Merantau adalah sebuah perjalanan seseorang menuju tempat tertentu dengan maksud tertentu, biasanya karena pekerjaan, menuntut ilmu, ataupun mencari uang. Istilah merantau tidak lagi asing bagi kalangan kaum muda zaman sekarang, terutama para mahasiswa. Banyak orang memilih untuk merantau dari kota satu ke kota lain karena tuntutan dan bentuk dari tanggung jawab.
Pada liputan kali ini, terdapat fokus pembahasan tentang merantau di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma. Salah satu kos khusus putri di Gang Gatotkaca, Mrican, yang tak jauh dari Kampus I Sanata Dharma, terdapat beberapa mahasiswa perantau yang masih baru dan yang sudah cukup lama tinggal di kos tersebut. Kos Pak Hepi yang berisi enam kamar ini didominasi oleh mahasiswa Sanata Dharma, mulai dari mahasiswa baru (maba) angkatan 2024 hingga mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsinya. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar Pulau Jawa, tetapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang berasal dari Jawa Tengah yang tidak jauh dari Kota Yogyakarta.
Sebagai seorang mahasiswa, tuntutan mengemban ilmu hingga harus meninggalkan kampung halaman adalah benar adanya. Tidak peduli jauh atau dekat tempat tinggal asal, merantau dan hidup sendiri adalah jalan satu-satunya yang dipilih para mahasiswa untuk menghemat waktu dan keperluan lainnya. Tentu banyak rintangan dan suka duka yang dirasakan oleh setiap perantau.
Mahasiswa perantau yang memilih hidup sendiri di kos, pasti tidak asing lagi dengan istilah homesick. Homesick adalah perasaan rindu dan sedih karena jauh dari rumah atau keluarga. Perasaan ini sering kali disertai dengan kecemasan, kegelisahan, dan keinginan untuk segera kembali ke tempat yang familiar. Homesick ini dapat terjadi pada siapa saja, terutama ketika seseorang harus tinggal jauh dari rumah untuk waktu yang lama, misalnya karena kuliah, kerja, atau pindah ke tempat baru.
Homesick menjadi salah satu tantangan berat bagi kebanyakan mahasiswa. Menurut narasumber di kos Pak Hepi, hampir semua anak kos mengalami homesick di awal kepindahan mereka atau terkadang perasaan rindu rumah itu kerap kali datang secara tiba-tiba dan itu mereka anggap sebagai hal yang normal.
“Ya ngerasa homesick pastilah. Aku rasa itu hal yang normal terjadi pada anak-anak rantau karena di rantau kita hidup sendiri, apa-apa sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, semuanya. Merindukan suasana rumah, itu normal-normal aja karena ya di rumah kita selalu punya rasa aman dan nyaman, ada orangtua yang ngurus, ada saudara yang menemani, di rantau kita benar-benar dituntut untuk bisa jadi pribadi yang lebih berani dan mandiri. Tapi itu tidak menjadikan aku menyerah sih. Ku biarkan saja dulu merindu suasana rumah, setelah itu jadikan kekuatan untuk terus berjalan di rantau dan fokus sama tujuan awal aku datang ke kota ini,” Jelas Andriany Welarunu, mahasiswa akhir Program Studi Sastra Inggris asal Sumatera yang sudah tiga tahun merantau di Yogyakarta.
Baca Juga: Mahasiswa USD Bisa Lulus tanpa Skripsi dengan Tugas Akhir Kreatif
Selain mahasiswa luar Jawa, mahasiswa yang rumahnya tidak jauh dari Yogyakarta tetapi memilih indekos saat berkuliah juga tetap merasakan hal yang sama. Salah satunya adalah mahasiswa asal Magelang ini, yang baru sembilan bulan ngekos dan sering pulang ke rumah, tetapi tetap saja merasakan homesick setiap minggunya.
“Walaupun hanya berjarak kurang lebih satu jam dengan rumah, tapi aku tetap merasakan homesick. Caraku mengatasinya yaitu sebelum pulang ke rumah biasanya video call dengan orang rumah, lalu menyibukkan diri agar tidak ingat rumah dan main dengan teman-teman terdekat. Selain itu, bercerita ke teman terdekat juga salah satu cara paling ampuh saat stres jauh dari rumah, kemudian healing ke tempat-tempat baru dan mencoba hal baru. Aku juga tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan aktif pada kegiatan kampus menurutku efektif dalam mencegah stres,” komentar Paulina Angel, mahasiswa semester dua Program Studi Akuntansi.
Tekanan pada setiap orang dalam mengalami tantangan di perantauan pasti berbeda jenis dan rasanya. Seiring bertambah dewasa, setiap individu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan setiap tantangan tersebut. Selain pegawai atau karyawan, mahasiswa juga sering kali merasa bekerja di bawah tekanan. Fisik dan mental acap kali dipertaruhkan.
“Ya aku jalanin aja aktivitas secara biasa. Anggap aja ini latihan biar besok waktu kerja rantau ga kaget banget. Mungkin lebih ke sadar diri, di sini cuman sendiri ga bisa bergantung sama orang tua jadi ya mandiri aja,” Jelas Maria Tatag, mahasiswa semester enam Program Studi Sastra Indonesia saat ditanyai caranya dalam menghadapi tantangan di perantauan selama hampir tiga tahun hidup di kos.
“Waktu pertama kali masih bingung kalau mau keluar ga tau jalan, kalau sekarang sudah lebih enak karena sudah banyak kenalan, udah banyak tahu tentang hal-hal yang ada di sini (Yogyakarta). Lalu kalau adalah masalah dan tekanan, aku mau mencari solusi dari masalah tersebut dan selalu mengingat apa tujuan awal aku untuk datang ke kota ini,” tutup Remalia Ginting mahasiswa semester dua Program Studi Akuntansi pada wawancara mengenai tantangan dan suka duka satu tahun hidup sendiri di perantauan.
Dari keempat narasumber, dapat diketahui bahwa tantangan dan perasaan setiap individu berbeda-beda dalam menanggapi homesick atau masalah lain di perantauan. Dua mahasiswa luar Jawa dan dua mahasiswa Jawa Tengah sama-sama merasakan homesick di perantauan. Jadi, homesick adalah perasaan normal dan wajar untuk dialami setiap mahasiswa, baik semester awal maupun akhir dan tak kenal rumahnya jauh ataupun dekat.
Selain itu, mereka merasa tidak kehilangan budaya atau kultur asli dari daerah masing-masing dan kebiasaan di perantauan tidak jauh berbeda dengan kebiasaan di kampung halaman. Ada dampak positif dan negatif dari hidup indekos yang hampir sama mereka rasakan. Dampak positif merantau bagi mereka yaitu mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berani, mandiri, lebih produktif, merasa memiliki pemikiran yang lebih luas, kreatif, dan realistis. Dampak negatifnya yaitu mereka sering merasa kesepian, jam tidur yang berantakan, dan pengeluaran yang membengkak.
Editor: Fransiska Meiliana Martani
