Tutu Club mementaskan balet yang membawa penonton merasakan pesona dunia Arendelle, Sabtu (22/11). Pertunjukan ini digelar di Auditorium Driyarkara, Kampus II Universitas Sanata Dharma.
Acara ini merupakan agenda tahunan yang sempat terhenti saat pandemi sekitar tahun 2020 hingga 2021 dan kembali bersinar di tahun 2025.

“Melalui UKM Tutu Club, mereka tidak hanya menampilkan seni, namun juga bertumbuh, berkreasi dalam mengembangkan bakatnya,” tutur Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi. selaku Wakil Rektor III.
Diadaptasi dari film Disney Frozen, pertunjukan ini menceritakan perjuangan Anna sebagai seorang adik untuk membawa kakaknya, Elsa, pulang ke Arendelle. Namun, ia harus menghadapi beberapa tantangan yang membuat petualangannya penuh warna.
Para penari Tutu Club berhasil membuat penonton takjub melalui cerita yang dihadirkan lewat gerakan lincah dan anggun. Musik yang mengiringi telah diaransemen ulang secara khusus, untuk memberikan nuansa emosional dan dramatis. Orkestra megah dipadukan dengan melodi-melodi yang familier membangkitkan kembali kenangan indah dari film aslinya.

Kostum yang dikenakan para penari di atas panggung juga tampak detail dan mewah. Gaun biru yang dikenakan Elsa berkilauan seperti taburan kristal es. Sementara itu, gaun Anna menampilkan warna-warna cerah yang mencerminkan semangatnya.
Tata panggung disulap menjadi lanskap Arendelle yang ajaib, dilengkapi proyeksi digital yang menciptakan efek salju dan aurora yang menakjubkan.
“Hal yang membuat aku tertarik menonton pertunjukan balet ini, pertama adalah karena teman-teman saya turut serta dalam penari ataupun kru pada pagelaran Tutu ini. Terus yang kedua, karena tema yang diangkat adalah Frozen, yang di mana itu merupakan salah satu penemuan masa kecil saya, jadi saya tertarik untuk menonton sebagai anak remaja akhir,” ucap Athaya.
“Perasaan saya sangat memuaskan, sangat menyenangkan, dan campur aduk karena setelah saya menonton pertunjukan balet ini, saya merasa bahwa cerita di dalam Frozen: Adventure in Arendelle ini, mempunyai makna lebih dalam daripada sekadar hubungan antara Elsa dan Anna, ataupun Anna dengan orang-orang yang dia temui,” tambahnya.
“Kalau dari tujuan kita sendiri untuk memperkenalkan UKM Tutu kepada orang luar. Kalau di Sanata Dharma itu, UKM balet hanya satu-satunya yang ada di Yogyakarta, dan juga untuk mendukung minat mahasiswa dalam menari balet,” ujar Meri, selaku ketua dari UKM Tutu.
Baca Juga : Tiga Pakaian yang Perlu Ada di Lemari untuk Stok Anak Kuliahan
“Harapan saya ke depannya, Tutu bisa lebih berkembang dari saat ini, supaya banyak peminat lagi yang masuk ke UKM kita,” tambahnya
Nayla dan Nanda, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris yang menonton pagelaran ini turut memberikan komentar.
“Menurut kita sih, itu masih kayak summarized dari film Frozen sendiri,” ucap Nayla.
“Ceritanya seperti ada adaptive meaning-nya, dan sedih. Tapi ending-nya awesome,” tambah Nanda.
Editor : Sahira Diniy Khairun Nisa
Redaktur : Wayan Dehabrita Devi
