rangkaian Parade 3 Warna. Acara ini digelar pada hari Kamis, 13 November 2025 pukul 18.00 WIB di Studio Banjarmili, terbuka untuk umum dan biaya masuknya gratis.
Stupen sendiri adalah akronim dari Studi Pentas yang menjadi wadah eksplorasi kaidah dasar dan konvensi pertunjukan teater dengan gaya realis. Stupen ini menjadi ruang pertemuan bagi para pembuat karya dengan penonton untuk mendiskusikan capaian artistik dan tafsir yang muncul dari pertunjukan.

Parade Stupen sendiri merupakan program tahunan TSD yang menjadi wadah latihan dan pementasan bagi anggota Teater Seriboe Djendela untuk menerapkan hal-hal yang telah mereka pelajari selama proses berkarya. Stupen ini bukan hanya soal tampil di panggung, tetapi juga tentang bagaimana anggota TSD belajar memahami kerja tim, menumbuhkan kepekaan artistik, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai pelaku dalam dunia teater.
Penampilan teater Anak Rantau karya Dian Tri Lestari adalah penampilan Stupen hari kedua. Hari pertama Studi Pentas TSD telah terlaksana pada hari Selasa, 11 November 2025 pada tempat dan waktu yang sama dengan judul teater Aduh Ujang karya Jhoni Habibie.
Registrasi penonton dimulai pada pukul 17.30 – 18.10 WIB hingga akhirnya pertunjukan teater dimulai. Sebelum memasuki penampilan inti, acara ini dibuka oleh Athaya Sekar selaku master of ceremony (MC) pada sore hari ini. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Johanes Baptis Judha Jiwangga, M.Pd. selalu dosen pendamping UKM Teater Seriboe Djendela sekaligus Produser Studi Pentas #2.
Penampilan hari kedua ini menghadirkan teater berjudul Anak Rantau yang berlatar Borneo, Kalimantan Barat. Teater ini menceritakan kepulangan Amar, seorang putra daerah suku Melayu yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri. Kedatangannya membawa perdebatan antara cara pandang budaya timur dan budaya barat di kampungnya.
“Kami menyiapkan Stupen ini selama dua bulan, dan teman-teman yang menonton nantinya akan bernostalgia seperti menonton kartun Upin Ipin karena dialeknya yang Melayu,” ungkap Judha Jiwangga selaku produser pada pementasan sore ini. Pukul 18.20 WIB, riuh tepuk tangan penonton menjadi pertanda dimulainya teater Anak Rantau.
Selama pertunjukan, para penonton tampak menikmati alur cerita dan memberikan respon sesuai yang mereka rasakan selama menonton. Banyak penonton yang tertawa karena lucunya jalan cerita. Karena berlatar Melayu, dialog dalam cerita pun banyak menggunakan pantun sebagai pemanisnya.
Pergulatan adat istiadat menjadi kunci dari tema cerita Anak Rantau dan ending dari cerita ini menyedihkan. Para penonton ikut terbawa suasana dengan kesedihan tokoh Amar.
Pada akhirnya, Studi Pentas hari kedua ini selesai pada pukul 19.45 WIB yang kemudian diakhiri dengan diskusi hangat bersama para aktor dan kru. Diskusi ini membahas proses dan dinamika mereka dalam menyiapkan pementasan.
“Saya sebagai sutradara memilih ending tersebut (menyedihkan) yang berbeda dari naskah asli, di mana naskah aslinya itu ending-nya gantung, dan saya memilih ending ini karena ada hal yang ingin saya sampaikan, yaitu bahwa seorang anak rantau yang kembali ke rumah setelah perjalanan jauh harap selalu ingat kalau sejauh apapun kita pergi ke negeri orang, jangan lupa pulang, jangan lupa kembali ke rumah, karena di rumah ada orang-orang yang menunggu kita pulang,” ungkap Citra selaku sutradara dalam diskusi malam ini.

Dalam diskusi ini, para pemain menceritakan proses mereka dalam memainkan peran yang dianggap cukup sulit karena masih permulaan. Salah satu tokoh yang mencuri perhatian adalah tokoh Wak Minah yang benar-benar totalitas dalam perannya. “Cara saya mendalami peran sejauh ini sih dengan memperhatikan orang tua umur 70-an lebih karena peran saya di umur segitu,” jelas Khairu Nisa’ yang memerankan tokoh Wak Minah ini.
Stupen #2 ini diikuti oleh 74 anggota aktif UKM TSD yang dibagi menjadi tiga pertunjukan realis dengan judul yang berbeda, yaitu Aduh Ujang pada parade pertama, Anak Rantau pada parade kedua, dan Tumirah (Sang Mucikari) pada parade ketiga. Melalui stupen Parade 3 Warna ini, penonton diajak melihat bagaimana satu panggung bisa menghadirkan beragam perspektif dari warna kehidupan manusia.
Pertunjukan parade kedua ini terdiri dari orang-orang hebat dan kompeten untuk suksesnya acara ini. Di antaranya adalah Judha Jiwangga sebagai produser yang menggandeng Awang Budiman sebagai asistennya, Ephifania Citra sebagai sutradara, dan Hasry Ageng sebagai stage manager.
Baca Juga : ELITE 2025 Hadirkan “Cosmic Carousel”, Kanvas Kreasi Tanpa Batas
Sementara itu, jejeran aktor yang berhasil memainkan perannya dengan apik, yaitu Y.D. Mudamakin sebagai Amar, Aurelia Wulandari sebagai Wulan, kemudian ada Cantika Oktanian sebagai Nah, Elisabeth Masayu sebagai Kamelia, Yosafat Anandya sebagai Tok Lat, Wilson Pandapotan sebagai Pak Ngah, Elisabeth Yola sebagai Mak Long, Marcelino Jumaia sebagai Salim, Gabriel Kevin sebagai Jadam, Scolastica Amara sebagai Asnah, Varenta Meila sebagai Siti, Khairu Nisa’ sebagai Wak Minah, Valentina Dara sebagai Zubaedah, dan Rian Matarau sebagai Jumaia.
Selain aktor, ada orang-orang hebat yang bekerja di balik layar. Kru dalam teater Anak Rantau yang bekerja pada tata panggung, yaitu Nanda dan Lela, di bagian tata lampu ada Thomas, tata suara ada Komang, Cornelia, dan Daniel, kemudian tata rias dan busana ada Meiyona, Elfrida, dan Bernadetha.
“Jujur teater malam ini keren banget, aku tersentuh pas bagian ayahnya meninggal dan adik Amar yang marah ke abangnya kalau pas di rumah itu yang sering dicari si abang padahal dia lagi merantau, sementara yang ada di rumah jarang dicariin, sebagai anak pertama aku cukup sedih dengan bagian itu,” komentar Leyna, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma yang hadir sebagai penonton.
Editor : Helena Setiasari
