Mengambil Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma (USD) memang bukan tujuan awal Sarwo Edi Wardana. Hal ini karena kondisi pribadi yang kurang mendukung dan persiapan yang kurang matang untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Namun, hal tersebut membawa Ardan menjadi lulusan berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Lebih dari itu, laki-laki berdarah Jawa tersebut berhasil mempublikasikan beberapa karya ilmiah di jurnal terindeks Science and Technology Index (Sinta) peringkat 2 .
Ardan mendapatkan informasi terkait Prodi Sastra Indonesia USD melalui biodata Joko Pinurbo, seorang sastrawan lulusan kampus tersebut. Hal itu dilihatnya dalam buku-buku Joko Pinurbo.
“Aku tau Sanata Dharma ada Sastra Indonesia, itu dari buku-bukunya Jokpin (Joko Pinurbo),” ujar Ardan.
Lika-liku transisi dari dunia sekolah ke perkuliahan berhasil membawa Ardan menjadi pribadi yang berkembang. Ia menyadari bahwa dirinya telah berkembang jauh dari pribadinya saat SMA. Hal tersebut dirasakannya setelah menerima beberapa tawaran sekitar tahun 2022. Ardan mengatakan bahwa ia diberikan tawaran untuk bergabung dalam tim digital media milik Prodi Sastra Indonesia untuk mengelola web, seperti menulis dan mengedit. Selain itu, ia juga bergabung dalam tim editor jurnal Sintesis, jurnal Prodi Sastra Indonesia, sebagai asisten editor.
Seiring berjalannya waktu, Ardan merasakan perkembangan dan perubahan dalam ketertarikannya terhadap menulis. Saat itu, ia menyadari masih banyak hal yang bisa dieksplorasi dalam menulis.
Alumni Sastra Indonesia tersebut mengatakan, “Ternyata, bisa dieksplorasi lebih dan mungkin kalau concern-ku (bidang yang menjadi fokus perhatian), aku lebih suka esai-esai kritik sastra, apalagi soal jurnal ilmiah, termasuk juga bentuk-bentuk karya sastra itu sendiri.”
Ardan dan Karya-Karya Ilmiahnya
Selama kuliah, Ardan menghasilkan beberapa karya ilmiah terindeks Sinta. Karya ilmiah pertamanya berhasil terbit dengan judul “Citra Seksualitas dan Politik dalam Puisi Mbeling Karya: Remy Sylado: Kajian Eklektik” pada tahun 2022. Ardan mengatakan bahwa artikel yang terbit di Jurnal Sintesis tersebut mengkaji hubungan seksualitas dan politik dalam Puisi Mbeling.
“Kalau dari (karya ilmiah) pertama, dari Puisi Mbeling, aku emang suka puisi, apalagi yang unik-unik, gitu.” ujar Ardan, menceritakan motivasinya dalam memilih objek penelitian.
Pada tahun 2023, Ardan berhasil mempublikasi artikel “The Paradigm Concept of Javanese’ Anak Polah Bapa Kepradhah in The Story of Murwakala: Levi-Strauss Structuralism” di jurnal Gelar: Jurnal Seni Budaya. Artikel yang terbit di jurnal terindeks Sinta 2 tersebut mengkaji Murwakala. Murwakala merupakan sebuah upacara adat yang berkenaan dengan pagelaran wayang. Pembahasan mengenai Murwakala dalam artikel tersebut tidak sekadar membahas tentang estetika dan makna, tetapi sampai pada pembahasan mengenai cara mempertahankan upacara adat tersebut. Ardan mengatakan bahwa karya ilmiah ini menjadi karya ilmiah paling mengesankan baginya karena berhasil dipublikasi dalam jurnal yang terindeks Sinta 2.
Tak berhenti sampai di situ, publikasi selanjutnya dirasa cukup menantang. Ardan bercerita, “Yang ketiga, soal hegemoni heteronormatif. Ini cukup menantang karena aku harus mempresentasikannya di depan dosen-dosen yang rata-rata emang udah sepuh.”
Karya ilmiah dengan judul “Hegemoni Heteronormatif dalam ‘Antologi Cerita-Cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya’ Karya Norman Erikson Pasaribu” merupakan prosiding yang diterbitkan di jurnal Seminar Nasional Literasi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Semarang. Prosiding adalah kumpulan artikel ilmiah yang dipublikasikan setelah seminar. Ardan mengatakan bahwa karya ilmiah itu dipresentasikannya di hadapan para dosen dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) XLV pada tahun 2023. Ardan, sebagai peserta termuda di sana, mengungkapkan rasa gugupnya ketika membicarakan hal-hal terkait hegemoni heteronormatif dalam presentasinya. Hal itu membuat ia merasa mendapat tatapan yang cukup sinis karena membahas topik yang sensitif.
“Emang heteronormatif mereka. Ketika itu, bener-bener, itu pengalaman yang gila karena bener-bener langsung dapet tatapan yang super sinis. Bayangin kayak, aku disitu paling muda dan membahas isu-isu soal gender, isu-isu soal queerness, gitu,” ujar Ardan.
Pada tahun 2024, Ardan kembali berhasil menerbitkan artikel ilmiah dengan judul “Implikatur dan Maksud Tuturan Berbahasa Jawa dalam Antologi Cerkak Simbar Menjangan Karya Impian Nopitasari”. Artikel tersebut mengkaji implikatur dalam bahasa Jawa dengan antologi Cerkak Simbar Menjangan sebagai objek penelitian.
“Terus, yang terakhir banget, (artikel) ini dari kuliah pragmatik. (Artikelnya membahas) soal implikatur tuturan bahasa Jawa,” tutur Ardan.
Ardan bercerita bahwa semua karya ilmiahnya memang berasal dari tugas-tugas kuliah yang dikembangkan dengan menyesuaikan standar jurnal yang dituju. Bagi Ardan, menyelesaikan tugas kuliah bukan, sekadar berpikir, “yang penting selesai,” melainkan menjadikan tugas tersebut sebagai disiplin untuk terus berkembang sehingga tugas-tugas tersebut menjadi sebuah karya.
“Awalnya iseng-iseng aja (publikasi karya ilmiah), ketika berdinamika bareng (staf lainnya) di jurnal sintesis dan, ya, (ketika) liat tulisan orang-orang, (aku) ada (perasaan) bisa mungkin, nih. Ketika itu, diberi dukungan juga oleh dosen dan yaudah, coba aja dulu, dan, oke, ternyata bisa dan sampai sekarang,” jelas Ardan.
Ardan mengatakan bahwa keempat karya tersebut berasal dari kegelisahan-kegelisahannya ketika sedang mengamati sesuatu. Kegelisahan tersebut diangkat menjadi sebuah karya ilmiah dengan tujuan menjawab persoalan sosial yang ada atau setidaknya menjadi bahan bacaan bagi penelitian selanjutnya.
Ardan membagikan berbagai kesulitan yang dihadapinya selama proses penulisan. Ia mengaku bahwa rasa malas merupakan kendala utama dalam proses penulisan karya ilmiahnya. Selain itu, masalah lainnya, terkait dengan waktu. Hal ini berhubungan dengan statusnya sebagai mahasiswa, kala itu. Ia merasa kesulitan mengatur waktunya dalam menulis artikel ilmiah bersamaan dengan tugas-tugas kuliah maupun saat ulangan akhir semester (UAS). Selain itu, menurut Ardan, sumber bacaan yang terbatas menjadi salah satu penghambat dalam menulis karya Ilmiah. Ardan merasa bahwa USD belum memberikan mahasiswanya akses yang memadai ke jurnal-jurnal internasional, terutama pada jurnal-jurnal berbayar.
Ardan mengatakan “Karena banyak dari mereka (portal jurnal) yang berbayar. Jadi, kita, ibarat kata, (mencari) bajakannya pun susah yang free akses, (pilihan jurnalnya) jadi terbatas banget,” ujar Ardan.
Ketika akses tersebut terbatas, mencari artikel-artikel yang memenuhi kualifikasi referensi tertentu akan sulit.
Ardan pun menambahkan, “Semakin tinggi rangking jurnal itu, semakin tinggi juga tuntutan jurnal itu (dalam menerima artikel). Misal, kek harus jurnal terbaru, lah, jurnal lima tahun terakhir, lah.”
Dampak dari Karya Ilmiah Terbit di Jurnal Terindeks Tinggi
“Seenggak-enggaknya, kita jadi proposal diri kita.”
Berhubungan dengan prestasinya dalam publikasi karya tulis ilmiah, Ardan bercerita mengenai adanya pilihan tugas akhir berupa publikasi artikel. Namun, informasi tersebut baru diketahui setelah ia lulus dengan skripsi. Ia mengatakan bahwa ia tidak menyayangkan hal tersebut karena ia berpikir karya ilmiahnya yang berhasil terbit, setidaknya, dapat dijadikan sebagai proposal diri. Begitulah respons Ardan ketika ditanya mengenai dampak dan manfaat dari publikasinya di jurnal.
Selain itu, ia merasa bahwa semua karya ilmiah tersebut merupakan bentuk dokumentasi pikiran dan gagasannya mengenai fenomena sastra dan bahasa. Dengan mendokumentasikan fenomena-fenomena tersebut, Ardan merasa dapat meningkatkan kemampuannya dalam berpikir kritis dan membaca karya sastra dengan teliti.
“(Aku) jadi seneng mendokumentasikan apa yang kupikir. Kayak, misal, baca novel ini, nih. Padahal novel ini tuh udah ke-publish lama. Misal, aku baru baca dan baru kepikiran sesuatu, ya udah, aku tulis aja, walaupun nanti jadi tulisan mateng atau enggak, ya, setidaknya ini jadi dokumenku, gitu. Ada kebiasaan seperti itu. (Aku merasa) jadi lebih teliti aja,” ujar Ardan.
Lulusan Sastra Indonesia Terbaik Tahun 2023
Selain prestasinya dalam publikasi karya ilmiah, Ardan juga menjadi lulusan terbaik dengan IPK nyaris sempurna, 3,99. Ia senang dengan hasil akhir yang ia raih dalam perkuliahan. Baginya, IPK menjadi bukti perjuangan yang didapat seorang mahasiswa selama mahasiswa tersebut menempuh pendidikan di suatu universitas.
Meskipun begitu, Ardan menambahkan bahwa mahasiswa tidak bisa sekadar mengandalkan IPK dan perlu memiliki kemampuan lainnya.
Ia menyampaikan, “Karena kita kuliah, ya, harus punya skill. Kita harus punya mentalitas, punya kepribadian, punya concern, punya minat apa yang membuat keberlanjutan itu.
Dengan pemikiran dan semangat tersebut, ia berhasil menyelesaikan skripsinya dengan objek penelitian yang berasal dari buku Lakon Carangan. Penentuan objek penelitian tersebut bermula ketika ia sedang bermain di perpustakaan pada masa perkuliahannya antara semester kelima dan keenam. Objek tersebut ia bahas dalam konteks penelitian budaya dengan judul “Tokoh Punakawan dalam Lakon Carangan Karya Surakarta Kajian Dekonstruksi dan Interpretasi Etnografi”. Ia pun berencana untuk memublikasikan skripsi tersebut.
“Aku ambil bidang budaya judulnya ‘Tokoh Punakawan dalam Lakon Sarangan Karya Surakarta Kajian Dekonstruksi dan Interpretasi Etnografi.’ Jadi itu, itu aku kepikiran itu ketika semester lima atau enam ketika aku main-main di perpus (perpustakaan) ada buku soal lakon carangan,” ujar Ardan.
Setelah menemukan objek material, Ardan bergegas melakukan wawancara agar proses pengumpulan data selesai sebelum ia mengikuti pratugas akhir. Hal tersebut dilakukannya karena ia tahu bahwa topik yang ia pilih merupakan topik yang berat sehingga memerlukan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya. Oleh sebab itu, ia memulainya lebih awal.
“Yaudah, nyolong start dan udah wawancara, ketika itu, dan ketika praskripsi, ibaratnya, data-dataku udah lengkap semua, aku tinggal tulis,” jelas Ardan.
Selama proses pengerjaan skripsi, Ardan merasa para dosen mendukungnya secara akademik maupun nonakademik. Ia merasa semua pertanyaanya dan segala curahan hatinya yang berkaitan dengan skripsi didengarkan dan direspons baik oleh para dosen.
“Bahkan sebelum praskripsi pun aku konsultasi, aku curhat-curhat ke dosen pun ditanggapi dengan baik. Diarahkan, dibimbing, dan itu lebih dari sekali, ketika itu, sampe akhirnya wawancara, dan dosen gak cuma menyemangati. Dosen gak cuma ngurusin hal-hal yang cuma pokok-pokok akademik, tapi juga ngerti, oh keadaannya mahasiswa gimana, sih, lagi oke, enggak atau ada masalah,” tutur Ardan.
Sesuatu yang Besar, Berawal dari Hal-Hal yang Disukai
Kesenangannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sastra telah ada sejak ia kecil. Berkat hobinya terhadap sastra, ia dapat menjalani perkuliahan di Prodi Sastra Indonesia dengan lancar karena semua berawal dari kesenangan. Dengan kata lain, Ardan menjalani perkuliahan di Prodi Sastra Indonesia atas dasar kesenangan dan keterkaitan dirinya terhadap sastra itu sendiri.
“Ya, karena emang hobi dari kecil, sih entah karawitan, tari, wayang, emang udah jadi hobi dan kebetulan beberapa aspek itu, itukan berkenaan dengan prodi kita, Prodi Sastra Indonesia, dan, ya itu tadi kalau hal-hal sulit itu diawali dengan menyenangkan dan juga komitmen ya itu bakal jadi seenggak-enggaknya lancar,” ujar Ardan.
Kesenian yang berkaitan dengan sastra yang paling disukai Ardan adalah wayang. Bagi Ardan, wayang merupakan kesenian yang kompleks dan mengandung banyak unsur yang menarik, seperti karawitan, teater, naskah, dan nilai-nilai kebudayaan lainnya yang terkandung menjadi satu dalam kesenian wayang.
“Yang paling, sih, wayang, sih, ya, karena itu udah kompleks banget. Ya, ada karawitan, ya, ada teater, ada bagaimana penggarapan naskah wayang, rupa, bentuk rupa wayang, terus kemudian nilai-nilai budaya, gitu, sih, karena itu kompleks banget,” tutur Ardan.
Hobinya tersebut ia kembangkan dalam sebuah organisasi karawitan. Selama menjalani perkuliahan, Ardan bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan. Ia mulai bergabung menjadi anggota UKM tersebut dari awal semester hingga semester keempat. Selama keaktifannya di UKM Karawitan, ia sempat menjadi pengiring saat acara wisuda, bahkan sampai semester ketujuh ia masih terlibat. Tidak hanya itu, ia juga aktif dalam mengikuti event, seperti pementasan wayang dan lain sebagainya.
Selama menjadi bagian dari UKM Karawitan tersebut, hal yang paling berkesan baginya adalah berpartisipasi dalam mengiringi karawitan di acara wisuda. Hal tersebut menjadi yang paling berkesan bagi Ardan karena pada saat itu, ia masih menjalani perkuliahan secara daring pada semester kedua. Dengan keikutsertaannya tersebut, ia dapat melihat secara langsung prosesi wisuda kakak tingkatnya.
“Event paling mengesankan mungkin ketika pertama kali ikut ngiringi wisuda, sih, karena itu aku masih semester dua, kalau gak salah, dan, ya, awal-awal di kampus, dan kedepannya juga masih setengah-setengah online dan ngerasain langsung gimana proses wisuda,” jelas Ardan.
Kesan dan Harapan untuk Prodi Sastra Indonesia
Sebagai alumni USD, Ardan merasa bahwa Prodi Sastra Indonesia telah membuat dirinya menjadi pribadi yang berkembang. Dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Prodi ia dapat mengeksplorasi hal-hal yang ia suka dan mengembangkannya secara lebih mendalam.
“Yang menarik, kayak, aku ikut tim media digital, aku ikut di tim editor jurnal Sintesis, Pernah diajak pengabdian juga sama dosen, trus itu tadi, sempet ikut-ikut beberapa event di kampus. Terus apa, ya, banyak hal yang buat kita (bisa) gali potensi diri kita di sini, gitu. Kayak misal fasilitas-fasilitas, kita punya multimedia, yang lain, itu bisa manfaatin dan yang aku bersyukur banget punya dosen-dosen yang asik banget, yang bener-bener sengebantu itu dan punya temen-temen yang beragam, yang nemenin selama proses, gitu, sih,” ungkap Ardan.
Selain itu, berkat dukungan dari para dosen, Ardan merasa bahwa dirinya telah sampai pada titik aktualisasi diri yang mampu membuat dirinya lebih berkembang dari sebelumnya.
Ia mengatakan, “Yang paling berkesan adalah ketika aku studi, banyak hal yang mendukung buat aku mengaktualisasikan diriku sendiri, mengeksplorasi apa yang aku suka, dan apa yang diharapkan dan ya bener-bener bisa lebih jauh memahami, menerima, mengenal, dan bahkan mengembangkan diri sendiri lewat Sastra Indonesia,”
Ardan, sebagai alumni yang telah melalui berbagai pengalaman perkuliahan di Prodi Sastra Indonesia, bercerita bahwa metode pembelajaran yang diberikan oleh Prodi Sastra Indonesia sudah sangat baik adanya. Fasilitas yang memadai mendukung pembelajaran meskipun saat itu kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online.
“Sebenarnya, sih, kalau metode pengajaran mungkin beragam, ya. Apa lagi aku alumni online. Jadi apalagi sekarang juga mungkin (metodenya) sudah terakselerasi dengan baik, metode-metode, fasilitas-fasilitas, entah itu bisa di-online-kankah atau media-media yang berbasis online atau hal-hal yang mengenai penulisan kreatif yang lain,” ungkapnya.
Prodi Sastra Indonesia tidak sekadar membentuk mahasiswanya menjadi pintar yang kaku dan hanya memahami teori, tetapi juga membentuk mahasiswanya menjadi lebih berkarakter. Ardan juga mengatakan bahwa Prodi Sastra Indonesia membuat mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, humanis, dan berkembang.
“Di prodi kita juga enggak kolot, enggak yang, sastra yang harus demikian, enggak. Kita semua diapresiasi dan kita dididik untuk menjadi pribadi yang beragam, ya, entah secara akademis, entah secara kreatif, entah dari segi jurnalis, bahkan pendidik, dan lain-lain. Jadi, di sini kita bukan seperti dicetak seperti robot, kamu harus demikian, tapi kita ditempa untuk digali dan mengembangkan diri kita,” ucap Ardan.
Kesan-kesannya tersebut dilanjut dengan pesan untuk para adik tingkatnya yang masih berjuang menjalankan pendidikan di Prodi Sastra Indonesia. Ia mengingatkan kepada adik tingkat untuk tetap fokus dalam menjalankan perkuliahan. Perkuliahan memang bukan pekerjaan yang mudah karena butuh pengorbanan dan niat. Oleh sebab itu, mahasiswa yang masih berjuang dalam perkuliahan harus tetap fokus dan belajar mengenal diri sendiri agar memahami langkah yang harus dilakukan untuk pengembangan diri dan kontribusi terhadap lingkungan karena ia percaya bahwa mahasiswa diutus untuk hal-hal besar.
Ardan juga memberi pesan kepada calon-calon mahasiswa untuk memikirkan betul-betul jurusan yang hendak diambil. Ia menyarankan calon mahasiswa untuk memilih jurusan yang bisa membuat para mahasiswanya berkembang dan berekspresi sehingga tidak hanya terpaku pada satu arah karier.
“Buat calon mahasiswa, pesannya adalah mungkin pilih (jurusan) yang bukan orientasinya aku ingin menjadi sesuatu, tapi sesuatunya hanya satu hal. Jangan. Pilih tempat di mana kita bisa berkembang, berekspresi,” pesan Ardan.
Ardan juga memberikan apresiasi tinggi kepada para dosen yang telah banyak berjasa dalam mendukung perjalan akademiknya. Ia sangat mengapresiasi kontribusi para dosen untuk mahasiswa yang diwujudkan melalui karya-karya mereka. Ardan berharap, semoga para dosen tetap semangat membantu mahasiswanya untuk semakin berkembang sesuai dengan zaman melalui bidang sastra maupun humaniora lainnya.
“Semoga (kontribusi dan dukungan) itu terus berkembang, berkelanjutan, dan tanggap zaman, dan dapat membersamai generasi-generasi muda, generasi-generasi baru, melalui sastra maupun di bidang-bidang humaniora secara umum,” ujar Ardan.
Ardan pun mengucapkan terima kasih kepada USD yang telah membentuk dirinya menjadi mahasiswa dan lulusan yang cerdas dan humanis, sesuai dengan moto USD. Dengan begitu, ia merasa USD tidak sekadar membentuk dirinya menjadi sarjana yang pintar, tetapi juga menjadi pribadai yang memiliki nilai-nilai humaniora sehingga dapat berguna bagi lingkungan dan sesama.
“Yang pertama mungkin, ya, terima kasih atas ideologi besar yang dihidupkan untuk tiap-tiap unit di setiap kampus itu, karena kita punya slogan cerdas dan humanis, kita gak cuma buat bikin pinter apalagi dibikin pinter yang saklek, yang kaku, tapi kita juga harus dinamis pada lingkungan sekitar, dengan sesama walaupun kita di yayasan Katolik, tapi ibaratnya begitu fleksibel dan nilai-nilai yang ditanamkan dari almamater adalah ya itu humanisme bagaimana itu betul-betul berdampak pada setiap warga almamater,” tutur Ardan
Sebagai penutup, Ardan, sang Sarjana Berprestasi, berharap agar Prodi Sastra Indonesia dapat terus berkembang dan sukses sehingga dapat berdampak positif bagi masyarakat. Selain itu, ia juga berharap Prodi bisa terus kuat dengan ideologi humanismenya, memperjuangkan keadilan, dan membebaskan mahasiswanya untuk berekspresi.
“Harapannya terus berkembang, terus maju, terus sukses, terus bisa berdampak pada masyarakat, terus memiliki ideologi yang kuat soal humanisme, soal keadilan, soal ekspresi, kebebasan ekspresi, dan lain-lain untuk, ya, setidak-tidaknya untuk warga almamaternya maupun untuk Indonesia,” ucap Ardan, mengakhiri sesi wawancara bersama anggota Karsa.
