Di Ujung Malam yang Tenang 

Malam merayap perlahan ke tiap sudut kota,Membawa angin yang menyentuh jendela dengan lembut.Di keheningan itu, aku mendengar suaraku sendiri,Berbicara tentang mimpi yang tertinggal di masa muda.Ada cahaya lampu yang berpendar pelan,Seolah menjaga langkahku yang mulai letih. Di luar sana, bintang-bintang menggantung rendah,Menjadi saksi perjalanan yang tak selalu mudah.Aku menatap mereka lama,Berusaha menemukan arah dari kerlipnya.Namun…

Malam merayap perlahan ke tiap sudut kota,
Membawa angin yang menyentuh jendela dengan lembut.
Di keheningan itu, aku mendengar suaraku sendiri,
Berbicara tentang mimpi yang tertinggal di masa muda.
Ada cahaya lampu yang berpendar pelan,
Seolah menjaga langkahku yang mulai letih.

Di luar sana, bintang-bintang menggantung rendah,
Menjadi saksi perjalanan yang tak selalu mudah.
Aku menatap mereka lama,
Berusaha menemukan arah dari kerlipnya.
Namun langit hanya tersenyum tipis,
Seakan berkata: “Temukan jawabannya di dalam dirimu.”

Waktu berjalan seperti detak jam yang tak kenal henti,
Mengiris perlahan namun pasti.
Ada bagian diriku yang ingin berhenti sejenak,
Sekadar menghela napas dari riuh kehidupan.
Tetapi malam mengingatkan dengan lembut,
Bahwa diam pun adalah bentuk keberanian.

Saat fajar mulai mengintip dari balik horizon,
Kupungut sisa-sisa tenang yang terserak di lantai malam.
Kusimpan dalam saku harapan,
Untuk menemani langkahku yang baru.
Mungkin hari ini tak sempurna,
Tapi setidaknya aku tak lagi berjalan sendirian.

Thumbnail by Pinterses Nastasyasemenova

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *