Jejak Tak Kasat Mata di Balik Tembok Tua Seminari

Cerita ini berangkat dari salah satu siswa di sekolah seminari yang cukup terkenal di Jawa Tengah, yaitu Seminari Mertoyudan. Cerita ini milik dua siswa bernama Budi dan David, di saat mereka masih menjadi siswa di seminari tersebut. Budi adalah salah satu anak yang memiliki kelebihan bisa melihat dan memasuki alam lain. David, sebagai teman Budi…

Cerita ini berangkat dari salah satu siswa di sekolah seminari yang cukup terkenal di Jawa Tengah, yaitu Seminari Mertoyudan. Cerita ini milik dua siswa bernama Budi dan David, di saat mereka masih menjadi siswa di seminari tersebut.

Budi adalah salah satu anak yang memiliki kelebihan bisa melihat dan memasuki alam lain. David, sebagai teman Budi yang mengetahui kelebihan temannya, ingin merasakan bagaimana rasanya masuk alam lain dan ingin diajari oleh Budi bagaimana caranya bisa ke alam “itu”.

Kemudian David, tanpa pikir panjang meminta bantuan Budi untuk diajari caranya, Budi pun menyanggupi permintaan David. Berhari-hari hingga sebulan lamanya, Budi dengan tekun mengajari David cara-cara tersebut. 

David diajari untuk mengolah rasa, memejamkan mata untuk fokus, tenang, bahkan diberi tahu semacam mantra atau doa yang digunakan untuk menembus alam tersebut.

Tibalah waktunya untuk David melakukan eksperimen langsung setelah diajari oleh Budi. Mereka mencoba melakukan “itu” di malam hari, saat seminari sudah sepi dan tidak ada aktivitas dari para siswa.

Budi pun membantu David dengan merapalkan mantra-mantra yang dibutuhkan, sementara David diminta untuk tetap fokus. Mantra yang disebutkan berhasil, berhasil jugalah David memasuki alam lain yang selama ini ingin ia ketahui.

Menurut pengakuan David, begitu masuk ke alam lain pandangannya berubah menjadi hijau tetapi juga gelap, seperti tone warna di film-film horor. Memasuki alam lain adalah keadaan di mana kita tetap berada di tempat saat ini, tetapi kita melihat dimensi lain dari tempat kita berada dengan sudut pandang yang lain.

David juga mengakui, di posisi ini penglihatannya bisa tembus pandang. Seperti misalnya di depan David ada sebuah lemari dan di belakang lemari tersebut ada jam dinding, David bisa melihat jam dinding dengan jelas meski terhalang oleh lemari.

Baca juga: Lepas Penat di Alam: Rekomendasi 3 Curug di Kulon Progo

Di awal penglihatan dan perjalanan David ini, ia merasa santai, enjoy, tidak merasakan hal aneh apa pun. Namun, sebelum bereksperimen ini Budi telah berpesan kepada David bahwa apapun yang terjadi nanti, kalau ada orang yang mengajaknya berkomunikasi atau bertanya apa pun itu,  jangan pernah dijawab dan ditanggapi. Budi pun hanya mengawasi perjalanan David.

Setengah perjalanan, David memilih melangkahkan kaki menuju aula seminari. Di aula tersebut, terdapat semacam panggung kecil yang biasa digunakan untuk acara anak-anak seminari. Di pinggir panggung, David melihat sebuah benda semacam alat band yang selama ini ia cari. David sebenarnya juga bingung benda ini bisa ada di aula seminari.

Benda tersebut diambil oleh David. Setelah mengambilnya, David pun terkejut karena ada bapak tua yang datang menghampirinya. Bapak tua ini berkata kepada David, “Bisakah kamu membantu saya menyelesaikan sebuah masalah?”

Lupa akan pesan Budi, David malah menjawab bapak tua ini: “Maaf tidak bisa, Pak. Saya tidak mau.” Terlihat mereka malah seperti orang sedang berkomunikasi. Karena takut dan harap-harap cemas, David memilih berlari meninggalkan aula dan bapak tua ini.

Bukannya menghilang, bapak tua tersebut justru mengejar David. Setengah mati, dengan kalang kabut David berusaha ingin keluar dan meloloskan diri. Melihat keadaan yang semakin tidak beres, Budi pun bergerak membantu David untuk keluar dari alam tersebut.

Pada akhirnya, David berhasil keluar meski dengan keadaan dirinya yang sudah lelah dan lemas.

Editor: Olivya Permata

Thumbnail: Pinterest (@St. Louis Paranormal Research Society)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *