Ini kisah seramku di tahun 2024 lalu. Daerah tempat tinggalku terkenal dengan masyarakat yang masih memegang teguh mitos-mitos dan pantangan-pantangan karena rumahku berada di kaki Gunung Merapi yang masih lekat dengan legenda dan kepercayaan akan adanya makhluk tak kasat mata. Masyarakat di sini memiliki kebiasaan meminta izin pada “pemilik tempat” saat akan melakukan kegiatan, seperti merumput, melewati jalan sepi, meludah, buang air kecil di tempat baru, dan lain-lain.
Salah satu pantangan paling terkenal di sini adalah pantangan mandi pada waktu magrib. Waktu magrib dipercaya sebagai waktu makhluk tak kasat mata berkeliaran. Pantangan itu sebenarnya sudah sering aku dengar dari keluargaku, bahkan teman-teman mainku di desa. Namun, karena aku anak yang tak acuh, pantangan tersebut tidak begitu aku hiraukan, hingga pada detik di mana aku merasakan sendiri kengerian pantangan tersebut.
Sore itu, ketika aku pulang dari kuliah, waktu menunjukkan pukul 17.55 WIB. Aku berniat untuk mandi karena badan terasa gerah setelah seharian beraktivitas. Aku bergegas mengambil handuk yang berada di jemuran dan menyiapkan air panas. Ibuku yang mengetahui niat tersebut segera menyuruhku menundanya dan menunggu waktu magrib selesai. Namun, aku yang tidak menghiraukan perkataan ibu, segera beranjak menuju kamar mandi.
Aku mandi bertepatan dengan azan magrib berkumandang. Aku yang sedikit penakut ini seketika mengingat semua perkataan ibu yang melarangku mandi pada waktu magrib dan cerita-cerita mistis yang sering teman-temanku bicarakan. Pada saat itu aku hanya bisa berdoa, sialnya Tuhan tidak berpihak padaku.
Baca Juga : Rumah
Di tengah-tengah ritual mandiku yang lama, tiba-tiba aku mencium bau tidak sedap yang cukup menyengat. Saat itu, aku berpikir bahwa itu bau bangkai tikus karena kamar mandiku berada di luar rumah. Ternyata dugaanku salah, bau itu datang lagi berbeda dengan sebelumnya, kali ini baunya lebih menyengat dan anyir seperti bau darah. Tidak lama dari kemunculan bau tersebut, aku melihat bayangan sosok dengan kain putih dan diikat pada kepala dan badannya. Sekujur badannya kotor oleh noda darah.
Saat itu, aku kaget dan takut, tetapi tidak bisa bergerak sama sekali. Anehnya, aku malah memandanginya hingga tiba-tiba sosok itu hilang dan lenyap saat aku mengedipkan mata. Setelahnya, aku berteriak keras memanggil ibu dan kakakku. Sejak kejadian itu, aku tidak berani ke kamar mandi setelah jam 17.00 WIB. Jika terpaksa harus ke kamar mandi setelah jam itu, aku selalu minta ditemani oleh kakakku.
Setelah kejadian seram itu, aku mulai percaya dengan larangan-larangan yang ada di daerah tempat tinggalku. Mungkin di balik larangan-larangan tersebut terdapat kisah-kisah mistis. Perlu diingat bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata. Di mana pun kita berada, kita harus selalu menjaga tuturan dan mengucapkan permisi karena kita tidak tahu di sana ada siapa. Yang paling penting, jangan pernah meremehkan sebuah kepercayaan yang sudah ada di daerah tertentu.
