,

Ketika Jarak Tak Menghalangi Kepedulian: Aksi Solidaritas bagi Masyarakat Terdampak Bencana di Indonesia Digelar di Depan Kapel Bellarminus Universitas Sanata Dharma

Bencana mungkin terjadi jauh dari Yogyakarta, tetapi keresahannya terasa sampai ke halaman Kapel Santo Robertus Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, pada Rabu, 26 Agustus 2026.  Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) bersama mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang diwakili oleh perwakilan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), hadir sebagai bagian dari Simpul Mahasiswa APTIK…

Bencana mungkin terjadi jauh dari Yogyakarta, tetapi keresahannya terasa sampai ke halaman Kapel Santo Robertus Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, pada Rabu, 26 Agustus 2026. 

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) bersama mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang diwakili oleh perwakilan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), hadir sebagai bagian dari Simpul Mahasiswa APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) untuk menggelar aksi solidaritas bagi masyarakat yang terdampak bencana di sejumlah wilayah Indonesia.

Aksi tersebut dimulai pukul 17.00 WIB diawali dengan doa pembuka, penyalaan lilin, aksi mimbar bebas, dan ditutup dengan pernyataan sikap bersama.

Kegiatan ini dihadiri oleh para mahasiswa, romo dan suster dengan mengenakan pakaian serba hitam, duduk melingkar di depan Kapel Bellarminus menyatukan suara untuk berdoa dan berdonasi, serta mendengarkan keresahan para mahasiswa perihal bencana yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Seorang mahasiswa asal Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), ia turut menceritakan kondisi wilayahnya yang berada dekat dengan Flores, salah satu wilayah yang terdampak parah akibat bencana gempa beberapa waktu lalu. 

Selain bercerita tentang kondisi kampung halamannya, Ia juga menyampaikan bahwa meskipun manusia tidak dapat menghentikan bencana, kepedulian tetap dapat diberikan melalui doa dan bantuan, sekecil apa pun bentuknya.

Keresahan yang sama juga datang dari Kalimantan. Seorang mahasiswa turut menyampaikan kondisi daerahnya setelah kejadian kebakaran lahan dan hutan yang menimpa Kalimantan. 

Banyak dampak yang ditimbulkan, salah satunya adalah aktivitas pendidikan yang terhambat. Di Kalimantan, para pelajar terpaksa diliburkan akibat kondisi asap yang parah dan kerusakan fasilitas yang menimpa daerah tersebut.

Sementara itu, mahasiswa asal Sumatra juga menambahkan bahwa proses pemulihan pascabencana di daerahnya juga belum sepenuhnya selesai, padahal peristiwa tersebut telah berlalu hampir setahun yang lalu. 

Dampak bencana masih dirasakan masyarakat hingga saat ini. Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa bencana tidak selalu berakhir ketika peristiwa utama telah berlalu. Bagi masyarakat di wilayah terdampak, pemulihan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mendengarkan langsung cerita dari para mahasiswa tersebut, Romo Adit, salah satu peserta yang turut hadir dalam Aksi Solidaritas hari ini melihat bahwa ruang seperti inilah yang penting bagi mahasiswa untuk saling mendengarkan dan berjumpa dengan mereka yang terdampak. 

Baca juga: Perempuan di Titik Nol: Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Medan Kekuasaan

Beliau berharap aksi solidaritas seperti ini dapat terus dilakukan, terutama di tengah berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

“Apalagi di tengah situasi negara kita yang seperti ini, saya kira aksi-aksi seperti ini bisa terus dilaksanakan,” ucapnya.

Selain itu, seperti yang sudah dibahas di awal bahwa aksi hari ini juga turut melibatkan mahasiswa FISIPOL UAJY yang hadir sebagai perwakilan dari Simpul Mahasiswa APTIK. 

Bima, Pelaksana Tugas Wakil Presiden Mahasiswa (Wapres) USD juga menjelaskan bahwa kegiatan ini sebenarnya berawal dari inisiatif mahasiswa yang tergabung dalam simpul tersebut. Ia menambahkan bahwa pelaksanaan aksi ini telah dikoordinasikan bersama pihak rektorat, Wakil Rektor III, dan Lembaga Kemahasiswaan USD. 

Donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan melalui satu pintu sesuai dengan hasil koordinasi bersama pihak kampus.

“Donasinya akan disalurkan atas nama aksi hari ini dan akan dikoordinasikan dengan kampus. Sesuai kesepakatan, hanya akan ada satu pintu yang sama,” jelas Bima.

Di tengah berbagai cerita tentang bencana, mimbar bebas sore itu juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pengalaman dari daerah asal mereka.

Paulus, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris (PBSI), angkatan 2025, asal Papua Pegunungan, menjadi salah satu mahasiswa yang turut menyampaikan suaranya. Ia mengatakan bahwa kehadirannya dalam aksi tersebut merupakan kesempatan untuk menceritakan kondisi Papua secara langsung.

“Bagi saya, saya menganggap ini sebagai wadah untuk menceritakan apa yang terjadi di Papua. Karena ada aksi solidaritas seperti ini, saya bisa ceritakan tentang Papua di sini secara real,” ungkap Paulus.

Baginya, ruang seperti ini penting agar cerita dari daerah asal tidak hanya menjadi kabar yang terdengar dari kejauhan, tetapi dapat disampaikan langsung oleh mereka yang memiliki keterikatan dengan wilayah tersebut.

Sore itu, cerita dari NTT, Kalimantan, Sumatra, hingga Papua bertemu di satu halaman yang sama. Mereka datang membawa keresahan dari rumah yang jauh, lalu menitipkannya melalui doa, dan suara, pada aksi solidaritas hari ini. 

Aksi tersebut menjadi refleksi mendalam bahwa duka di wilayah Indonesia adalah duka bersama. Melalui doa dan nyala lilin di halaman Kapel Bellarminus, sekat jarak berhasil diruntuhkan. Aksi yang dilaksanakan hari ini menegaskan bahwa, selama api kepedulian masih dirawat di ruang akademik, harapan akan pemulihan bagi mereka yang terdampak bencana tidak akan pernah padam.

Editor: Olivya Permata Agustina

Thumbnail: Dokumentasi dari Yunia Melia Putri

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang KataKarsa

KataKarsa adalah portal berita yang dikelola oleh UKPS Bengkel Jurnalistik, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Cari