Cerita ini adalah kisah seram yang pernah aku alami. Aku sebenarnya tidak pernah percaya pada hal-hal gaib, sampai kejadian pada hari itu mengubah segalanya. Hari itu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan setiap kali waktu magrib tiba. Aku sering pergi ke masjid untuk melaksanakan salat. Suatu malam, tepatnya pada malam Jumat Kliwon, aku ingat betul pesan dari bunda yang selalu mengingatkanku, “Kalau pulang, jangan mampir-mampir, ya. Jangan aneh-aneh.” Pesan itu selalu terngiang di telingaku. Untuk menanggapi pesan bunda, aku hanya mengangguk dan berjanji untuk langsung pulang setelah salat.
Di masjid, aku bertemu dengan beberapa kakak kelas yang melaksanakan salat. Setelah selesai melaksanakan salat magrib, aku tidak langsung pulang. Aku memutuskan untuk bertegur sapa dengan kakak kelas yang kutemui. Kami pun terlibat dalam obrolan ringan yang membuatku lupa waktu. Sekitar 10—15 menit berlalu sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Jalan pulangku melewati kamar mandi sekolah yang terletak di samping masjid, dari situ aku harus melewati gang kecil untuk menuju ke rumah.
Baca Juga: Disesatkan oleh Penunggu Gunung
Saat melewati kamar mandi sekolah yang dikenal angker, rasa penasaranku tiba-tiba muncul. Iseng, aku melirik ke dalam. Ada tiga bilik di sana, dan anehnya hanya lampu di bilik tengah yang menyala. Tanpa pikir panjang, aku melangkah mendekat. Ketika mengintip lewat celah pintu, jantungku seketika berdegup kencang. Dari tempatku mengintip, aku samar-samar melihat kain putih yang berdiri seolah sedang dikenakan oleh seseorang. Anehnya, kain itu hanya diam tanpa bergerak walaupun ada angin. Awalnya aku berpikir itu hanya orang yang sedang iseng saja. Tapi saat kulihat lebih jelas, yang kulihat barusan bukan sekadar kain, melainkan sesosok makhluk gaib. Menurut perkiraanku sosok itu adalah kuntilanak. Lebih parahnya, kuntilanak itu tidak memiliki kepala. Sialnya pada saat itu tubuhku tiba-tiba membeku dan tidak dapat digerakkan.
Ketakutan melanda diriku. Sosok itu tiba-tiba menembus dinding belakang bilik, dan seketika itu juga, aku merasakan dorongan kuat untuk segera pergi. Tanpa berpikir panjang, aku berlari secepat mungkin menuju rumah. Setibanya di rumah, aku langsung menceritakan kejadian mengerikan yang aku alami kepada bunda. Dia mendengarkan dengan saksama, dan saat aku selesai bercerita, tetangga kami yang mendengar pun ikut menambahkan cerita. Dia mengatakan bahwa di tempat itu memang pernah terjadi kejadian tragis, di mana ada seseorang yang gantung diri. Mendengar hal itu, bulu kudukku merinding, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi melewati kamar mandi sekolah sendirian, terutama di malam hari. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagiku untuk selalu menghormati pesan bunda dan tidak mengabaikan instingku.
Cerita Dari: Adam Loki Mozart Ventura
Editor : Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu
