“Aku Karo Sing Lainnya One The Way”: Ketika Tiga Bahasa Hidup Berdampingan di Mulut Mahasiswa Jogja

Dunia kreatif anak muda memang tidak selalu pasti, alias banyak ide barunya. Hampir setiap saat mereka menemukan atau bahkan menciptakan tren baru, terutama dalam gaya bicara. Coba dengarkan perbincangan mahasiswa di angkringan dekat kampus mana pun di Jogja, dan kamu akan menemukan sesuatu yang menarik. Dalam satu kalimat saja, bisa muncul tiga bahasa sekaligus. “Mengko…

Dunia kreatif anak muda memang tidak selalu pasti, alias banyak ide barunya. Hampir setiap saat mereka menemukan atau bahkan menciptakan tren baru, terutama dalam gaya bicara. Coba dengarkan perbincangan mahasiswa di angkringan dekat kampus mana pun di Jogja, dan kamu akan menemukan sesuatu yang menarik.

Dalam satu kalimat saja, bisa muncul tiga bahasa sekaligus. “Mengko sore aku free kok, gas aja lah.” Bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris berbaur begitu saja, tanpa canggung, tanpa perlu berpikir dua kali. Bagi sebagian orang ini mungkin terdengar seperti bahasa yang “rusak”. Tetapi dalam kacamata linguistik, ini justru fenomena yang punya nama sendiri dan sudah lama dipelajari, yaitu alih kode, atau code-switching.

Bukan Sekadar Gaya-gayaan

Alih kode sering disalahpahami sebagai gejala anak muda yang “lupa bahasa sendiri” atau kebarat-baratan. Padahal, dalam studi sosiolinguistik, berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dalam satu percakapan, atau bahkan dalam satu kalimat, adalah kemampuan berbahasa yang justru menunjukkan penguasaan lebih dari satu sistem linguistik sekaligus.

Orang yang bisa melakukan alih kode dengan lancar sebetulnya sedang menjalankan proses kognitif yang cukup rumit karena kita perlu memilih kata, struktur, dan nuansa dari tiga sistem bahasa berbeda, lalu meraciknya jadi satu ujaran yang tetap masuk akal dan enak didengar oleh lawan bicara.

Di Jogja, fenomena ini terasa sangat kental karena kotanya sendiri adalah persilangan budaya. Ada mahasiswa asli Jawa yang bahasa ibunya bahasa Jawa, ada bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa pergaulan lintas daerah, dan ada bahasa Inggris yang merembes lewat kuliah, media sosial, film, sampai istilah-istilah kerja dan dunia digital yang memang belum (atau tidak perlu) diterjemahkan.

Baca juga: Jejak Tak Kasat Mata di Balik Tembok Tua Seminari

Kapan dan Kenapa Alih Kode Terjadi?

Alih kode jarang terjadi asal-asalan. Biasanya ada pemicu atau fungsi tertentu di baliknya:

  • Menyesuaikan keakraban. 

Bahasa Jawa sering muncul untuk membangun kedekatan atau menunjukkan kesantaian, terutama antarsesama orang Jawa. “Kowe wis mangan?” terasa jauh lebih dekat dibandingkan dengan “Kamu sudah makan?” yang terasa lebih formal.

  • Menegaskan makna yang sulit diterjemahkan. 

Beberapa kata dalam bahasa Jawa punya nuansa yang hilang jika dipaksakan ke bahasa Indonesia. Kata seperti gayeng, ngangeni, atau mangkel tidak punya padanan pas satu kata dalam bahasa Indonesia, jadi orang cenderung tetap memakai kata Jawanya meskipun sedang bicara dalam bahasa Indonesia.

  • Efisiensi dan gengsi istilah.

Bahasa Inggris sering masuk untuk istilah yang sudah terlanjur akrab dalam konteks akademik atau digital: deadline, submit, insecure, self-reward. Menerjemahkannya ke bahasa Indonesia kadang malah terasa janggal atau kepanjangan.

  • Menyesuaikan lawan bicara dan situasi. Mahasiswa yang berbincang dengan teman satu daerah bisa beralih penuh ke bahasa Jawa, tetapi otomatis kembali ke bahasa Indonesia atau bahasa campuran saat ada teman dari luar Jawa yang ikut bergabung. Ini menunjukkan alih kode juga berfungsi sebagai penanda siapa yang termasuk dalam “lingkaran” percakapan itu.

Bukan Hanya soal Bahasa, Tetapi Juga Identitas

Yang menarik, cara seorang mahasiswa meracik ketiga bahasa ini juga menjadi semacam penanda identitas. Ada yang lebih dominan berbahasa Jawa halus (krama) sebagai bentuk kesantunan pada orang yang lebih tua, ada yang lebih santai dengan ngoko dicampur bahasa gaul Jakarta, ada pula yang menyisipkan istilah Inggris sebagai penanda dekat dengan dunia akademik atau industri kreatif.

Fenomena ini sebetulnya sejalan dengan apa yang sering dibahas dalam kajian identitas dan bahasa, yaitu bahwa cara seseorang berbicara bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga soal menampilkan siapa dirinya, dari mana asalnya, dan kelompok mana yang ingin ia tunjukkan sebagai bagian dari dirinya.

Jadi, Salah atau Tidak?

Dari sudut pandang linguistik, tidak ada yang “salah” dari alih kode. Ia bukan tanda bahasa yang rusak atau penuturnya yang malas berbahasa dengan benar, melainkan bukti bahwa bahasa itu hidup, fleksibel, dan terus beradaptasi dengan lingkungan penuturnya.

Mahasiswa Jogja yang bisa berpindah dari Jawa ke Indonesia ke Inggris dalam satu tarikan napas sebetulnya sedang mempraktikkan sesuatu yang oleh banyak peneliti bahasa dianggap sebagai kemahiran berbahasa tingkat tinggi, bukan kekurangan.

Oleh karena itu, lain kali mendengar mahasiswa berbincang “Oke, good kok. Mangke tak kabarin lewat WA,” jangan buru-buru mengernyit. Itu bukan bahasa yang campur aduk tanpa arah, melainkan adalah tiga bahasa yang sedang hidup berdampingan, saling melengkapi, dalam satu kepala yang sama.

Editor: Olivya Permata Agustina

Thumbnail: Pinterest (@Tri Yanti Susana)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *