Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris kembali hadir mengguncang panggung serta membuat penonton takjub lewat pertunjukan El Theater 2026 bertajuk “The Ballad of Sweeney Todd”.
Acara tahunan ini diselenggarakan pada Minggu (11/10), bertempat di Auditorium Driyarkara, Kampus II, Universitas Sanata Dharma.
Open gate dimulai pada pukul 14.00–16.00 WIB. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari media partner, Ibu Evata selaku Wakil Kepala Program Studi (Wakaprodi) Sastra Inggris, serta Aldo sebagai house manager El Theater 2026.
The Ballad of Sweeney Todd merupakan drama musikal yang diadaptasi dari film Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street yang dirilis pada tahun 2007 (yang diperankan oleh Johnny Depp) serta disutradarai oleh Tim Burton, dan novel The String of Pearls ditulis oleh James Malcolm Rymer. Novel tersebut pertama kali diterbitkan sebagai sambungan cerita dari Penny Dreadful di tahun 1846–1847.
Cerita ini mengisahkan seorang tukang cukur bernama Benjamin Barker yang berlabuh ke kota London pada abad ke-19 setelah dipenjara secara tidak adil selama 15 tahun. Hukuman penjara tersebut dijatuhkan oleh Hakim Turpin yang korup dan berniat untuk merebut istri Benjamin, Lucy, yang terkenal cantik. Sekembalinya ke London dengan nama baru, Sweeney Todd, ia mendapati kenyataan kelam bahwa sang istri, Lucy, dilecehkan oleh Hakim Turpin. Anak Benjamin dan Lucy, serta anaknya, Johanna, dijadikan anak angkat oleh Hakim Turpin. Didorong rasa sakit dan dendam yang mendalam, Todd berusaha membuka kembali kedai cukurnya di lantai atas milik Nyonya Lovett, si pembuat pai daging yang sedang bangkrut.

Ketika rencana pembunuhan terhadap sang hakim tidak berjalan mulus, Todd melampiaskan amarahnya dengan membunuh para pelanggannya di kursi cukur. Nyonya Lovett kemudian memiliki ide mengerikan untuk memanfaatkan mayat-mayat tersebut sebagai bahan isi pai dagingnya, yang berujung pada kesuksesan besar toko pai mereka di London.
Baca juga: Sastra Indonesia USD Gelar Pertemuan Orang Tua Mahasiswa Angkatan 2025 dan 2026
Para pemain berhasil mendalami peran selayaknya karakter dalam film. Atmosfer kelam dan mencekam khas era Victoria berhasil dibangun dengan sangat apik melalui detail tata panggung dan pencahayaan dramatis yang memperkuat suasana. Tidak ketinggalan juga aransemen musik dan vokal yang menakjubkan dari para pemeran saat melantunkan setiap lagu dalam pertunjukan.
Namun, kesuksesan pementasan drama musikal ini tentu saja tidak lepas dari kerja sama dan kerja keras kru di balik layar. Sinergi yang solid mampu membawa penonton hanyut sepenuhnya ke dalam sejarah kelam London.
“Tantanganku adalah susah menyeimbangkan bagaimana caranya bisa menjalin dinamika antar teman-teman, tapi juga harus menemani divisi di belakang panggung. But then, it‘s kinda fun,” ujar Juan Balan, salah satu mahasiswa Sastra Inggris, selaku pemeran Hakim Turpin dan asisten sutradara. “Momen paling berkesan ketika kita harus nyanyi bersama-sama di Prelude—yang kami nyanyiin bareng-bareng itu. Tersulitnya saat aku harus nyanyi solo. Di situ aku harus menghafalkan naskah yang puanjanggg banget,” tambahnya.

Selain itu, di sekitar Auditorium Driyarkara tampak semakin meriah dengan hadirnya deretan stand makanan dan minuman di area lounge luar. Fasilitas kuliner ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton untuk bersantai sejenak sembari menikmati kudapan setelah menonton drama musikal Sweeney Todd.
Pertunjukan diakhiri dengan perkenalan masing-masing atau kru. Tepuk tangan meriah dari para penonton tidak ketinggalan memeriahkan pertunjukan.
“Wah, ternyata mereka bisa bikin musikal sebagus itu, yang menurut aku klasik. Aku berpesan supaya El Theater 2026 ditingkatkan lagi kerennya. Harapannya, mereka bisa buat naskah-naskah klasikal seperti ini lagi,” ungkap Adinda, mahasiswi Program Studi Sastra Inggris.
“Sungguh luar biasa, seluruh mahasiswa dapat memasuki perannya masing-masing. Kemudian, mereka bisa menghidupkan cerita ini, sebenarnya sudah beberapa kali dipentaskan English Letters ini, tapi untuk tahun ini mereka memberikan warna yang baru,” kata Ibu Eva. “Semua elemen menjadi satu dan harmonis, dipersiapkan dengan baik oleh semua kru. Semangat terus untuk menghidupkan karakter dalam cerita yang mereka pelajari di kelas. Kiranya bisa dikembangkan untuk bisa dibawa ke stage (panggung),” pungkasnya.
Editor: Sahira
Thumbnail: Dokumentasi Artistik















