Payung-payung hitam itu kembali dibuka,
di bawah langit yang terlalu lama pura-pura lupa.
Mereka berdiri tanpa teriak,
tanpa batu, tanpa amarah yang meledak-ledak,
hanya tubuh-tubuh yang setia menjaga luka
agar sejarah tidak dikubur terlalu lama.
Di depan istana,
angin membawa nama-nama
yang pernah dihapus dari percakapan negara.
Nama-nama yang dulu dipanggil ibu mereka sebelum tidur,
nama-nama yang pernah pulang membawa mimpi,
lalu hilang seperti malam menelan jalanan tanpa lampu.
Sudah berapa Kamis yang berlalu?
Sudah berapa musim hujan jatuh di atas payung-payung itu?
Tetapi keadilan masih berjalan pincang,
masih sibuk menghitung untung dan rugi,
sebelum memeluk keluarga yang kehilangan jati diri.
Baca juga: Senja di Ujung Jalan
Pelukan ibu tetap datang di depan gerbang,
dengan rambut yang makin dipenuhi abu waktu,
dengan mata yang menyimpan laut paling sabar,
berdiri sambil membawa foto yang tak pernah bertambah usia.
Sementara negara terus pandai menjahit pidato,
membungkus luka dengan upacara, dan menyuruh sejarah diam
agar tidak mengganggu kenyamanan meja-meja kekuasaan.
Namun ingatan tidak semudah itu dipatahkan.
Ia hidup pada tangan yang menggenggam harapan pada secarik kertas,
hidup di langkah kecil menuju depan istana setiap kamis,
hidup di bawah payung hitam, yang diam-diam suaranya lebih lantang.
Sebab ada kehilangan yang tidak selesai dengan waktu,
ada nama-nama yang tetap mengetuk malam,
dan meminta untuk dipulangkan meski tinggal tulang kenangan.
Dan selama payung-payung hitam itu masih dibuka,
selama masih ada yang menyebut nama-nama yang hilang,
dengan suara gemetar namun utuh,
sejarah akan terus hidup—
meski berkali-kali ingin dibunuh.
Thumbnail by Pinterses















