Nugas di Kafe: Produktif atau Konsumtif?

Setiap sudut kafe kini dipenuhi pemandangan yang sama: seperti meja berisi laptop, segelas kopi, charger yang menjuntai, dan mahasiswa yang sibuk mengejar tenggat. Fenomena ini telah menjadi bagian dari budaya akademik, terutama di kota-kota pelajar. Namun, muncul pertanyaan yang layak didiskusikan; benarkah mengerjakan tugas di kafe lebih efisien, atau justru hanya menjadi cara baru untuk…

Setiap sudut kafe kini dipenuhi pemandangan yang sama: seperti meja berisi laptop, segelas kopi, charger yang menjuntai, dan mahasiswa yang sibuk mengejar tenggat. Fenomena ini telah menjadi bagian dari budaya akademik, terutama di kota-kota pelajar.

Namun, muncul pertanyaan yang layak didiskusikan; benarkah mengerjakan tugas di kafe lebih efisien, atau justru hanya menjadi cara baru untuk menghabiskan uang?

Banyak mahasiswa beranggapan bahwa suasana kafe mampu meningkatkan produktivitas. Lingkungan yang tenang, akses internet, pendingin ruangan, serta jauh dari distraksi rumah membuat mereka lebih fokus menyelesaikan tugas.

Bagi sebagian orang, mengeluarkan uang sekitar Rp20.000,00 hingga Rp50.000,00 untuk membeli minuman dianggap sepadan jika pekerjaan yang biasanya tertunda berjam-jam dapat selesai dalam waktu yang lebih singkat. Kalau bahasa Gen Z: self reward!

Baca juga: Membaca Realitas Sosial melalui Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Namun, efisiensi tersebut tidak berlaku untuk semua orang. Tidak sedikit mahasiswa yang justru datang ke kafe karena mengikuti tren. Tugas yang seharusnya selesai dalam dua jam berubah menjadi sesi nongkrong selama lima hingga enam jam. Belum lagi distraksi dari suasana kafe yang terkadang membuat sebagian orang menjadi tidak fokus pada apa yang sedang dikerjakan.

Waktu lebih banyak dihabiskan untuk mengobrol, memesan makanan tambahan, atau mengunggah foto ke media sosial daripada benar-benar mengerjakan tugas. Pada titik ini, kafe tidak lagi menjadi ruang produktif, melainkan tempat konsumsi yang dibungkus dengan dalih “sedang nugas.”

Persoalan lain yang patut dipertimbangkan adalah kondisi ekonomi mahasiswa. Tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan finansial yang sama. Jika kebiasaan mengerjakan tugas di kafe berubah menjadi tuntutan sosial agar dianggap produktif atau mengikuti gaya hidup tertentu, akan muncul tekanan yang tidak perlu. Mahasiswa yang memilih belajar di perpustakaan, ruang kelas kosong, atau di rumah seolah dianggap kurang menarik, padahal kualitas hasil belajar tidak ditentukan oleh tempatnya.

Di sisi lain, kampus juga perlu melakukan refleksi. Mengapa banyak mahasiswa lebih nyaman mengerjakan tugas di kafe dibandingkan dengan lingkungan kampus? Apakah fasilitas belajar di kampus sudah cukup nyaman, memiliki akses internet yang memadai, serta menyediakan ruang diskusi yang layak?

Jika jawabannya belum, maka fenomena “nugas di kafe” bukan semata-mata soal gaya hidup, tetapi juga menjadi kritik terhadap minimnya ruang belajar yang mendukung.

Pada akhirnya, nugas di kafe bukanlah sesuatu yang salah. Selama dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial, kafe dapat menjadi alternatif ruang belajar yang efektif. Namun, jika kebiasaan tersebut dilakukan hanya demi mengikuti tren atau membangun citra produktif di media sosial, manfaatnya patut dipertanyakan.

Produktivitas tidak diukur dari mahalnya kopi yang dipesan atau estetiknya meja kerja yang difoto. Yang lebih penting adalah seberapa jauh tugas benar-benar selesai, ilmu benar-benar dipahami, dan pengeluaran tetap sesuai kemampuan. Sebab, menjadi mahasiswa bukan tentang terlihat sibuk di kafe, melainkan tentang mampu mengelola waktu, uang, dan tanggung jawab secara bijak.

Editor: Yemima Christia Dewi

Thumbnail: Pinterest (@khusnullajaa_)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang KataKarsa

KataKarsa adalah portal berita yang dikelola oleh UKPS Bengkel Jurnalistik, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Cari