Aku seorang mahasiswa semester tua yang sudah harus mulai bergelut dengan skripsi. Demi berhemat dan dapat banyak referensi, aku memutuskan mengerjakannya di kampus, sekalian memanfaatkan fasilitas yang sudah kubayar lewat uang kuliah tunggal (UKT). Jadilah sore ini aku pergi ke perpustakaan.
Perpustakaan kampusku ada tiga lantai, plus basement. Sore itu, aku memilih untuk turun ke basement, cari tempat yang hening dan nggak terlalu ramai supaya bisa lebih fokus dan nyaman. Benar saja, di bawah nggak begitu banyak orang yang mengerjakan tugas atau baca buku, jadi aku leluasa memilih tempat duduk.
Aku langsung menuju spot favoritku yaitu jejeran kursi di pojok ruangan, tempat yang paling nyaman buat fokus. Dan benar saja, aku sangat fokus sampai nggak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. 30 menit lagi perpustakaan akan tutup.
Nggak lama, seorang petugas lewat sambil bawa buku. Ia menata buku di rak buku seperti petugas biasanya dan menyapaku sebelum mengingatkan kalau perpustakaan sebentar lagi tutup. Setelah semua buku yang ia bawa tertata rapi di rak, ia tersenyum dan kembali naik ke lantai atas.
Aku lanjut ngerjain sisa-sisa tugas, kupikir masih ada waktu sedikit sebelum beres-beres. Belum sempat aku menekan tombol turn off laptop, tiba-tiba terdengar suara buku jatuh dari samping. Aku menoleh.
Rupanya ada petugas lain di situ. Bukan yang tadi. Pakaiannya beda, dan yang bikin aku sedikit ngeh, kulitnya putih pucat. Ia tampak sedang merapikan buku, di rak yang sama persis dengan tempat petugas pertama tadi berjalan lewat.
Baca juga: Ibu di Kolam Renang
Aku sempat mikir, “Oh, mungkin ganti shift.” Tapi ada yang aneh, dari tadi nggak ada suara langkah kaki masuk. Padahal lorong menuju rak itu cuma bisa diakses lewat depan tempat dudukku. Kalau ada orang lewat, pasti kelihatan dari sudut mataku.
Aku coba fokus lagi ke laptop, pura-pura sibuk. Tetapi telingaku ini nggak bisa bohong, suara “tuk… tuk…” buku yang dirapikan itu kedengaran terlalu teratur. Terlalu pelan. Seperti nggak ada bobot di tangan yang memegang bukunya.
Aku beranikan diri buat nengok lagi.
Petugas itu masih di situ. Berdiri membelakangiku, merapikan buku di rak yang sama. Tapi kali ini aku sadar satu hal yang bikin bulu kudukku berdiri; dari tadi dia berdiri di depan rak yang sama, di posisi yang sama, sejak aku pertama kali lihat dia, dan bahkan.. buku yang “jatuh” tadi juga masih tergeletak persis di tempat yang sama di lantai.
Nggak ada yang berubah. Seperti nonton video yang di-pause lalu di-play lagi. Aku pelan-pelan beresin barang, coba nggak bikin suara. Tapi begitu ranselku kesenggol kursi dan bunyi klek kecil, gerakan tangan petugas itu berhenti.
Dan dia menoleh.
Bukan menoleh biasa. Lehernya berputar duluan, badannya menyusul belakangan, seperti ada jeda setengah detik yang bikin gerakannya nggak natural. Wajahnya sangat pucat, nyaris nggak ada warna, dan yang paling aku inget sampai sekarang; dia tersenyum.
Persis seperti senyum petugas pertama tadi. Senyum yang sama. Bahkan semakin lebar. Aku nggak nunggu apa-apa lagi. Laptop langsung aku sambar tanpa dimatikan, lari ke tangga secepat yang aku bisa. Sampai lobby, jantungku masih mau copot.
Aku samperin petugas yang jaga meja depan, bertanya soal petugas yang di basement yang bawa buku, yang kulitnya putih banget itu. Petugas itu diem sebentar, terus jawab pelan, ” Basement udah nggak dipakai buat jaga sejak lama, Mbak. Apalagi malam ini yang jaga cuma satu, itu saya. Nggak ada yang turun ke bawah malam-malam kalau bisa dihindari.”
Editor: Sahira















