Tiga puluh tiga langkahku begitu pilu.
Untuk menjengukmu yang selalu meragu.
Langkah yang pelan,
langkah yang pura-pura tegar,
langkah yang diam-diam berharap kau menoleh.
Pada langkah ke-tujuh, aku belajar menata napas.
Pada langkah ke-empat belas, aku menertawakan gugupku sendiri.
Pada langkah ke-dua puluh satu, aku hampir lupa caranya pulang.
Pada langkah ke-tiga puluh tiga, aku baru sadar:
Kau berdiri di jalan yang tak pernah mengundangku.
Dilaju yang tak meminta aku mengejarmu.
Pada diam yang tak sudi mendengar riuhku
Tetapi tak apa,
di antara jarak yang tak jadi kupangkas.
Aku masih bisa menyelipkan kagum yang tumbuh tanpa diminta,
lalu merelakannya pergi
Seperti orang melepas bayangan
yang tak pernah sempat ia sapa.
