Jumat, 7 November 2025 rombongan Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) Sastra Indonesia, yakni Bengkel Jurnalistik dan Bengkel Sastra Universitas Sanata Dharma, melaksanakan kegiatan bersama, yaitu Kunjungan Biennale Jogja. Kegiatan pameran ini berlangsung di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Rombongan melaksanakan tur mulai sore hari pukul 16.00 WIB seusai kelas.
Biennale Jogja adalah pameran seni kontemporer internasional dua tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan dilaksanakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Pada tahun 2025 ini, Biennale Jogja 18 kembali melaksanakan pameran serentak dengan tema “KAWRUH: Tanah Lelaku” yang dilaksanakan pada 6 Oktober—20 November 2025, dan UKPS Sastra Indonesia mendapat kesempatan berkunjung pada hari ini (07/11/2025).
Tim Pameran MIA BUSTAM terdiri dari orang-orang hebat untuk suksesnya acara ini. Di antaranya adalah Dyah Soemarno sebagai pimpinan produksi, Alia Swastika selaku kurator dengan menggandeng Balqis Nabila sebagai asistennya, serta tim riset Astrid Reza, Sylvie Tanaga, dan Alfian Widi.

Dalam salah satu rangkaian itu, terdapat satu serial pameran berjudul MIA BUSTAM. Sebagaimana diketahui, nama Mia Bustam bisa dikatakan sangat asing di telinga kita hari ini, khususnya di kalangan seni, sastra, serta perempuan yang berdikari. Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini antara lain untuk mengetahui dan menggali sosok asli Mia Bustam sebagai seorang perempuan yang melawan, memahami sejarah lain dari seni rupa Indonesia yang selama ini hanya dituliskan dari kacamata laki-laki, dengan Sudjojono sebagai kiblat dominannya.

Tur pameran ini berlangsung dengan euforia yang menyenangkan dari para mahasiswa. Sebelum menuju tempat pameran, rombongan UKPS berkumpul di Kantin Realino untuk melakukan briefing bersama Mas Ivo, alumni Sastra Indonesia sekaligus narahubung antara prodi Sastra Indonesia dengan pihak Biennale Jogja.
Perjalanan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit karena kondisi jalanan yang cukup ramai. Lokasi tujuan kami adalah Benteng Vredeburg. Kami memulai tur pertama pada pukul 17.20, disambut oleh Mbak Alia Swastika selaku kurator pameran sekaligus direktur Biennale Jogja dengan menjelaskan sejarah Biennale dan isi pameran di dalamnya.

“Kami berusaha membuat seni itu bisa dinikmati oleh semua kalangan terutama anak-anak, tidak hanya bagi orang-orang yang terbiasa menikmati seni, sehingga akses untuk menikmati seni itu bisa meluas,” ucap Mbak Alia Swastika.
Memasuki ruang pameran, kami diajak ke ruangan pertama, yaitu bagian Mia Bustam yang menjadi induk dari pameran ini. Di bagian Mia Bustam, dijelaskan sejarah awal Mia Bustam yang akhirnya menjadi seorang seniman perempuan, silsilah keluarga, gambaran ia di penjara, hingga hobi Mia Bustam yang gemar merajut. Bagi Mia, merajut adalah seni menyenangkan seperti melukis, merajut juga termasuk seni daripada sekadar hobi.
Di tempat ini, juga dipamerkan benda-benda peninggalan Mia yang masih layak semasa hidupnya, seperti mesin jahit, tas, aneka catatan pribadi, dan alat-alat untuk menyulam.
Mia Bustam juga digambarkan sebagai sosok yang gemar menanam Hortus Medicus atau kebun obat, sekaligus membuat “kelompok jamu” agar para tahanan dapat meracik dan membuat obat-obatan tradisional.
Di pameran ini, kami belajar peran penting seorang perempuan bahwa kedudukan perempuan bisa sederajat dengan laki-laki, yang dikemas dalam bentuk pameran dengan menampilkan perjalanan hidup Mia Bustam.
Baca Juga : Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Cantus Firmus Sukses Gelar Konser Perditus
Selama pameran berlangsung, mahasiswa tampak antusias dengan menyimak penjelasan dari Mbak Alia Swastika. Selain melihat pameran, pengunjung juga diajak untuk merasakan teknik menyulam seperti Mia Bustam dan disediakan sebuah ruangan untuk membaca buku-buku Mia Bustam.
“Aku seneng banget sama pameran ini karena tema politiknya. Pameran seperti ini adalah salah satu pameran yang baru aku kunjungi dan aku tertarik banget sama bagian menyulam dan melihat lorong kecil yang memperlihatkan keadaan penjara bagi perempuan,” komentar Puput dan Rara, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang juga merupakan pengunjung pameran.
“Aku sengaja mengajak teman-teman Sastra Indonesia karena mereka sudah dekat dengan seni, jadi harapannya agar teman-teman Sasindo bisa belajar di sini,” jelas Mas Ivo pada kegiatan ini.
Tur pameran bagi mahasiswa Sastra Indonesia berakhir pada pukul 18.45 WIB dan ditutup dengan kumpul bersama untuk belajar dan sekilas mengulas hasil yang didapat dari pameran Mia Bustam, dipimpin oleh Mas Ivo.
“Suka duka menyiapkan pameran ini banyak banget ya, terutama di bagian logistik itu sering mati lampu, tapi untungnya para pengunjung dapat memaklumi dan tetap menikmati pameran dengan baik,” tutup Mbak Alia Swastika.
Editor: Yemima Christia Dewi
