Pada 26 Maret 2025, Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sanata Dharma melaksanakan Seminar Kesehatan Mental yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa Universitas Sanata Dharma dalam menjaga kesehatan mental di era digital dengan tema “Mindful Living”.

Seminar ini dilaksanakan di Ruang Koendjono, Gedung BAA lantai 4. Ibu Olga Sancaya M.Si., M.PSi., Psikolog yang merupakan dosen Psikologi menjadi narasumber pada hari ini.
Acara diawali dengan doa pembuka, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Sanata Dharma, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Presiden Mahasiswa BEM USD periode 2024/2025, serta sambutan Wakil Rektor III, Dr. Titik Kristiyanti, M.Psi.
Sesi materi dimoderatori oleh Valentinus Rahma Saputra. Narasumber pada malam ini, Ibu Olga adalah seorang Psikolog dengan latar belakang pendidikan yang kuat di bidang Psikologi dan Ketahanan Nasional. Saat ini beliau aktif sebagai dosen di Sanata Dharma sejak 2023. Ibu Olga memiliki minat khusus dalam geopolitik, sosial budaya, dan klinis dengan perspektif psikologi.
Social Media VS Mental Health

Ibu Olga menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan orang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitas mereka.
Dijelaskan pula kajian-kajian tentang dampak media sosial pada kesehatan mental, antara lain: media sosial menciptakan tekanan sosialnya sendiri, paparan terus-menerus menyebabkan kita memperoleh satu cara/situasi/kondisi negatif ‘seseorang’, dan interaksi sosial tatap muka yang tergantikan oleh media sosial bisa menyebabkan kesepian yang lebih besar dan memperburuk gejala mental.
Istilah Fear Missing Out (FOMO) ditekankan pada sesi ini. FOMO dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk merasa terhubung, diakui, dan diterima/masuk di dalam kelompok sosial. Manusia menjadi rentan membandingkan diri dengan sosial: masalah pada kepercayaan diri dan harga diri.
Ibu Olga juga meng-highlight sistem penghargaan dopamin otak. Otak terprogram untuk mencari hal baru dan hadiah. Gadget dengan aksesnya terhadap media digital dan games menjadi sumber berkumpulnya stimulasi konstan. Dopamin dipicu oleh fungsi otak kita untuk mencari dan menjelajah, yang memberi tahu kita saat melihat informasi di media sosial, seolah-olah otak kita akan berbicara “Hei, perhatikan ini, ada sesuatu yang baru.!”
Kabar buruknya, otak kita tidak dapat memproses jutaan perbandingan yang dituntut oleh dunia virtual sehingga membuat otak kita kewalahan dan berada di dalam posisi ketidakberdayaan. Namun, setelah selesai, otak mengalami kekurangan dopamin setelah dosis dopamin yang sangat tinggi di media sosial.

Ibu Olga memberikan beberapa tips untuk membangun hubungan yang sehat dengan media sosial; fokus pada aktivitas yang memberikan kepuasan alami dan berkelanjutan, seperti olahraga, membaca, atau interaksi sosial langsung, lalu belajar bertahan menghadapi kebosanan atau kecemasan tanpa melarikan diri ke stimulasi instan, dan yang paling penting adalah dopamin detox.
Baca juga: MANTRA MALAM-MALAM VOL IV: MENYUARAKAN ISU POLITIK MELALUI KARYA SASTRA
Setelah pemaparan materi, moderator mengajak para peserta untuk refleksi diri, lewat sebuah panduan refleksi yang diberikan narasumber, peserta diajak merenung dan berdiskusi terkait dengan memahami kondisi mental masing-masing. Ibu Olga dengan bijak dan profesional menanggapi sharing para peserta mengenai keluhan dan pertanyaan masing-masing.
Seminar ditutup dengan penyerahan plakat kepada Ibu Olga, doa penutup, dan yang terakhir adalah foto bersama.

“Menurut aku seminar kali ini insightful banget karena, yang pertama dari narasumbernya menurut aku bener-bener kompeten, sampai akhirnya aku mau menanyakan pertanyaan aku yang pada akhirnya kejawab, dan dari pertanyaan temen-temen lain aku jadi paham, gitu, gimana, sih, menghadapi masalah yang benar-benar memberikan efek negatif ke otak kita. Pemaparan materinya juga oke banget. Keren,” tanggap Lani, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 22.
Editor: Olivya Permata Agustina
