Satu Galon untuk Empat Lantai, Adil atau Cuma Asal Ada?

Halo, aku seorang mahasiswa dari salah satu fakultas kampus swasta yang cukup terkenal di Yogyakarta, namanya Fakultas Sastra. Aku seorang mahasiswa yang setiap hari naik turun lantai entah memakai tangga atau lift demi satu hal sederhana: minum air putih.  Melalui tulisan ini, aku ingin menyuarakan keluh kesah yang mungkin juga dirasakan teman-teman di fakultas, yaitu…

Halo, aku seorang mahasiswa dari salah satu fakultas kampus swasta yang cukup terkenal di Yogyakarta, namanya Fakultas Sastra. Aku seorang mahasiswa yang setiap hari naik turun lantai entah memakai tangga atau lift demi satu hal sederhana: minum air putih. 

Melalui tulisan ini, aku ingin menyuarakan keluh kesah yang mungkin juga dirasakan teman-teman di fakultas, yaitu minimnya fasilitas galon air minum di gedung kami. 

Sebagai mahasiswa, membawa tumbler sudah menjadi kebiasaan yang terus didorong kampus sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik. Langkah ini tentu patut diapresiasi karena mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, kebiasaan baik tersebut seharusnya juga diimbangi dengan fasilitas yang memadai.

Fakultas kami memiliki empat lantai, tetapi ironisnya, hanya tersedia satu galon air minum untuk refill yang diletakkan di lantai ground atau lantai dasar. Bagi mahasiswa yang sedang berada di lantai dua, tiga, apalagi empat, ini jelas menjadi persoalan tersendiri. 

Niat hati ingin minum saat haus melanda di sela perkuliahan, yang ada justru harus rela bolak-balik turun tangga, atau bahkan menunggu jeda kelas usai hanya demi seteguk air. 

Bagi sebagian orang, turun ke lantai dasar mungkin bukan persoalan besar. Namun, ketika rasa haus datang di tengah kelas yang padat materi, sementara akses air minum terasa begitu jauh, hal ini tentu mengganggu kenyamanan dan konsentrasi belajar. 

Belum lagi kalau harus mengantre untuk mengisi minum hanya karena hanya terdapat satu titik tempat refill. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memilih menahan haus, menunda mengisi ulang air minum, atau membeli air kemasan karena merasa lebih praktis.

Kondisi ini terasa semakin tidak masuk akal mengingat gedung fakultas kami bertingkat empat. Seharusnya, fasilitas dasar seperti galon air minum bisa disediakan di setiap lantai, bukan hanya menumpuk di satu titik saja. 

Minimnya fasilitas ini juga menimbulkan pertanyaan, apakah pemerataan kebutuhan dasar mahasiswa di setiap lantai sudah benar-benar dipikirkan oleh pihak fakultas? 

Sebab, percuma rasanya jika gedung dibangun megah dan bertingkat-tingkat, namun fasilitas penunjang sesederhana air minum saja tidak merata di setiap lantainya. 

Baca juga: Nol dan Kosong: Mengurai Perbedaan Makna Angka dan Ketiadaan

Padahal, air minum merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas belajar. Tubuh yang terhidrasi dengan baik membantu mahasiswa tetap fokus selama mengikuti perkuliahan. 

Ketika fasilitas isi ulang air minum saja sulit dijangkau, mahasiswa berpotensi kembali membeli air minum dalam kemasan. Akibatnya, tujuan awal untuk menciptakan kampus ramah lingkungan menjadi kurang optimal.

Tentu tidak sedikit mahasiswa yang berharap adanya penambahan titik refill air minum pada setiap lantai. Kehadiran satu galon tambahan di masing-masing lantai mungkin terdengar sederhana, tetapi manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang. 

Mahasiswa tidak perlu lagi turun beberapa lantai hanya untuk mengisi tumbler, sehingga waktu istirahat dapat dimanfaatkan dengan lebih efektif.

Selain memudahkan akses terhadap air minum, penambahan fasilitas ini juga menunjukkan bahwa kampus benar-benar mendukung budaya hidup sehat sekaligus gerakan peduli lingkungan. 

Fasilitas yang mudah dijangkau akan mendorong mahasiswa lebih konsisten membawa tumbler daripada membeli air minum kemasan.

Kampus bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan dasar warganya. Menyediakan akses air minum yang layak dan mudah dijangkau merupakan bentuk perhatian sederhana yang memiliki dampak besar terhadap kenyamanan mahasiswa selama menjalani aktivitas akademik.

Harapannya, pihak fakultas dapat mempertimbangkan penambahan galon isi ulang di setiap lantai gedung. Bukan semata-mata karena mahasiswa enggan berjalan ke lantai dasar, melainkan karena fasilitas yang baik seharusnya mampu mengikuti kebutuhan penggunanya. 

Seteguk air mungkin terlihat sederhana, tetapi akses terhadapnya menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, sehat, dan mendukung aktivitas seluruh civitas akademika. 

Editor: Yemima Christia Dewi

Thumbnail: Pinterest (@a__y___a___09)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *