Sabtu (15/11), di Pendopo Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma (USD), diadakan Workshop Penulisan Jurnalistik oleh salah satu Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) Sastra Indonesia, yaitu Bengkel Jurnalistik. Seorang mahasiswa asal Pakistan yang sedang menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia turut hadir dalam workshop tersebut. Mahasiswa tersebut bernama Waleed Ahmad Loun atau kerap disapa Wali. Pada kesempatan tersebut, Wali menjadi salah satu narasumber untuk diwawancarai mengenai pengalamannya belajar bahasa dan sastra Indonesia.
Wali membagikan pengalamannya belajar bahasa Indonesia. Sejak tahun 2021, Wali mulai belajar bahasa Indonesia di National University of Modern Languages (NUML), Pakistan. Kemudian pada tahun 2023, Wali pergi ke Indonesia untuk mendalami bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada. “Saya cari informasi karena sulit untuk ke Indonesia. Jadi, saya cari informasi lalu muncul INCLUS, yaitu salah satu tempat untuk belajar bahasa di UGM. Lalu saya mendaftarkan diri,” ujar Wali. Hal ini membuat Wali memilih UGM menjadi tempat pertama belajar bahasa di Indonesia.
Alasan utama Wali belajar bahasa Indonesia adalah karena ia ingin menjadi seorang penerjemah. Awalnya, Wali bimbang memilih bahasa untuk tujuan penerjemahannya. Kemudian, Wali mencari bahasa yang sekiranya mudah untuk dipelajari. “Bahasa Indonesia itu cocok untuk saya karena tidak banyak orang yang menerjemahkan sastra dan masyarakatnya banyak sehingga akan banyak orang yang membacanya,” ujar Wali. Hal tersebut menjadi alasan Wali memilih bahasa Indonesia daripada bahasa lainnya.
Wali belajar bahasa Indonesia karena ingin menerjemahkan buku, seperti novel, puisi, cerpen, dan buku bahasa dan sastra lainnya. Saat ini, Wali sedang menerjemahkan cerpen yang terkenal di Pakistan. Cerpen tersebut berjudul “Hukum Baru” dan “Daging Dingin” karya Saadat Hassan Manto. “Dua cerpen saya sudah menerjemahkan. Itu dari Manto, seorang penulis terkenal dari Pakistan. Dia sudah meninggal, tetapi cerpen-cerpennya sangat terkenal sekali,” ujar Wali.
Berdasarkan pengalamannya, Wali mampu membawa bahasa dan sastra dari negaranya lebih dikenal negara asing. Kita sebagai warga negara Indonesia seharusnya juga mampu untuk membawa bahasa Indonesia agar dikenal dunia. Pengalaman Wali dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus melestarikan bahasa agar bahasa tetap ada dan mendunia.
Editor: Helena Setiasari















