Bagiku, rumah Nenek adalah tempat ternyaman dan penuh dengan kenangan yang hangat. Bahkan meskipun aku tidur di kasur, di kursi ruang tamu, atau di gazebo depan, aku selalu bisa tidur dengan nyenyak. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, ketika aku mengajak temanku menginap, ia akan mengalami hal yang cukup menyeramkan. Kisah ini membuatku memandang berbeda rumah Nenek dan ceritanya.
Masa ujian akhir semester, membuat aku dan teman-teman merasa suntuk. Malam disaat di saat kami mengerjakan video sebagai tugas terakhir, tercetuslah wacana untuk pergi berkunjung ke rumah temanku, Tasya, yang ada di Gunungkidul. Dengan tujuan refreshing, langsung saja kami berangkat ke sana dengan tujuan rumah Tasya, lalu menginap di rumah nenekku yang juga ada di Gunungkidul.
Perjalanan berjalan dengan lancar walau hari sudah gelap. Setibanya kami di rumah Tasya, kami bercanda gurau dan bersenang-senang. Rumahnya juga tidak jauh dari rumah nenekku. Mungkin butuh sekitar 20 menit untuk sampai ke rumah nenek dari rumah Tasya. Hari semakin larut, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Kami berangkat melewati hutan dan sampai pada rumah yang ada di tengah pemukiman kota.
Setibanya di rumah Nenek, rumah yang biasanya terasa hangat untukku, kini suasananya terasa berbeda dari biasanya. Rumah joglo tua itu berdiri sunyi, hanya diterangi satu lampu teplok di teras. Nenek sudah tidur, jadi kami masuk pelan-pelan lewat pintu samping yang memang selalu dibiarkan tak terkunci untukku.
“Ini rumahnya adem banget ya,” bisik Tasya sambil melirik ke sekeliling ruang tamu yang penuh foto-foto hitam putih keluarga besar dan foto seorang gadis yang terbuat dari anyaman benang wol. “Tapi kok…berasa kayak ada yang merhatiin gitu?”
Aku tertawa kecil. “Biasa aja itu, mungkin capek habis perjalanan.”
Kami menggelar kasur lipat di ruang tengah, dekat kursi kayu tua peninggalan Kakek. Teman-teman yang lain langsung tertidur pulas begitu kepala menyentuh bantal. Aku sendiri sudah terbiasa, jadi cepat terlelap seperti biasa.
Tengah malam, aku terbangun karena Tasya mengguncang bahuku. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya.
“Ada apa?” bisikku, setengah sadar.
“Sepertinya tadi aku mimpi, tapi rasanya itu semua beneran terjadi. Tadi… tadi aku merasa kebangun karena denger orang manggil-manggil namaku. Suaranya kayak suara Ibu, halus banget, dari arah pintu depan,” katanya terbata. “Tapi pas aku bangun, aku lihat kamu duduk membelakangiku. Pas aku panggil namamu, kamu cuma noleh sambil senyum. Terus kamu berdiri dan mulai menari. Tarian Jawa.”
Aku tertegun. Tarian Jawa? Aku bahkan tidak bisa menari. Suara Tasya mulai bergetar. Ia hampir menangis, “Tiba-tiba…kamu lari ke arahku dan naik ke badanku. Kamu senyum aneh terus mulai mencekik leherku. Napasku sesak banget.”
Baca juga: Satu Galon untuk Empat Lantai, Adil atau Cuma Asal Ada?
Aku terdiam. Setahuku, di rumah Nenek memang ada yang menunggu. Aku dengar cerita itu dari kakak sepupuku yang memang bisa melihat hal tak kasat mata. Tapi, aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan sambutan ini pada orang baru yang kuajak ke sini. Apalagi, tiba-tiba aku melihat ada sesajen di depan kamar Nenek. “Sejak kapan Nenek suka taruh sesajen?”, pikirku.
“Terus,” lanjut Tasya, suaranya makin gemetar. Aku kembali fokus pada cerita Tasya, “kamu tiba-tiba turun dari badanku dan menari sambil jalan ke arah pintu kamar Nenek. Waktu itu, aku juga lihat ada sosok berdiri di ambang pintu kamar itu. Tinggi, pakai kebaya lawas, wajahnya… nggak ada. Kosong. Tapi dia kayak nunduk, kayak lagi mempersilakan aku masuk. Terus dia bilang, ‘Monggo, Nak. Sudah ditunggu.’”
Bulu kudukku langsung berdiri. Aku menoleh ke arah kamar Nenek, pintunya tertutup rapat seperti semula.
“Kamu… kamu masuk?” tanyaku pelan.
Tasya menggeleng cepat. “Nggak. Aku langsung tiduran lagi, membelakangi pintu kamar Nenekmu. Tapi pas aku nengok lagi ke belakang… sosok itu udah nggak ada. Yang ada cuma bau kembang kantil, kuat banget, bercampur sama bau kemenyan.”
Aku mencoba menenangkannya, meski jujur tanganku sendiri mulai dingin. Kami berdua akhirnya duduk terjaga sampai subuh, tak berani memejamkan mata lagi.
Paginya, aku bertanya pada Nenek soal sesajen semalam. Wajah Nenek yang biasanya ramah tiba-tiba berubah serius.
“Itu bukan sesajen Nenek,” katanya pelan, sambil menyeduh teh. “Nenek nggak pernah pasang sesajen. Tapi rumah ini memang selalu ‘menyambut’ tamu yang baru pertama kali datang. Sudah dari dulu begitu, dari zaman buyutmu. Katanya, penunggu rumah ini suka mengecek dulu siapa yang datang. Kalau dianggap baik, dia akan diam saja seperti biasa. Tapi kalau dia sampai ‘menampakkan diri’ dan mengajak masuk kamar itu…itu tandanya dia ingin orang itu tinggal. Selamanya.”
Aku menoleh ke Tasya yang wajahnya sudah pucat sejak awal cerita itu dimulai. Untung ia menolak ajakan sosok itu semalam.
Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi mengajak siapa pun menginap di rumah Nenek, kecuali keluarga sendiri. Dan setiap kali aku pulang ke sana, aku selalu memastikan satu hal sebelum tidur; jangan pernah membuka pintu tengah malam, sekalipun suara yang memanggil terdengar sangat familier dan ramah.
Karena di rumah Nenek, tidak semua yang menyambutmu benar-benar ingin kau pulang dengan selamat.
Cerita terinspirasi dari kisah: Nayanca
Thumbnail by Canva (Tim Artistik Bengkel Jurnalistik)















