Selasa (27/10), mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD), menggelar acara Pekan Sastra Sadhar 2026 dengan tema “Menyalakan Ruang Sastra di Tengah Keterasingan” dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Tema tersebut dilatarbelakangi oleh keresahan ruang-ruang sastra yang terkadang terlupakan atau asing sehingga dianggap kuno. Pekan Sastra Sadhar 2026 sendiri menjadi program kerja (proker) gabungan dari tiga organisasi kemahasiswaan (ormawa) yang meliputi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sastra Indonesia, Bengkel Sastra (Bengsas), dan Bengkel Jurnalistik (Bengjur).
Acara diawali dengan open gate pada pukul 15.00 WIB, yang berlokasi di Ground Gedung Sastra, Kampus I, Universitas Sanata Dharma. Acara ini dilanjutkan dengan peresmian Pekan Sastra Sadhar 2026 oleh Susilawati Endah Peni Adji, M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra, dan Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A., selaku Ketua Program Studi Sastra Indonesia.
“Saya sangat mengapresiasi mahasiswa yang tidak hanya menjadi peserta, namun berani untuk bekerja sama dan bertanggung jawab pada pihak internal maupun eksternal dalam menyebarluaskan kegiatan Pekan Sastra kepada publik. Menghadirkan sastra di ruang lebih dekat, hingga akrab dalam kehidupan kita,” ujar Peni.
Sony menambahkan sedikit mengenai sejarah kebahasaan Indonesia bahwa, “Sastra Indonesia lahir saat Sumpah Pemuda. Saat itulah bahasa Indonesia dikukuhkan. Kami mengajak teman-teman merayakan, mewujudkan dalam sebuah pementasan, festival, dan ekspresi.”
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi utama yaitu Bincang Sastra Kampus bersama dengan perwakilan ormawa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Sanata Dharma (USD).
Baca juga: Dialog Kebangsaan USD, Soroti Bencana Ekologis dan Hak Ruang Hidup
Berdasarkan hasil bincang sastra antarkampus, Fathur dari Susastra UNY mengungkapkan rutinitas berkumpul setiap Rabu sore yang hanya dihadiri oleh beberapa orang sebenarnya bertujuan melepaskan diri dari orientasi nilai akademik. Meskipun tampaknya kegiatan sastra ini terlihat sepi, tetapi dampak yang dirasakan jauh lebih besar.
“Makanya kita lebih banyak beraktivitas dan berkegiatan di luar kampus. Konkretnya, kita belajar menulis, dan karena di sastra UNY enggak terlalu banyak mata kuliah penulisan kreatif, kita mencari alternatif lain dengan bergabung ke komunitas, seperti Jual Buku sastra (JBS), Suku Sastra, dan Jejak Imaji.”
Semangat serupa juga disuarakan oleh El dari Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Nyeni UGM yang berawal dari keresahan agar api bersastra tetap harus dijaga dalam skala apa pun, serta berupaya mendobrak batasan label sastra melalui ruang diskusi kritis.
“Nah, seberapa penting acara kumpul bareng lintas kampus kayak gini? Wah, itu penting banget. Bahkan saking pentingnya, kalau interaksi dan kolaborasi antarkampus sudah terjalin secara organik, kita sebenarnya enggak perlu lagi bikin acara-acara formal kayak gini buat sekadar serawungan.”
Sementara itu, Assa, selaku ketua HMPS USD, menjelaskan di kampusnya wadah kreativitas dibagi menjadi bidang sastra dan jurnalistik dengan berbagai program rutin seperti Bengkel Sastra yaitu Mantra Malam-Malam, hingga acara tahunan Sastra Bersuara setiap bulan Oktober untuk memberi kesempatan mahasiswa menuangkan ekspresi.
“Untuk himpunan sendiri tuh bisa dibilang karena kita semua yang ada di prodi Sastra Indonesia itu kan termasuk di Himpunan Sastra Indonesia, jadi bisa dibilang kayak ya, kita perlu satu atau dua orang, mungkin bisa sekelompok sih buat penggerakkan itu. Jadi kita harus digerakin, enggak harus yang gede, dimulai dari kecil dulu. Ketika dari yang kecil itu, oh ternyata sukses tuh, pasti yang lain ikutan tergerak. Karena kalau enggak dimulai, kita enggak akan bisa mulai, gitu sih,” tutur Assa
Antusiasme itu antusias tinggi dirasakan oleh para penonton yang hadir memadati Ground Gedung Sastra sejak sore hari. Salah seorang peserta yang hadir, Bastian, selaku mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, mengaku sangat terinspirasi dengan adanya ruang diskusi lintas kampus ini karena dapat memperluas wawasan sekaligus mempererat relasi antarmahasiswa sastra.
“Yang menginspirasi itu karena yang telah disampaikan oleh kakaknya tadi, ada yang berkutip tentang Sastra Indonesia itu kadang disepelekan, gitu loh. Sebagai Sastra Indonesia, belajar Bahasa Indonesia, kadang tuh dibikin ‘ngapain sih belajar bahasa Indonesia, orang itu tuh bahasa yang sudah kita pelajari dari kecil’. Tapi, yang bikin menariknya, kita tuh justru bikin semangat, karena kalau misal nih enggak ada orang yang belajar bahasa Indonesia, gimana nih bahasa Indonesia yang sebenarnya, gitu kan,” tambah Bastian
Serupa dengan hal tersebut, Alisia Tesalonika, selaku ketua panitia Pekan Sastra Sadhar 2026, mengungkapkan tantangan terbesar yang dihadapi adalah mengoordinasikan puluhan panitia dan relawan dengan berbagai karakter serta pendapat yang berbeda. Meskipun demikian, ia berharap penyelenggaraan Pekan Sastra Sadhar 2026 ini mampu membuka sudut pandang masyarakat luas agar tidak lagi menganggap sastra sebagai sesuatu yang kuno, melainkan seni yang relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Aku sih berharap, orang-orang khususnya masyarakat yang enggak terlalu kenal dengan sastra, jangan menganggap sastra itu sesuatu yang kuno. Apalagi kan, seperti yang sudah aku bilang, salah satu tema itu untuk enggak menganggap sastra ini kuno. Jadi aku berharap teman-teman juga lebih, apa ya, mindset-nya lebih terbuka, lebih melihat juga sastra itu sendiri, ternyata bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari,” pungkas Alisia.
Editor: Anggi
Thumbnail: Vadel













