Agus Mulyadi membongkar proses kreatif dan dapur kepenulisannya dalam sesi Bincang Bareng Penulis pada gelaran Pekan Sastra Sadhar 2026 di Universitas Sanata Dharma, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan di Ground Gedung Sastra Universitas Sanata Dharma tersebut menghadirkan penulis yang karyanya sudah dialihwahanakan menjadi film, yakni Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih.
Meski acara yang mulanya diagendakan pada pukul 18.30 WIB ini terpaksa mundur menjadi 19.00 WIB, antusiasme peserta tidak surut dalam sesi ini.
Sesi talkshow kemudian berjalan hangat dengan dimoderatori oleh Aisyah Ayu Sakiawuni, mahasiswa Sastra Indonesia Sanata Dharma angkatan 2025.
Baca juga: Pekan Sastra Sadhar 2026 Pertemukan Mahasiswa Lintas Kampus di Yogyakarta
Dalam sesi tersebut, Agus Mulyadi menyampaikan beberapa poin penting mengenai identitas kepenulisan yang dimilikinya. Ia menekankan bahwa kejujuran terhadap kesederhanaan adalah hal yang membuat tulisannya menjadi istimewa.
Ia percaya bahwa topik penulisan tidak selalu harus bersinggungan dengan isu-isu yang berat. Melalui keresahan-keresahan yang sederhana, cerita justru dapat memiliki daya rayu yang kuat bagi pembaca.
“Itu membuat saya menyadari bahwa orang itu sebenarnya enggak perlu tulisan-tulisan yang ndaki-ndaki, tulisan-tulisan yang sophisticated, tulisan-tulisan yang, orang-orang itu kadang butuh tulisan-tulisan yang tidak mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Agus Mulyadi.
Banyak orang memang membutuhkan tulisan yang indah, tetapi banyak pula yang membutuhkan tulisan-tulisan sederhana yang penuh humor dan dekat dengan realitas kita. Agus Mulyadi memilih untuk mengisi kekosongan ruang tersebut.
Penulis asal Magelang ini juga membagikan motivasinya dalam berkarya. Dengan latar belakang pendidikannya, ia merasa bahwa satu-satunya hal yang bisa dibagikan adalah pengalamannya sehari-hari dari sudut pandang orang “biasa”.
“Dan karena saya tidak mempelajari disiplin ilmu tertentu, tapi saya ingin menjadi penulis, ‘Apa ya yang bisa saya tulis?’ Ya, nulis pengalaman eh sehari-hari, gitu, dan ternyata banyak orang yang suka, gitu.,” tambah Agus Mulyadi.
Di sesi akhir, ia menyampaikan pesan bahwa sekecil apa pun yang kita tuliskan, sisihkan satu ruang optimisme bahwa apa pun bentuk tulisan kita, pasti akan berguna bagi orang lain di kemudian hari. Karena pada dasarnya, setiap kegelisahan yang dimiliki semua orang pasti layak untuk ditulis.
Editor: Olivya
Thumbnail: Vadel













