Di sebuah dunia yang sering meminjamkan suara untuk menentukan hidupnya, seorang perempuan berdiri dengan diam yang tegar.
Sejak kecil ia diajari banyak hal. Tentang cara berjalan yang pelan, cara berbicara yang sopan, dan cara menyimpan keinginan agar tidak dianggap berlebihan. Seolah dunia sedang menulis begitu banyak aturan di tubuhnya, juga di kepalanya.
Seolah-olah menjadi perempuan berarti harus selalu meminta izin kepada banyak mata yang mengawasi. Seolah-olah menjadi perempuan berarti hidup di dalam garis-garis yang sudah digambar orang lain. Garis tentang bagaimana ia harus bermimpi, mencintai, bahkan memilih jalan hidupnya sendiri.
Dalam kajian sosial, fenomena seperti ini dikenal sebagai social scripting—yaitu sebuah proses saat masyarakat menuliskan naskah kehidupan seseorang bahkan sebelum ia sempat membaca kata pertamanya sendiri. Bagi perempuan, naskah itu sering ditulis lebih tebal, lebih padat, dan lebih penuh larangan.
Simone de Beauvoir, seorang penulis dari Prancis yang banyak menyuarakan soal feminisme dengan buku terkenalnya, yaitu The Second Sex, pernah berkata bahwa perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan dijadikan perempuan. Artinya, banyak dari apa yang dianggap “kodrat” perempuan sesungguhnya adalah hasil konstruksi atau dengan kata lain buatan tangan kebudayaan, bukan tangan alam.
Konstruksi itu bekerja dengan cara yang halus tetapi kuat. Ia hadir dalam komentar di meja makan, “jangan terlalu keras kalau bicara,” dalam kurikulum sekolah yang lebih banyak mengajarkan perempuan untuk mengurus daripada memimpin, dalam iklan yang menghargai perempuan sebatas ukuran tubuhnya, bukan luasnya pikirannya. Pelan-pelan, tanpa disadari, perempuan belajar untuk tidak terlalu banyak mengambil ruang. Untuk tidak terlalu bersinar. Untuk tidak terlalu banyak ingin.
Namun justru di sinilah letak persoalannya. Ketika seseorang terus-menerus diajarkan untuk mengecilkan diri, bukan berarti keinginannya ikut mengecil. Ia hanya tersimpan lebih dalam, lebih sunyi, menunggu saat yang tepat untuk keluar.
Saat itu pasti datang, di dalam dirinya ada sesuatu yang terus hidup dan menyala. Bukan nyala yang gaduh, melainkan nyala yang sabar, yang tumbuh dari keyakinan bahwa dirinya berhak menjadi utuh.
Ia bisa melangkah tanpa diukur oleh ketakutan orang lain, dan bisa bermimpi tanpa harus mengecilkan cahaya yang dimiliki.
Ia tahu, kebebasan tidak selalu datang dengan sorak-sorai, karena kadang ia lahir dari keberanian yang sunyi, dan memiliki hak untuk mengatakan “aku ingin” tanpa rasa bersalah.
Keberanian yang sunyi ini adalah bentuk perlawanan yang sering tidak terlihat, tetapi tidak bisa diremehkan. Ia hadir ketika seorang perempuan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya meski ada yang mempertanyakan perlunya. Ia muncul ketika perempuan memilih untuk tidak menikah sebelum siap, atau memilih untuk menikah tanpa kehilangan dirinya sendiri. Ia nyata ketika perempuan berdiri di hadapan cermin dan untuk pertama kalinya tidak menghitung kekurangannya, melainkan mengakui bahwa ia cukup hidup apa adanya.
Baca juga: Empat Hal Tersembunyi dalam Animasi Lokal Adit, Sopo, dan Jarwo https://katakarsa.com/empat-hal-tersembunyi-dalam-animasi-lokal-adit-sopo-dan-jarwo/
Tentu perjalanan menuju kesadaran itu tidak mudah dan tidak seragam. Ada perempuan yang berjalan dalam privilese yang lebih lebar, dan ada yang harus menapaki jalur yang jauh lebih terjal karena harus dihadapkan kemiskinan, diskriminasi berlapis, atau budaya yang secara aktif menelan suaranya yang bebas. Maka berbicara tentang kebebasan perempuan tidak bisa hanya berhenti pada semangat individual. Ia juga harus menyentuh struktur, seperti kebijakan yang adil, akses pendidikan yang setara, dan ruang sosial yang benar-benar aman.
Namun di atas semua itu, yang paling mendasar adalah pengakuan bahwa perempuan bukan proyek yang perlu diselesaikan oleh orang lain. Perempuan bukan objek yang perlu dinilai, diukur, atau ditimbang berdasarkan standar yang ia sendiri tidak ikut membuatnya.
Seperti langit luas yang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun untuk menjadi biru, ungu, dan kelabu, perempuan pun seharusnya bebas menentukan ke mana langkahnya menuju.
Barangkali begitulah hati perempuan. Kadang ia menjadi api—berani menolak, berani memilih, dan berani berkata tidak pada batas yang mengekangnya. Ada pula hari-hari ketika ia menjadi sunyi—diam, tetapi sebenarnya menata ulang luka dan harapan.
Namun baik sebagai api maupun sunyi, ia tetap menyala. Sebab perempuan seharusnya tidak perlu meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri. Ia hanya perlu percaya bahwa cahaya yang ada di dalam dirinya memang pantas untuk hidup.
Sehingga mungkin tugas kita bersama sebagai manusia—baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda adalah berhenti menjadi penguasa garis yang membatasi orang lain. Kita bisa memilih untuk menjadi sebaliknya, menjadi teman bagi seseorang yang sedang belajar menyalakan cahayanya kembali.
Karena dunia yang baik bukan dunia yang mengukur perempuan. Dunia yang baik adalah dunia yang memberi perempuan ruang untuk mengukur dirinya sendiri.
Karena begitulah seharusnya perempuan dan begitulah seharusnya kita memperlakukannya.
Editor: Olivya
Thumbnail : Pinterest MistyDay















