Generasi Z dan Beban yang Dipikulnya

“Dasar generasi Z, maunya enak doang!”Menjadi generasi Z di hari ini merupakan sesuatu yang tidak mudah. Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi pemalas, apatis, dan serba instan. Label tersebut kerap kali kita jumpai di ruang media sosial, hingga di kehidupan nyata. Lantas, bagaimana label-label ini bisa melekat pada generasi Z?  Masing-masing generasi memiliki perspektif…

“Dasar generasi Z, maunya enak doang!”Menjadi generasi Z di hari ini merupakan sesuatu yang tidak mudah. Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi pemalas, apatis, dan serba instan. Label tersebut kerap kali kita jumpai di ruang media sosial, hingga di kehidupan nyata. Lantas, bagaimana label-label ini bisa melekat pada generasi Z? 

Masing-masing generasi memiliki perspektif dan harapan dengan keunikan masing-masing, begitu pula dengan nilai dan gaya hidup yang mereka pegang (Kartika, 2025). Misalnya generasi Baby Boomer dengan pegangan nilai hidup loyalitas, dan stabilitas-nya. Kemudian beralih ke generasi X dengan nilai hidup berdikari, dan pencapaian material. Sama halnya dengan generasi Y dan generasi Z, mereka juga punya nilai hidup yang unik dan berbeda. 

Jarak perbedaan nilai dan gaya hidup itulah yang kemudian membuat generasi terdahulu cenderung “menghakimi” generasi yang lebih muda. Sebuah studi oleh Protzko dan Schooler dengan tajuk Kids these days: Why the youth of today seem lacking mengungkapkan bahwa terdapat pola penilaian antargenerasi berupa anggapan bahwa generasi baru memiliki “kekurangan” dibandingkan generasi terdahulu. 

Hal tersebut berkaitan erat dengan rasa superioritas masing-masing individu. Sebuah studi menunjukkan bahwasanya banyak individu memiliki kecenderungan untuk merasa dirinya sendiri lebih superior dibandingkan dengan diri orang lain di pelbagai atribut, baik ketika membandingkan masa lalunya, masa kini, maupun masa depan (Kanten & Taigen, 2007, 348). 

Dalam konteks antargenerasi, penilaian semacam “anak zaman sekarang mental tempe” atau “anak sekarang nggak punya moral” mungkin berakar dari pandangan bahwa suatu aspek dari diri mereka sendiri (dan generasi mereka) jauh lebih unggul daripada orang lain (generasi muda saat ini). 

Baca juga: Ibu di Kolam Renang

Beban generasi Z tidak terbatas pada ekspektasi dan penilaian sosial saja, melainkan juga karena mereka lahir di masa pemerintahan yang penuh dengan janji populis semata. Di rezim Prabowo-Gibran, rasa-rasanya generasi Z semakin dibawa ke arah yang kalang kabut. Ekonomi melemah, biaya pendidikan dan hidup meningkat, lapangan pekerjaan terbatas, hingga keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat membawa generasi Z menuju ketidakpastian eksistensial di masa depan.  

Apa yang menjadi beban generasi Z tersebut dapat kita lihat melalui laporan Jakpat bertajuk Gen Z Characteristics & Behaviors Outlook 2026 yang diolah Goodstats. 

Laporan tersebut menunjukkan bahwa faktor atau sumber stress terbesar generasi Z adalah kekhawatiran mereka terhadap masa depan, yakni dengan proporsi sebesar 60% (Husein, 2026). Hasil survei tersebut seakan menunjukkan bahwa di balik label-label negatif kepada generasi Z, ternyata ada permasalahan kompleks yang melekat pada diri mereka.

Label serupa yang melekat pada generasi Z adalah generasi stroberi, label ini menyebutkan bahwa generasi Z merupakan generasi yang terlihat elok dari luar, namun rentan akan tekanan. Penelitian oleh Ana Suryana (2025) justru menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan label tersebut. Dengan segala tantangan multidimensional, generasi Z justru memperlihatkan kemampuan resiliensi dan kreativitas yang tinggi. 

Penelitian tersebut menemukan bahwa 65% responden memiliki tingkat resiliensi yang tinggi, lebih lanjut, tingkat motivasi responden dalam menghadapi tantangan terutama dalam pendidikan dan pengembangan karier mencapai lebih dari 70% (Suryana, 2025, 294-295). Temuan tersebut mengindikasikan bahwa stereotip generasi stroberi justru lahir dari kesenjangan pemahaman antar generasi dan adanya perbedaan konteks hidup setiap generasi. 

Hal lain yang menjadi ironis, walaupun generasi Z dilabeli dengan identitas yang “lemah”, generasi Z selalu ditempatkan dalam ekspektasi besar masa depan bangsa Indonesia. Hal yang cukup mencolok adalah wacana Indonesia Emas 2045, masyarakat sering kali memandang bahwa generasi Z (serta generasi Alpha) merupakan aktor utama dalam mencapai wacana tersebut. 

Secara demografi, memang betul generasi Z dan Alpha merupakan tulang punggung bonus demografi. Usia mereka pada tahun 2045 akan mencapai usia produktif, yang mana mereka akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Namun sayangnya, saat di satu sisi mereka dituntut menjadi generasi unggul, di sisi lain ketika mereka menunjukkan kerentanan justru sering kali dijadikan bahan olok-olokan.

Hal tersebut bisa kita lihat ketika ada satu konten yang menunjukkan kerentanan atau kelemahan generasi Z maupun Alpha, banyak netizen yang berkomentar “ini mah jatuhnya Indonesia Cemas”. 

Sejenak, komentar tersebut mungkin terasa seperti gurauan sekaligus kekhawatiran masyarakat terhadap generasi terkini, namun apakah kita pernah bertanya “sebetulnya sejauh mana pemerintah dan masyarakat sudah bergerak untuk mencapai wacana Indonesia Emas 2045?” Barangkali letak permasalahannya bukan pada generasi muda-nya, melainkan seperti apa lingkungan belajar dan sosial mereka yang membentuk mereka seperti hari ini?.

Kita adalah Produk dari Lingkungan Kita

Pada akhirnya, segala bentuk perbedaan antara Generasi Z  dengan generasi terdahulu merupakan hasil dari pengalaman sosial yang mereka alami. Label seperti generasi Z adalah generasi pemalas, apatis, serba instan, hingga stroberi nyatanya tidak betul-betul representatif. Generasi Z tidak bisa hanya dipandang sebagai samsak amarah, bahan olok-olokan, maupun generasi yang gagal. 

Generasi Z (dan generasi terkini) merupakan kelompok yang harus dibimbing, dibina, dan dibersamai untuk menjadi generasi yang unggul. Karena pada dasarnya, masing-masing generasi tumbuh di konteks sosial yang berbeda-beda. Masing-masing dari kita memiliki kelemahan dan kerentanan yang seharusnya bisa digunakan untuk saling melengkapi.

Oleh karena hal tersebut, sebagai sesama makhluk sosial seharusnya dialog lintas generasi bisa dihadirkan dengan tone yang positif, bukan saling menghakimi semata. Maka alih-alih merasa diri paling benar, menjadi penting untuk kita bisa saling memahami satu sama lain.

Satu kutipan yang mungkin bisa mengakhiri opini ini adalah kutipan dari George Orwell, “The essence of being human is that one does not seek perfection” yang artinya “hakikat menjadi manusia adalah bahwa seseorang tidak mengejar kesempurnaan.” Dalam konteks lintas generasi, barangkali yang kita butuhkan bukanlah generasi yang “sempurna”, melainkan dunia yang memungkinkan setiap orang, baik muda dan tua, untuk bisa saling belajar, bertumbuh, dan memahami.

Daftar Pustaka

Goodreads. (n.d.). Quote by George Orwell: “The essence of being human is that one does not seek perfection…” https://www.goodreads.com/quotes/481715-the-essence-of-being-human-is-that-one-does-not

 Husein, A. N. (2026, April 8). 60% Gen Z di Indonesia Cemas Akan Masa Depan. GoodStats.  https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq

Kanten, A. B., & Taigen, K. H. (2007). Better than average and better with time: relative evaluations of self and others in the past, present, and future. European Journal of Social Psychology, 38(2), 343-353. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ejsp.457K

artika, L. (2025, Maret 18). Ini Perbedaan Generasi X, Y, dan Z di Dunia Kerja Menurut Dosen IPB University. IPB University. https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/03/ini-perbedaan-generasi-x-y-dan-z-di-dunia-kerja-menurut-dosen-ipb-university 

Protzko, J., & Schooler, J. W. (2019). Kids these days: Why the youth of today seem lacking. Science Advances, 5(10). https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.aav5916 

Suryana, A. (2025). Dekonstruksi Label ‘Generasi Stroberi’ pada Generasi Z ; Studi Komprehensif tentang Persepsi Sosial dan Realitas Daya Juang di Era Teknologi. COMTE: Journal of Sociology Research and Education, 1(6), 289-298. https://doi.org/10.64924/kns3ye07

Editor: Olivya

Tentang Penulis

Previous Post

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *