Aku seorang mahasiswa yang belakangan ini jadi terbiasa mengecek terlebih dahulu sebelum berangkat kuliah, bukan mengecek jadwal kelas, melainkan mengecek apakah lift Gedung Sastra (Gedsas) sedang berfungsi atau tidak.
Melalui tulisan ini, aku ingin menyampaikan keluh kesah yang sepertinya sudah cukup lama dirasakan banyak mahasiswa, yaitu soal lift gedsas yang sering kali mati sebelah.
Gedung Fakultas Sastra sebenarnya hanya memiliki dua unit lift.
Idealnya, kedua lift ini bisa beroperasi secara bergantian agar tidak terlalu padat dan mahasiswa dapat naik turun dengan lancar. Namun kenyataannya, hampir setiap beberapa minggu sekali selalu saja ada salah satu lift yang mengalami kerusakan.
Akibatnya, hanya satu lift yang dapat digunakan untuk menampung seluruh mahasiswa, dosen, hingga staf yang beraktivitas di gedung bertingkat tersebut.
Bisa dibayangkan betapa padatnya kondisi tersebut. Pada pagi hari saat jam masuk kelas, antrean di depan lift bisa mengular cukup panjang ke belakang. Belum lagi saat jam istirahat atau ketika banyak orang harus berpindah lantai secara bersamaan untuk kelas berikutnya.
Sebenarnya ada fasilitas tangga yang bisa digunakan, tetapi siapa yang tidak lelah duluan setelah atau saat akan menaiki ruang kelas di lantai paling atas? Niat hati ingin memangkas waktu dan keringat, malah terjebak harus mengatur ritme napas sesaat.
Waktu tunggu yang seharusnya singkat menjadi jauh lebih lama, hingga akhirnya tidak sedikit mahasiswa yang memilih naik tangga meski melelahkan, demi menghindari keterlambatan masuk kelas.
Baca juga: Nama yang Pernah Ada Kian Berlumut
Persoalan ini menjadi makin serius jika kita mengingat bahwa tidak semua orang dapat dengan mudah naik turun tangga. Mahasiswa dengan keterbatasan fisik, atau misalnya yang sedang cedera kaki, tentu sangat bergantung pada lift untuk mobilitas mereka.
Jika hanya satu lift yang berfungsi dengan baik dan kondisinya pun penuh sesak, bagaimana mereka bisa naik dengan nyaman dan aman?
Hal yang juga lebih disayangkan, kerusakan ini tampaknya sudah menjadi semacam siklus berulang. Lift sempat diperbaiki, beroperasi untuk beberapa waktu, kemudian rusak kembali, diperbaiki lagi, lalu rusak lagi.
Tidak ada penjelasan yang jelas mengenai penyebab kerusakan yang terus berulang ini, atau langkah konkret apa yang sebenarnya diambil agar masalah serupa tidak terus terjadi.
Padahal, keberadaan lift bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan juga menyangkut keamanan dan kelancaran aktivitas perkuliahan.
Ketika mahasiswa harus membuang banyak waktu untuk mengantre lift, atau bahkan kelelahan terlebih dahulu sebelum masuk kelas akibat naik tangga berulang kali, hal ini jelas dapat mengganggu konsentrasi dan energi dalam belajar.
Kami berharap pihak fakultas dapat lebih serius dalam menangani persoalan ini, tidak hanya sebatas perbaikan sementara setiap kali ada laporan kerusakan. Diperlukan perawatan rutin yang benar-benar terjadwal, agar lift tidak mudah mengalami kerusakan berulang.
Dengan demikian, kedua lift yang tersedia dapat benar-benar berfungsi secara maksimal, dan mahasiswa tidak perlu lagi merasa waswas setiap kali hendak menuju lantai atas, apalagi sampai menjadi korban dari fasilitas yang seharusnya mempermudah, bukan justru mempersulit aktivitas sehari-hari.
Editor: Olivya Permata Agustina
Thumbnail: Pinterest (Michael Raibin)















