Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Suara Misteri - KataKarsa

Suara Misteri

Aku seorang mahasiswa yang saat ini duduk di semester enam. Pada semester ini aku mendapat kegiatan wajib perkuliahan, yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN). Aku bersama dengan kelompokku bertugas di Temanggung, Jawa Tengah, bertepatan dengan adanya kelompok lain juga dari universitas yang sama dengan kami.

Pada akhir masa pengabdianku di sana, aku dan teman-temanku mengalami kejadian menyeramkan. Kejadian ini terjadi di hari Selasa, 23 Juli 2025. Sehari sebelum penarikan KKN tiba, kami melaksanakan malam perpisahan bersama dengan warga di sana. Setelah acara perpisahan selesai, aku dan ketiga temanku tidak langsung tidur, melainkan memutuskan untuk bergadang.

Kami menghabiskan waktu dengan mengerjakan laporan KKN dan mengedit video dokumenter kegiatan KKN. Sama seperti orang-orang pada umumnya, kami juga membumbui malam itu dengan bergosip di sela mengerjakan tugas. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB, sayup-sayup terdengar suara wanita menangis dari arah luar rumah. Setelah mendengar suara itu, aku dan temanku panik hingga berlari ke kamar. Sedangkan temanku yang cowok, Heno, memilih berlari ke arah dapur. Saat kami berlari, semua barang, seperti laptop, handphone, charger, dan tumbler, kami tinggalkan di ruangan tadi. 

Baca Juga: Apa yang Kulihat di Balik Pintu Bilik Itu?

Sesampainya di kamar, temanku yang bernama Rara kaget melihat kami panik. “Lu pada kenapa?” tanya Rara. Tidak kalah bingungnya aku melontarkan pertanyaan balik ke Rara, “Lu beneran ga denger, Ra?” Dengan ekspresi bingung, Rara bertanya lagi, “Denger apa?” Aku masih mencerna kejadian aneh barusan dan melihat temanku yang tadi juga berada di ruangan depan. Sekali lagi aku ingin memastikan bahwa aku tidak salah mendengar dengan bertanya kepada temanku itu.

Belum sempat aku melontarkan pertanyaan, Heno mendadak datang dan tanpa basa-basi bertanya, “Kalian denger ga tadi?” Dengan kompak aku dan temanku mengangguk, tanda kami mengalami hal yang sama. Untuk mengalihkan rasa takut, Tio meyakinkan kami bahwa suara barusan berasal dari seekor kucing karena di desa ini banyak kucing berkeliaran.

Setelah perdebatan kecil antara aku dengan Tio dan Heno, Rara pun angkat suara. “Kalian ganggu dia kali, karena kalian ribut-ribut. Ini udah malem juga.” Setelah Rara berbicara seperti itu, aku menjadi berpikir positif dan mungkin memang benar itu suara kucing. Kalaupun itu suara penunggu di sana, mungkin mengingatkan bahwa waktu sudah larut malam, sehingga suara berisik kami bisa mengganggu orang-orang yang tidur. Sebenarnya sebelum kami mendengar suara yang mirip dengan orang menangis, kami juga sempat mendengar ramai suara orang yang hendak pergi berkebun. Jika dipikir lagi, tidak mungkin orang-orang desa mau nge-prank kami. 

Setelah capek menerka-nerka, kami memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk tidur. Pagi hari pukul 06.00 WIB, kami bangun untuk persiapan pulang dan melaksanakan penarikan di kecamatan setempat pada pukul 09.00 WIB. 

Editor: Fransiska Meiliana Martani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *