,

Maman Suherman Mengurai Pergulatan Kreatif: Ketika Sastra Menjadi Suara Sejarah

Yogyakarta – Sastra tidak sekadar menjadi ruang untuk merangkai cerita, tetapi juga medium untuk menyuarakan realitas dan merawat ingatan sejarah. Pandangan tersebut disampaikan penulis, Maman Suherman atau akrab disapa Kang Maman dalam agenda Bincang Bareng Penulis pada Pekan Sastra Sadhar 2026, Sabtu (31/10). Sesi tersebut mengusung tema “Dapur Kreativitas: Maman Suherman dalam Re: dan peRempuan”.…

Yogyakarta – Sastra tidak sekadar menjadi ruang untuk merangkai cerita, tetapi juga medium untuk menyuarakan realitas dan merawat ingatan sejarah. Pandangan tersebut disampaikan penulis, Maman Suherman atau akrab disapa Kang Maman dalam agenda Bincang Bareng Penulis pada Pekan Sastra Sadhar 2026, Sabtu (31/10). Sesi tersebut mengusung tema “Dapur Kreativitas: Maman Suherman dalam Re: dan peRempuan”. Kegiatan ini berlangsung di lantai ground Gedung Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, ini menghadirkan perbincangan mengenai perjalanan kepenulisan dan proses kreatif di balik karya-karya Kang Maman. Perbincangan bedah buku tersebut dipandu oleh moderator acara, Athaya Sekar. Dalam sesi bincang tersebut, Kang Maman menekankan bahwa menulis tidak hanya berkaitan dengan merangkai kata, tetapi juga kepekaan dalam menanggapi persoalan hidup.

Menulis Berangkat dari Kegelisahan

Ia menekankan bahwa gagasan tulisan dapat berangkat dari berbagai peristiwa sederhana. Pengalaman sehari-hari, persoalan sosial, hingga hal-hal yang mengusik pikiran dapat menjadi bahan untuk menulis. Seorang penulis perlu membiasakan diri mengamati dan mengolah pengalaman menjadi tulisan. Salah satu cara yang ia tawarkan untuk mengatasi kebuntuan menulis atau writing block ialah tidak terlalu membebani diri dengan tuntutan menghasilkan tulisan yang sempurna. Menurutnya, kebiasaan menulis perlu dibangun melalui latihan yang berkelanjutan.

“Kalau kita menulis ‘Saya mencintai Jogja’. Selesai. Tetapi jika kita menulis, ada bayangan untuk alinea pertama kata ‘saya’, alinea kelima ada ‘mencintai’, dan alinea kesepuluh ada ‘Jogja’. Di sini, kita dipaksa untuk melawan. Nah, di situ salah satu cara untuk mengatasi writing block. Tuntutan saya harus menulis. Perlancar saja jari-jari untuk menulis, lama-lama terbiasa dengan hal itu. Seperti saya selalu membiasakan sholat lima waktu, mungkin bagi orang yang tidak terbiasa dengan sholat lima waktu, bisa saja berat,” ujar Kang Maman.

Ia juga mengajak peserta untuk lebih peka terhadap sekitar. Bahkan, kejadian yang tampak sederhana dapat menjadi bahan tulisan apabila diamati dengan sudut pandang yang berbeda. 

“Seperti di gerbong luxury, ada orang telpon dengan suara yang kencang. Waktu itu, saya rasanya marah, tetapi mencoba mencurahkan saja dengan menulis soal itu,” tambahnya.

Sastra sebagai Suara Sejarah 

Lebih jauh, pembicaraan mengenai proses kreatif turut mengarah pada tanggung jawab penulis dalam menangkap realitas sosial. Kang Maman mendorong mahasiswa tidak hanya menerima sejarah sebagai sesuatu yang telah selesai dituliskan, tetapi juga berani mempertanyakan berbagai peristiwa dan kontradiksi di dalamnya. Ia menyinggung sejumlah sejarah yang menurutnya dapat menjadi bahan tulisan mahasiswa. Misalnya, peristiwa 1998 dan berbagai pertanyaan mengenai pengakuan terhadap mereka yang terlibat dalam perjuangan pada masa tersebut. 

“Ada diktum yang mengatakan bahwa itu ditulis oleh penguasa. Mungkin mahasiswa sudah muak. Orang-orang yang berjasa pada tahun 1998, kenapa saat ini tidak dimasukkan sebagai pahlawan? Mengapa mahasiswa tidak mencoba menulis kontradiksi itu? Atau di daerah Sanata Dharma, ada Jalan Moses? Kenapa tidak mencoba menulis soal itu?” Tutur Kang Maman.

Menurut Kang Maman, keberanian menulis menjadi penting ketika terdapat realitas yang belum banyak dibicarakan. Sastra dapat menjadi ruang untuk menghadirkan kembali pengalaman dan persoalan yang tidak selalu mendapat tempat dalam narasi sejarah arus utama.

“Kita memasuki ironi. Ketika fakta tak lagi leluasa diucapkan. Di situlah sastra yang bertugas menyampaikan sejarah,” ujar Kang Maman.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam pembahasannya mengenai karya-karya yang mengangkat persoalan sosial dan sejarah. Kang Maman mencontohkan karya Brian Khirsna yang mengangkat persoalan kesehatan mental melalui Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dan karya Leila S. Chudori yang mengemas persoalan sejarah 1998 melalui Laut Bercerita. 

“Teman saya Brian Khrisna, penulis Seporsi Mie Ayam yang sebentar lagi adaptasi buku tersebut akan ditayangkan filmnya. Menulis persoalan mental health. Di sini cobalah kalian mengulik dikit-dikit soal mental health atau seperti Laut Bercerita yang membahas persoalan sejarah di tahun 1998. Andaikan saja penggambaran sejarah bisa seindah Laut Bercerita. Pasti kita akan mudah untuk mengulik persoalan sejarah,” ujar Kang Maman.

Menemukan Suara di Tengah Kemudahan AI

Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Kang Maman turut menyoroti tantangan baru bagi penulis. Kemudahan teknologi dalam menghasilkan tulisan tidak serta-merta menjamin bahwa karya tersebut turut merepresentasikan pemikiran dan pengalaman penulisnya sendiri.

Ia mencontohkan bahwa seseorang dapat meminta AI membuat puisi dengan ciri khas Maman Suherman. Namun, persoalan yang perlu diperhatikan bukan sekadar hasil tulisan, melainkan suara dan gagasan yang terkandung di dalamnya. Apakah hal tersebut sudah mewakili suara kita?

“Kalian bisa membuat puisi ciri khas Maman Suherman. Gampang sekali minta tolong AI, langsung jadi. Tetapi apakah itu berasal dari suara kalian? Ada anak SD diberi soal, nilainya hampir semua sempurna. Namun, yang terjadi gurunya nangis karena ketika gurunya menanyakan kembali soal yang diberikan, ngga ada satupun anak SD yang bisa menjawab,” ujar Kang Maman.

Baca juga: Empat Fakta Menarik tentang Bahasa Indonesia

Menelusuri Makna di Balik Re: dan peRempuan

Perbincangan mengenai proses kreatif Kang Maman tidak dapat dilepaskan dari buku Re: dan peRempuan. Lahirnya karya tersebut berkaitan erat dengan pengalaman Kang Maman ketika melakukan penelitian untuk skripsinya di bidang kriminologi. Ia mengangkat topik pola pemerasan dalam praktik pelacuran lesbian di Jakarta Pusat pada 1987–1989. Dalam proses penelitian tersebut, ia bahkan masuk ke dalam sindikat perdagangan manusia dan selama dua tahun berperan sebagai sopir yang mengantarkan perempuan kepada konsumennya. 

“Skripsi saya di kriminologi adalah pola pemerasan dalam pelacuran lesbian di Jakarta Pusat 1987-1989. Saya masuk ke dalam sindikat perdagangan manusia, menjadi sopir perdagangan manusia, membawa perempuan-perempuan ke konsumennya selama dua tahun sebagai materi skripsi saya,” ungkap Kang Maman.

Pengalaman ini  meninggalkan luka mendalam bagi Kang Maman. Ia mengaku mengalami perubahan emosional setelah menyaksikan berbagai realitas kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan. Bahkan, setelah menyelesaikan skripsi dan menulis Re:, ia harus menjalani pendampingan secara psikologis karena tidak bisa meluapkan perasaan sedih, kecewa, atau marah. 

“Saya mengalami luka yang sangat luar biasa yang sampai baru tahun-tahun ini saya berani buka bahwa setelah skripsi dan setelah menulis novel ini, saya menjadi pasien psikolog dan psikiater karena saya mengalami kerusakan perasaan, saya nggak bisa nangis, saya nggak punya lagi simpati dan empati karena terlalu luka yang saya lihat,” tuturnya.

Pengalaman tersebut kemudian berkelindan dengan proses penciptaan Re: dan peRempuan. Kang Maman menceritakan kembali pertemuan pertamanya dengan Re: di sebuah tempat di bawah hotel pada 1989. Ia menggambarkan tempat tersebut masih menyimpan jejak penggunaan narkotika dan obat-obatan. Dalam pertemuan itu, ia juga menemukan realitas mengenai praktik pengguguran kandungan yang menjadi salah satu persoalan dalam cerita. 

“Bayangkan imajinasinya bagaimana di titik di mana saya pertama kali menemukan Re:, berkumpul di bawah sebuah hotel, di mana di situ ada puntung-puntung ganja dan biji-biji ganja dan sisa-sisa obat-obat pil di tahun 89, apa tujuh? Di 20… oh 89, titik itu masih saya temukan dalam bentuk yang hampir sama. Di mana saya ketemu, terus saya bilang, ‘Kamu mau tahu nggak cara mencari tempat menguburkan kandungan? Jangan untuk dinormalisasi ya, jangan untuk dicontoh’,” jelasnya.

Melalui Re: dan peRempuan, Kang Maman mengangkat pengalaman perempuan yang berhadapan dengan kekerasan seksual, eksploitasi, dan persoalan sosial lainnya. Ia juga mengungkap bahwa terdapat perempuan-perempuan yang datang kepadanya dengan pengalaman serupa dengan Re:. Hal ini memperlihatkan bahwa cerita dalam bukunya tidak berdiri jauh dari kenyataan, melainkan berkelindan dengan pengalaman nyata yang dialami sejumlah perempuan. 

Lebih jauh, kisah-kisah tersebut membawa pembaca pada persoalan perlindungan dan keadilan bagi korban. Persoalan menjadi semakin kompleks ketika mereka yang mengalami kekerasan justru berada posisi rentan dan sulit memperoleh perlindungan. Apakah keadilan benar-benar dapat dirasakan oleh kelompok kecil dan terpinggirkan? Hal inilah yang menjadi refleksi penting dalam pembicaraan tersebut.

Melalui Re: dan peRempuan, Kang Maman memperlihatkan bahwa proses kreatif tidak selalu berangkat dari imajinasi semata. Pengalaman, penelitian, dan perjumpaan langsung dengan realitas dapat menjadi sumber penciptaan sekaligus dorongan untuk menyuarakan persoalan yang kerap terabaikan. Sastra pun hadir bukan hanya untuk menyampaikan cerita, tetapi juga membuka ruang bagi pengalaman manusia yang selama ini sulit didengar. 

Editor: Raras

Thumbnail: Melia

Tentang Penulis

One response to “Maman Suherman Mengurai Pergulatan Kreatif: Ketika Sastra Menjadi Suara Sejarah”

  1. […] Baca juga: Maman Suherman Mengurai Pergulatan Kreatif: Ketika Sastra Menjadi Suara Sejarah […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *