Perempuan yang Direnggut Malam

Ia pulang membawa senyap,bukan oleh malam,tapi oleh tangan-tangan yang tak diundang.Langit di dadanya runtuh tanpa suara,dan dunia pura-pura tak melihat apa yang patah. Ada jejak yang tak tampak di kulit,namun menetap lama di ingatan.Seperti hujan yang jatuh terlalu deras,bukan membasahi,tapi mengikis perlahan rasa aman. Ia belajar menunduk bukan karena lemah,tapi karena dunia sering menatapnya tanpa…

Ia pulang membawa senyap,
bukan oleh malam,
tapi oleh tangan-tangan yang tak diundang.
Langit di dadanya runtuh tanpa suara,
dan dunia pura-pura tak melihat apa yang patah.

Ada jejak yang tak tampak di kulit,
namun menetap lama di ingatan.
Seperti hujan yang jatuh terlalu deras,
bukan membasahi,
tapi mengikis perlahan rasa aman.

Ia belajar menunduk bukan karena lemah,
tapi karena dunia sering menatapnya tanpa izin.
Ia belajar diam,
sebab suaranya kerap dipatahkan,
oleh tanya-tanya yang menyalahkan luka.

Namun dengarlah para bajingan,
di balik tubuh yang gemetar,
ada jiwa yang masih berdiri.
Meski retak, ia tetap utuh.
Meski patah, ia belum hancur.

Sebab perempuan bukan sekadar tempat luka untuk singgah,
ia adalah ladang yang tetap menumbuhkan gandum,
meski diinjak,
meski dilukai,
meski ditinggalkan tanpa permintaan maaf.

Dan suatu hari,
ia akan berdiri tanpa gemetar,
memandang cermin dengan mata yang jujur,
lalu berkata pada dirinya sendiri:

“Aku bukan aib.
Aku adalah perempuan yang bertahan.”

Thumbnail by Pinterest 

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *