Tubuhnya bukan undangan,
bukan pula alasan yang bisa dibaca sembarang mata.
Sang Puan bukan milik siapa pun,
selain dirinya sendiri.
Kain yang ia kenakan
tak pernah menentukan nilainya,
panjang atau pendek,
terbuka atau tertutup,
tak satu pun mengurangi cahaya yang ia bawa sejak lahir.
Ia berharga bukan karena sopan pandangan orang,
tapi karena ia hidup, bernapas, dan merasa.
Karena jantungnya tahu cara bertahan,
di dunia yang sering menuntutnya untuk diam.
Jika Puan memilih warna, itu bukan permintaan,
jika Puan memilih bentuk, itu bukan izin,
tubuhnya bukan pertanyaan –
yang boleh dijawab dengan tangan orang lain.
Sang Puan bukan alasan,
bukan kesalahan,
bukan undangan bagi siapa pun,
untuk melampaui batas kemanusiaan.
Ia berharga,
bahkan saat dunia menutup mata.
Ia berharga,
bahkan saat suaranya gemetar di kepala.
Ia berharga,
bukan karena apa yang ia kenakan –
tapi karena ia ada tanpa paksaan.
Thumbnail by Pinterest Stacy L















