Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Alunan Musik Gamelan Pukul Tiga Pagi - KataKarsa

Alunan Musik Gamelan Pukul Tiga Pagi

Ini adalah kisah yang kualami beberapa tahun yang lalu. Semua bermula ketika aku bergabung dalam Ekstrakurikuler Karawitan semasa SMP. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mengenal dan mempelajari alat musik gamelan. Aku dan teman-temanku sangat antusias untuk mendalami musik tradisional tersebut. Sampai pada suatu hari, pelatih kami menceritakan sesuatu yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.

         Sejak awal bergabung dalam Ekstrakurikuler Karawitan, kami sudah diberitahu mengenai larangan untuk melangkahi alat musik gamelan. Apabila kami sedang duduk di antara alat musik gamelan dan ingin beranjak pergi, kami harus mengangkat atau menggeser alat musik tersebut, tidak boleh melangkahinya.

         Suatu hari, salah seorang temanku yang ingin pergi ke toilet di tengah latihan, malas menggeser saron—salah satu alat musik gamelan—yang dimainkannya sehingga ia melangkahi saron tersebut. Pelatih kami tiba-tiba marah besar dan menegurnya. Padahal, sebelumnya beliau selalu ramah dan sabar terhadap kami.

         Beliau bercerita bahwa dahulu pernah ada kakak kelas yang melakukan hal serupa. Setelah ia melangkahi alat musik gamelan tersebut, mereka kembali memainkan satu lagu. Pada saat lagu tersebut dimainkan, ada suara lain yang ikut bernyanyi. Pelatih kami yang menyadari adanya suara itu, langsung memberi isyarat untuk menghentikan permainan. Namun, suara lain yang ikut bernyanyi itu tetap terdengar saat semua pemusik dan sinden sudah berhenti. Menurut cerita pelatih kami, semua orang yang ada di ruang karawitan saat itu mendengarnya, tetapi tidak ada yang tahu dari mana asal suara itu.

         Tak lama setelah kami mendengar cerita itu, salah seorang temanku lainnya, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Ekstrakurikuler Karawitan, mendapat masalah. Ia bercerita padaku bahwa ia mengalami hal-hal yang aneh di rumahnya. Ia juga mengatakan bahwa teman ibunya, yang bisa melihat hal-hal tak kasatmata, memberitahunya bahwa ia diikuti oleh sosok wanita berkebaya. Aku tak tahu bagaimana kelanjutannya karena tiba-tiba temanku itu pindah ke luar kota dan aku terputus hubungan dengannya.

Baca Juga: Ketukan di Pondok KKN

         Saat naik ke kelas sembilan SMP, aku masih tetap tergabung dalam Ekstrakurikuler Karawitan. Saat itu aku baru saja pindah ke kos setelah dua tahun tinggal di asrama. Suatu malam, aku bergadang untuk mempersiapkan ujian Mata Pelajaran Sejarah di kamar kos. Pada waktu jam menunjukkan pukul tiga pagi, aku mendengar alunan musik gamelan. Awalnya suara itu terdengar samar-samar, tetapi semakin lama suara itu semakin jelas. Suara itu terasa sangat dekat, seolah ada pertunjukkan karawitan digelar tepat di depan kamarku.

         Sejak lahir aku tidak pernah merasa memiliki indra keenam, tentu saja sama sekali tidak terlintas hal-hal mistis di benakku saat itu. Dengan sedikit rasa kesal karena fokus belajarku terganggu, aku membuka pintu kamarku, hendak memarahi siapa pun yang memutar musik itu. Di luar dugaanku, suara musik gamelan yang semula cukup kencang itu tiba-tiba berhenti total saat aku membuka pintu. Di hadapanku hanya ada ruang tengah kos yang sudah gelap dan sunyi, tidak ada siapa pun di sana. Detik itu juga aku menyadari bahwa suara tadi bukanlah sesuatu yang wajar.

         Aku menceritakan hal itu kepada penghuni kosku yang lain, tetapi mereka tidak mempercayainya. Aku bisa memakluminya karena sebelum mengalami kejadian itu, aku juga tidak mempercayai cerita pelatih karawitanku tentang suara sinden gaib itu dan cerita temanku tentang wanita berkebaya yang mengikutinya.

Editor: Joan Delanoue Denting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *