Pameran tentang purna pekerja migran membuka ruang untuk melihat kehidupan setelah migrasi. Ketika pengalaman bekerja selama bertahun-tahun bekerja di luar negeri yang tidak serta merta menjamin penerimaan, pengakuan, dan kehidupan yang lebih baik di tanah air. Kepulangan kerap dibayangkan sebagai akhir dari sebuah perjalanan seseorang meninggalkan negeri tempatnya bekerja, kembali ke tanah air kelahirannya, lalu melanjutkan perjalanan sebagai bekal pengalaman dan penghasilan yang telah dikumpulkan.
Bagi purna pekerja migran, pulang tak selalu berarti persoalan selesai. Ada pengalaman yang begitu membekas seperti tertinggal, luka yang masih terbawa, dan tantangan baru yang menunggu ketika mereka kembali ke lingkungan yang dahulu mereka tinggalkan. Persoalan setelah pulang inilah yang diangkat dalam sebuah pameran yang berfokus pada purna pekerja migran.
Alih-alih berhenti pada kisah keberangkatan dan keberhasilan mengirimkan uang dari luar negeri, pameran ini mengajak pengunjung menengok fase yang kerap luput dari perhatian kehidupan setelah migrasi berakhir. Dalam narasi publik, pekerja migran Indonesia kerap ditempatkan sebagai pahlawan devisa, sebuah sebutan yang menegaskan kontribusi ekonomi mereka bagi keluarga dan negara. Namun, pengakuan tersebut menyisakan pertanyaan mendasar, sejauh mana penghargaan atas kontribusi ekonomi itu diikuti oleh perhatian terhadap kehidupan mereka setelah kembali? Apakah pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri memperoleh pengakuan yang setara ketika mereka membentuk kembali dunia kerja di tanah air?
Menurut Balqis Nabila, kurator pameran Setelah Migrasi, Sebelum Pulang, persoalan purna pekerja migran masih jarang dibicarakan dibandingkan narasi keberangkatan dan kontribusi ekonomi mereka. Padahal, pengalaman selama bekerja di luar negeri tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang layak. Overwork, praktik kerja yang eksploitatif, hingga pengalaman traumatis dapat menjadi bagian dari perjalanan sebagian pekerja migran.
Pengalaman tersebut tidak otomatis berakhir ketika mereka menginjakkan kaki kembali di tanah air. Kepulangan justru dapat menghadirkan kerentanan lain. Purna pekerja migran perlu menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan sosial, mencari pekerjaan, serta menghadapi persoalan pengakuan atas keterampilan dan pengalaman yang telah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.
Pengalaman bekerja di luar negeri tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi peluang kerja di dalam negeri, terutama ketika keterampilan yang diperoleh tidak mendapatkan pengakuan yang memadai. Pada saat yang sama, anggapan bahwa kepulangan identik dengan kondisi ekonomi yang lebih baik dapat menutupi kenyataan bahwa sebagian purna pekerja migran masih menghadapi ketidakpastian penghasilan dan kesulitan membangun kehidupan kembali.
Balqis juga menyoroti kemungkinan sebagian purna pekerja migran kembali bekerja ke luar negeri ketika tabungan yang dibawa pulang mulai menipis dan kesempatan hidup di tanah air tidak kunjung membaik. Situasi ini mengundang pertanyaan lebih jauh, apakah migrasi benar-benar membuka jalan menuju kesejahteraan dalam jangka panjang, atau justru menjadi strategi berulang untuk bertahan hidup ketika kesempatan ekonomi di daerah asal belum memadai? Pada titik ini, pameran tersebut membawa persoalan pekerja migran keluar dari bingkai keberhasilan ekonomi semata.
Kepulangan tidak cukup dibaca sebagai hasil akhir dari sebuah keputusan individual. Ia juga perlu dipahami melalui kondisi sosial, kesempatan bekerja, dukungan pemulihan, serta sistem perlindungan yang tersedia bagi mereka yang kembali. Tantangan berikutnya terletak pada pengalaman kompleks itu dihadirkan melalui karya seni.
Pengalaman bekerja di negeri orang, menghadapi situasi sulit, lalu mencoba membangun kembali kehidupan di rumah bukanlah perkara yang mudah disampaikan hanya melalui penjelasan verbal. Pengalaman tersebut dapat memuat ingatan, kehilangan, keterasingan, sekaligus harapan yang tidak selalu hadir dalam bentuk yang gamblang.
Balqis juga menjelaskan bahwa karya-karya yang melibatkan beberapa seniman seperti Ibu-ibu Koordinasi Purna Pekerja Migran Indonesia (KOPPMI), Nur Hasanah, Selvi Agnesia, Taring Padi, Paulus Neo, Leilani Hermiasih, dan Gabrielle Maria Anna. Karya-karya yang melibatkan Ibu-ibu KOPPMI menghadirkan beragam pendekatan dalam membicarakan pengalaman purna pekerja migran. Persoalan tersebut dapat disampaikan secara langsung, dibangun melalui simbol dan pengalaman personal, ataupun diungkapkan melalui pernyataan yang lebih tegas.
Keragaman pendekatan ini membuka kemungkinan pembacaan yang berbeda, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana masing-masing karya mengolah pengalaman migrasi menjadi bahasa artistik. Keragaman pendekatan tersebut menjadi penting karena pengalaman purna pekerja dapat dilihat melalui berbagai sudut pandang yang melatarbelakanginya. Pengalaman seseorang tidak selalu dapat mewakili pengalaman orang lain, sementara satu bentuk ungkapan seni secara visual juga tidak harus menjelaskan persoalan secara langsung.
Baca juga: Trik Mengecoh Algoritma: Ketika Bahasa Indonesia Diplesetkan di Media Sosial
Salah satu gagasan kuratorial yang menarik adalah “rumah tak jadi rumah”. Frasa ini menggeser pemahaman tentang rumah dari sekadar tempat untuk kembali menjadi ruang yang turut menentukan rasa memiliki dan keterasingan seseorang. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di luar negeri, kepulangan tidak selalu mengembalikan seseorang pada keadaan yang sama seperti sebelum berangkat.
Rumah secara fisik mungkin tetap berada di tempatnya, tetapi hubungan dengan keluarga, lingkungan sosial, pekerjaan, bahkan diri sendiri dapat mengalami perubahan. Pembicaraan tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami bahwa seni dapat menghadirkan persoalan sosial tanpa harus disampaikan secara politik secara eksplisit. Pengalaman personal dapat menjadi bahasa untuk membicarakan kondisi yang lebih luas. Meski demikian, kekuatan gagasan kuratorial perlu dibaca melalui cara karya-karya tersebut membangun makna.
Material, bentuk, komposisi, teks pendamping, dan penataan ruang bukan sekadar unsur pelengkap, melainkan bagian dari cara pengalaman migrasi disampaikan kepada pengunjung. Pertanyaannya, apakah unsur-unsur tersebut mampu menghadirkan pengalaman kepulangan dan keterasingan secara meyakinkan, atau justru membuat pemahaman terhadap karya terlalu bergantung pada penjelasan verbal? Di sinilah pentingnya membedakan kekuatan persoalan yang diangkat dari keberhasilan persoalan tersebut diolah menjadi pengalaman seni.
Di sinilah penilaian terhadap pameran tidak cukup berhenti pada pentingnya persoalan pekerja purna pekerja migran. Namun, ada kisah pahit dibalik para pekerja migran yang sudah bertahun-tahun bekerja di luar negeri. Persoalan sosial yang mendesak tidak dengan sendirinya membuat sebuah pameran berhasil secara seni visual.
Pameran tentang purna pekerja migran juga memunculkan pertanyaan sejauh mana seni dapat mendorong perubahan sosial. Seni tidak harus mengubah kebijakan secara langsung untuk memiliki arti sosial. Ia dapat membuka ruang percakapan dan menghadirkan pengalaman yang selama ini kurang mendapat perhatian. Namun, visibilitas tidak selalu berujung pada perubahan.
Oleh karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah pameran berhasil membuat persoalan purna pekerja migran terlihat, tetapi juga apakah karya-karyanya membantu pengunjung memahami persoalan tersebut secara lebih mendalam, melampaui simpati sesaat terhadap pengalaman individu. Kekuatan pameran ini perlu dilihat dari sejauh mana karya-karyanya mampu menghubungkan pengalaman personal purna pekerja migran dengan persoalan yang lebih luas, seperti kesempatan kerja, pengakuan atas keterampilan, dan akses terhadap perlindungan sosial.
Pada akhirnya, kepulangan bukan sekadar akhir dari perjalanan bekerja di luar negeri. Di balik sebutan pahlawan devisa, terdapat kehidupan yang masih harus dibangun, keterampilan yang perlu diakui, dan persoalan yang tidak selesai hanya dengan kembali ke tanah asal. Pameran tentang purna pekerja migran membuka ruang untuk membicarakan pengalaman tersebut, tetapi kekuatannya tidak cukup diukur dari pentingnya isu yang diangkat.
Balqis berharap melalui kemampuan karya-karyanya mengolah pengalaman personal menjadi bahasa visual yang membuka pemahaman lebih luas. Sebab, pulang semestinya bukan hanya berarti kembali ke rumah, melainkan juga memperoleh kesempatan untuk membangun kehidupan yang layak setelah migrasi berakhir.
Editor: Sahira
Thumbnail: Fadel Arya Shandika













