Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Disesatkan oleh Penunggu Gunung - KataKarsa

Disesatkan oleh Penunggu Gunung

Hobiku menjadi awal mula aku bisa merasakan hal-hal mistis. Waktu itu setelah ujian akhir semester, aku dan teman-temanku berencana untuk naik gunung sebagai perayaan setelah berhasil menyelesaikan ujian. Awalnya kami akan mendaki dengan jumlah 20 orang, tetapi beberapa orang secara tiba-tiba membatalkan untuk ikut sehingga hanya tersisa enam orang. Keenam orang tersebut terdiri dari aku, Didi, Kaka, Bima, Raka, dan Sean. Setelah perdebatan kecil, aku dan kelima temanku memutuskan untuk tetap berangkat.

Kami berangkat dari Pekalongan pukul 09.00 WIB menggunakan motor dan sampai di Banjarnegara sekitar pukul 14.00 WIB. Menurut perkiraan waktu normal, jarak dari Pekalongan hingga Banjarnegara hanya memakan waktu dua sampai dua setengah jam. Namun, perjalanan kali ini sangat aneh karena kami memerlukan waktu lima jam untuk sampai ke tempat tujuan. Aku merasakan hal yang janggal, tetapi tak begitu kuhiraukan.

Sesampainya di basecamp, kami segera melakukan reservasi. Kali ini kami memilih gunung dengan ketinggian 1.716 meter di atas permukaan laut (MDPL). Gunung ini katanya cocok untuk pemula. Menurut warga lokal, gunung ini dulunya merupakan gunung purba dan menyimpan banyak misteri. Singkat cerita, setelah reservasi kami segera melakukan pendakian. Dalam perjalanan dari basecamp ke pos 1, rombongan kami sudah disambut oleh cuaca yang buruk. Sesampainya di pos 1, kami terjebak hujan yang mengharuskan kami untuk singgah berjam-jam di pos 1.

Kurang lebih jam 18.00 WIB, hujan reda dan kami segera melanjutkan perjalanan. Hampir sampai di pos 2, Kaka mendadak berkata bahwa perutnya sakit, ternyata magnya kambuh. Sakitnya dirasa cukup serius, jadi kami memutuskan Kaka tidak perlu ikut mendaki. Kaka diantar oleh Bima dan Sean kembali ke basecamp. Aku, Didi, dan Raka melanjutkan perjalanan dan menunggu kedua temanku di pos 2. Setelah menunggu sekitar 40 menit, akhirnya Bima dan Sean sudah sampai di pos 2. Kami melanjutkan perjalanan dengan jumlah anggota ganjil. Konon katanya jika mendaki gunung sebisa mungkin menghindari jumlah ganjil. Jumlah ganjil diyakini sebagai hal yang ora ilok atau tidak bagus. Karena sudah setengah perjalanan, kami tidak begitu menghiraukan mitos angka ganjil tersebut.

Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 terasa mulai aneh. Kebetulan aku dan Bima termasuk orang yang peka terhadap hal-hal tak kasat mata. Di pos 3, kami berhenti untuk istirahat. Di tengah waktu istirahat, kami dikejutkan dengan kemunculan simbah-simbah yang membawa kayu bakar. Simbah itu menawarkan pada kami untuk berteduh di rumahnya. Bima yang merasa janggal dengan kedatangan simbah-simbah tersebut segera menolak secara halus. Dari pos 3 ke pos 4 kami menggunakan formasi baris satu-satu. Leader berada di barisan depan dan sweeper di barisan paling belakang. Perjalanan terasa normal-normal saja, tetapi betapa terkejutnya kami ketika sampai di pos 4, yang sekaligus menjadi tempat camp bagi pendaki, tidak terdapat satu orang pun.

Baca Juga: Pantangan Mandi pada Waktu Magrib

Di sana hanya terdapat kami berlima padahal jelas-jelas penjaga basecamp mengatakan bahwa ada enam kelompok pendaki lain yang nge-camp di gunung tersebut. Awalnya bapak penjaga basecamp ragu untuk mengizinkan kami mendaki. Namun, karena ada enam rombongan lain maka kami diizinkan untuk mendaki. Saat menyadari ada hal yang aneh, kami tetap merasa cuek dan mulai membangun tenda. Kami membuat api unggun untuk membakar jagung. Saat sedang nikmat-nikmatnya kami memakan jagung, datang anak kecil yang meminta jagung. Setelah diberi jagung oleh Raka, anak itu langsung pergi entah kemana. Karena kami merasa semakin banyak kejadian aneh selama di pendakian, kami memutuskan segera masuk ke dalam tenda untuk istirahat.

Saat waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB, Raka mendadak menggigil parah, menunjukkan gejala hipotermia. Segala upaya telah kami lakukan, tetapi keadaan Raka tidak membaik. Kami yang takut terjadi apa-apa pada Raka, segera membawanya turun ke basecamp. Perjalanan turun kami jelas tidak mulus. Kami mendapat beberapa gangguan, seperti bertemu dengan bola api dan Mbak Kunti Merah. Dengan doa-doa yang terus-menerus kami lafalkan, perlahan gangguan itu mulai mereda. Sesampainya di basecamp, bapak yang bertugas menjaga basecamp seolah mengetahui apa yang terjadi. Beliau langsung tersenyum dan menghampiri kami.

Dengan senyum dan nada yang datar, bapak itu mulai membuka percakapan dengan kami.

Njenengan podo diganggu nopo, Mas? Biasane sek diganggu iku mero wes nelakokke kalepatan.” Setelah berkata demikian bapak tersebut memandang ke arah Raka dan berkata, “Lan kowe le, sajake wes ono sek ora seneng wiwit munggah.” Perkataan tersebut membuat aku, Didi, Bima, dan Sean kebingungan. Tanpa basa-basi lagi, bapak itu menyuruh Raka berganti pakaian dan tak lupa memberikan air putih yang sudah didoakan kepada Raka untuk diminum. Perlahan-lahan tubuh Raka mulai membaik. Namun, sayangnya teror itu belum selesai, pasalnya ketika kami turun dari tempat terakhir kami mendirikan tenda tidak ada satu pun dari kami yang mengemasinya. Dengan kata lain, tenda kami seharusnya masih berada di puncak. Anehnya, ketika kami sampai di basecamp, tenda itu sudah ada di pos registrasi dengan keadaan terbungkus rapi, tidak basah, dan masih bersih tanpa noda akibat tanah yang basah.

Pukul 11.30 WIB setelah beristirahat, kami memutuskan untuk pulang ke Pekalongan. Ketika kami bersiap-siap, hal janggal terjadi lagi. Saat itu terdapat dua rombongan dengan jumlah enam orang tiap regu baru saja turun dari gunung. Padahal, saat kami mendaki tidak ada satu orang pun yang mendirikan tenda di puncak selain kami berlima. Usut demi usut, kejadian-kejadian di luar nalar itu terjadi karena ulah Raka yang membuang sampah sembarangan saat kami berada di pos 1.

Bagi teman-teman yang mempunyai hobi mendaki, perlu diingat untuk tetap menjaga kestabilan lingkungan. Jangan membuang sampah selama di jalur pendakian. Bahkan, alangkah baiknya jika teman-teman membantu membersihkan lingkungan pendakian karena kita tidak tahu bagaimana sifat setiap penunggu gunung. Selain itu, trek yang bersih juga akan membuat pendaki merasa nyaman.

NB: Nama-nama dalam cerita di atas telah disamarkan dan nama gunung tidak disebutkan demi menjaga kenyamanan bersama.

Editor: Helena Setiasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *