Bayangan Hitam di Balik Lemari

Kejadian ini terjadi pada hari Rabu setelah aku pulang sekolah. Saat itu, aku sedang makan siang sambil menonton televisi. Sesekali aku menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di tembok sebelah televisi. Jarum jam menunjukkan pukul 11.55 WIB. Tak lama kemudian, Ibu berpamitan untuk mengantarkan makanan ke rumah tetangga. “Sebentar ya, Nak. Ibu ingin mengantar…

Kejadian ini terjadi pada hari Rabu setelah aku pulang sekolah. Saat itu, aku sedang makan siang sambil menonton televisi. Sesekali aku menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di tembok sebelah televisi. Jarum jam menunjukkan pukul 11.55 WIB. Tak lama kemudian, Ibu berpamitan untuk mengantarkan makanan ke rumah tetangga.

“Sebentar ya, Nak. Ibu ingin mengantar makanan ini ke tetangga,” kata Ibu.

Aku mengangguk pelan dan melanjutkan makan. Saat itu aku tidak tahu kapan ibu pergi keluar rumah. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengar suara keresek-keresek dari arah kamarku. Awalnya aku mengira ibu masih berada di dalam kamar dan sedang merapikan sesuatu. Namun, setelah kupanggil beberapa kali, tidak ada jawaban sama sekali.

Suasana yang awalnya tenang perlahan berubah menjadi mencekam. Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Aku mencoba mengabaikan suara itu dan kembali menatap televisi. Namun, suara itu kembali terdengar, kali ini terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.

Aku menoleh ke arah jam dinding, tepat pukul 12.00 WIB. Kemudian tanpa sengaja aku melihat ke arah belakang lemari. Seketika itu aku melihat bayangan hitam berbentuk kaki. Bayangan itu bergerak seperti menyapaku. Tubuhku sontak membeku dan jantungku berdegup sangat kencang. Aku hanya bisa menatap bayangan itu tanpa berani bergerak sedikit pun.

Setelah melihat bayangan itu aku memanggil ibu untuk memastikan apakah beliau sudah pulang atau masih di rumah tetangga.

“Bu… Ibu…,” panggilku dengan suara yang agak keras.

Baca juga: Ketika Jarak Tak Menghalangi Kepedulian: Aksi Solidaritas bagi Masyarakat Terdampak Bencana di Indonesia Digelar di Depan Kapel Bellarminus Universitas Sanata Dharma

Namun, ternyata tidak ada jawaban sama sekali. Aku yakin ibu pasti masih di rumah tetangga dan aku di rumah sendirian. Karena rasa takut ini masih ada aku lalu keluar rumah dan melihat ke sekitar, berharap ada tetangga yang sedang di luar rumah sehingga aku bisa meminta tolong. Namun, suasana di sekitar rumah yang biasanya ramai saat itu tidak terlihat seorangpun.

Aku lalu kembali masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian ibu pulang lewat pintu belakang. Aku segera menghampiri ibu dan menceritakan bayangan hitam dan suara dari dalam kamar itu. Ibu kemudian menenangkanku, beliau seolah tidak percaya dengan kejadian yang baru saja kualami.

Saat sore hari, kebetulan Paman datang ke rumah. Ibu yang tadi sudah mendengarkan cerita tadi siang lalu menceritakan ke paman. Setelah mendengar cerita itu paman lalu bertanya kepadaku, “Seberapa besar ukuran bayangan kaki itu?”

Aku lalu menjawab, “Seukuran kaki orang dewasa, Paman.”

Mendengar jawabanku, paman tersenyum lalu berkata sambil tertawa, “Kalau ukurannya 40 cm-an kemungkinan nenekmu balik menengok rumah.”

Mendengar ucapan paman, aku hanya terdiam. Entah beliau hanya sedang bercanda untuk mengurangi rasa takutku atau benar-benar percaya dengan perkataannya. Namun, ucapan itu membuatku kembali mengingat bayangan hitam yang kulihat siang tadi dan membuat bulu tanganku kembali merinding.

Editor: Sahira Diniy Khairun Nisa

Thumbnail: Canva (Tim Artistik)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang KataKarsa

KataKarsa adalah portal berita yang dikelola oleh UKPS Bengkel Jurnalistik, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Cari