Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan Dialog Kebangsaan bertemakan “Ketika Alam Dirusak, Hak atas Ruang Hidup Dipertaruhkan” pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi wadah kritik mahasiswa terhadap isu saat ini. dengan menghadirkan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Refki Saputra dan Pakar HAM dari UII Dr. Eko Riyadi.
Acara dimulai pukul 14.00 WIB diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan doa bersama serta sambutan dari Ketua Panitia Dialog Kebangsaan dan Wakil Rektor I USD, Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D., menekankan bahwa “Kita hidup di bumi maka kita tanggung jawab untuk menjaga bumi ini apa pun kepercayaan kita.”
Setelah itu dilanjutkan dengan penampilan pembacaan puisi bertema “Indonesia Since 2003” oleh Prisly, serta pemaparan kajian latar belakang dari BEM USD. Sesi ini mempertegas pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap keterkaitan antara perusakan lingkungan dan ancaman terhadap ruang hidup yang layak serta tentang isu penting yang kerap terluput dari perhatian.
Memasuki agenda utama yaitu berdialog yang dimulai dengan membahas isu lingkungan, Dr. Eko Riyadi menegaskan, “Hukum tidak bisa menjadi salah satu cara untuk menjawab persoalan, oleh karena itu mari bersolidaritas dengan lintas agama, lintas sosial, karena apabila Jogja terkena kabut asap yang terkena bukan hanya lintas agama tertentu tapi semua lintas.”
Memasuki sesi tanya jawab, peserta terlihat antusiasme, hal tersebut terlihat dari banyaknya peserta yang saling berebut untuk mengajukan pertanyaan kritis kepada kedua narasumber.
Isu kehutanan tidak lagi hanya dipandang sebagai kerusakan ekologis, melainkan telah bergeser menjadi krisis kemanusiaan karena merampas hak dasar masyarakat atas lingkungan yang sehat.
“Kita masih anggap eksploitasi salah satunya cara paling baik,” ucap Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Refki Saputra.
Baca juga: ELITE 2026: Hadir Menjadi Warna dalam Mimpi
Dialog Kebangsaan menegaskan bahwa “Kerusakan alam tidak pernah berdiri sendiri kecuali dari diri manusia dan lingkungan”, serta generasi dahulu yang memiliki harapan pada kalian tentang kehidupan keberlanjutan.
Melalui pemaparan materi dan sesi diskusi, Dialog Kebangsaan 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengkaji keterkaitan antara isu lingkungan dengan hak atas ruang hidup. Seluruh rangkaian acara berakhir pada pukul 18.00 WIB yang ditutup dengan menyanyikan hymne Sanata Dharma dan pemberian hadiah kepada para kontributor yang sudah mengirimkan tulisan mereka untuk dimuat sebagai zine.
Usai acara, pesan mendalam dari diskusi ini meninggalkan kesan kuat bagi para peserta. Fransisco Michael Adisaputra, salah satu mahasiswa Sanata Dharma yang hadir, mengungkapkan harapannya agar materi yang diperoleh tidak berhenti begitu saja.
“Harapan saya dan mahasiswa lainnya, semoga pemaparan hari ini tidak sekadar ‘masuk telinga kiri keluar telinga kanan’, tetapi meninggalkan bekas dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi pemicu bagi kita untuk semakin kritis terhadap isu-isu terkini. Sebab, ketika mahasiswa diam, itu adalah bentuk pembiaran terhadap kerusakan yang sedang terjadi,” ujar Fransisco.
Keberhasilan acara dalam memantik ruang diskusi kritis ini tidak lepas dari kerja keras panitia di balik layar. Ketua Pelaksana, Rian, mengungkapkan rasa syukur sekaligus evaluasinya atas penyelenggaraan acara hari ini.
“Panitia sudah mengusahakan yang terbaik. Walaupun ada beberapa catatan yang membuat kami merasa kurang maksimal, kami sangat puas dan bangga dengan antusiasme peserta yang begitu luar biasa,” ungkap Rian.
Menutup sesi diskusi, Refki Saputra mengingatkan bahwa ruang perjuangan mahasiswa saat ini sudah semakin terbuka luas dan fleksibel.
“Sebagai mahasiswa, bentuk perjuangan kita sangat beragam—demonstrasi cuma salah satunya. Kita bisa memanfaatkan media sosial dan melakukan tindakan langsung secara digital karena anak muda sekarang sudah canggih. Ruang kita sangat luas. Meski ada risikonya, itulah komitmen yang harus kita tanggung bersama,” ujar Juru Kampanye Hutan Greenpeace tersebut.
Editor: Olivya
Thumbnail: Elisabet













