Terik mentari menyeruak di sela pepohonan
Angin menyela dan menyapa
Menyibak rambut si paras manis
Ia duduk damai di teras dengan kaki yang menari
Menunggu tanpa pura-pura dungu
Tanpa sadarnya, senyum itu muncul dari ujung jalan
Milik sang kekasih, miliknya seorang
Pipinya menghangat
Rona merah yang muda
Diam kini menyelimuti raganya namun tidak hatinya
Kupu-kupu ramai di dada
Bak takan kecil yang tiba-tiba bersemi
Ia tak bisa bohong pada diri sendiri
Tidak hari ini
Tidak saat ini
Tidak seperti ini
Ia sudah jatuh cinta
Maca terucaplah mantra dalam doa
Bersemoga, ini tak pernah benar-benar berakhir muda
Thumbnail by Qvar (Pinterest)















