Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) Bengkel Sastra (Bengsas) Universitas Sanata Dharma (USD) kembali mengguncang panggung teater di Jayadipuran Culture and Art. Acara ini bertempat di Pondok Ndalem Jayadipuran, pada Jumat, 24 Oktober 2025. Pada kesempatan ini, teman-teman Bengsas membawakan kembali teater Pasar Pahing. Acara ini dibuka dengan MC yang mulai menyapa penonton. Pada pukul 18.00 WIB, Fina sebagai narator, membacakan sinopsis Pasar Pahing sebagai tanda akan dimulainya teater.

Teater Pasar Pahing mengangkat isu pada tahun 2010 yang menjadi perbincangan hangat masa itu. Penemuan candi di bawah bangunan pasar yang menjadi huru-hara masyarakat setempat. Hal tersebut memberikan dampak besar pada masyarakat Padukuhan Karangmulyo. Aspek yang jelas terlihat adalah dampak pada bidang ekonomi.
Teater Pasar Pahing ditampilkan dengan genre komedi. Teater ini mengangkat dua bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Para aktor Pasar Pahing memberikan penampilan terbaiknya setelah kemarin sempat pentas di Kantin Realino, USD dengan membawakan teater yang sama.

Athaya, salah satu aktor teater Pasar Pahing merasa puas dengan penampilannya, tetapi juga ada hal yang membuatnya sedikit kecewa atas penampilannya di babak 1. “Jujur puas cuman gak terlalu puas sama yang tampil pertama tadi, karena ini banyak improve-nya, ini menyesuaikan sama durasi main di JCA durasinya maksimal jadi kami harus menyesuaikan durasinya bagaimana, improve-nya bagaimana, dan lain sebagainya, cuman dari kepuasan itu aku merasa puas karena bisa mengembalikan karakter aku.”
Penampilan teater malam ini berhasil menghadirkan gelak tawa penonton di sekeliling Pendopo Balai Pelestarian Budaya sesuai dengan genre yang ingin dibawakan. Johan sebagai penonton merasa pemainnya masih biasa dan kadang kurang mendengar suara aktornya. “Mainnya masih biasa, terus aktor kaya kaget dengan improvisasi itu jadi nangkapnya agak telat, terus kadang aku gak dengar mereka ngomong apa,” ujarnya.
Baca Juga : Gelar Gagasan Kritis 2025: Lokakarya Penulisan Opini bersama Petrus Seno Wibowo
Di sisi lain, Ws sebagai sutradara, menegaskan bahwa menyatukan pikiran dengan orang banyak itu susah. “Kita kan banyak orang, menyatukan berapa belas pikiran ini kan susah, kadang kan aku punya idealis buat ngatur mereka, tapi kan ada orang yang udah tau teater ada beberapa orang yang masih awal, terus untuk mengatur beberapa pikiran mereka itu yang susah harus nunggu pas waktunya. Terus masalah waktu kan kita dari dua angkatan beda jadinya susah samain waktu, ada yang kerja atau ada yang disuruh orang tua gimana dan latihan gak full squad itu susah,” tuturnya.
“Untuk ke depannya, semoga untuk ke depannya dapat berkontribusi dalam event-event besar lainnya, untuk membuka relasi yang lebih luas,” pungkasnya.
Menurut Farrell selaku pimpinan produksi (Pimpro), kendala yang dihadapi ketika persiapan adalah banyak anggota yang sering tidak hadir karena latihan dilakukan pada masa libur kuliah.
Editor : Yemima Christia Dewi
