Menjadi mahasiswa Sastra Indonesia pasti nggak akan lepas dari satu pertanyaan klasik: “Mau jadi apa?”.
Wajar saja, karena jurusan ini sering dianggap tidak punya tempat di industri. Padahal jika dilihat lebih luas, prospek kerjanya banyak. Setidaknya, mahasiswa sastra bisa bergerak di bidang kreatif. Lebih luas lagi, kita bisa menjadi jurnalis, public relations (PR), penerjemah, peneliti bahasa, penulis, editor, atau bahkan pengajar.
Jadi, masalahnya bukan lagi di peluang kerja, tapi di persaingannya.
Mau jadi jurnalis? Ada lulusan S-1 Jurnalistik.
Mau ke PR atau humas? Ada lulusan D-4 Hubungan Masyarakat.
Mau jadi pengajar? Ada lulusan S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia.
Kondisi inilah yang memaksa mahasiswa sastra Indonesia harus berkompetisi dengan lulusan yang secara disiplin ilmu lebih relevan di mata industri.
Di titik ini, jika dibayangkan memang cukup berat untuk survive. Namun, bukan berarti lulusan sastra akan sulit mendapatkan pekerjaan.
Baca juga: Ketidakcocokan yang Berulang: Alasan Di Balik Anak Kos yang Sering Berpindah Kos
Beranjak dari sana, berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan mahasiswa sastra Indonesia untuk memastikan karier mereka.
- Menentukan Arah Karir
Langkah ini sangat krusial, tanpa tujuan tidak akan tahu arahnya ke mana. Maka, tentukan karier yang sekiranya sesuai dengan kemampuan dan potensi diri. Melalui tujuan yang jelas, mahasiswa sastra dapat mengembangkan kemampuan yang relevan dengan tujuan tersebut.
2. Membangun Profil yang Unik
Profil yang unik bisa dibangun dari banyak pengalaman, baik melalui organisasi, kepanitiaan, atau maupun program magang.
3. Membangun Portofolio
Tidak cukup hanya pengalaman, mahasiswa Sastra Indonesia wajib memiliki portofolio karya. Karya tersebut dapat berupa opini, artikel, cerpen, naskah drama, atau bahkan hasil riset kebahasaan.
4. BerIkhtiar dan Berdoa
Poin terakhir ini tidak kalah penting; usaha harus dibarengi dengan doa. Semoga segala usaha dan kerja keras akan berbuah baik. Tidak lupa juga, semoga janji 19.000.000 lapangan kerja itu betul-betul bisa kita rasakan ketika lulus nanti (colek wakil presiden kita).
Pada akhirnya, semua kembali ke diri masing-masing. Ketika sadar dunia kerja itu kompetitif, siap atau tidak siap kita harus memiliki strategi. Ibarat perang, kita harus memiliki senjata dan zirah sebelum maju. Zirah diibaratkan gelar Sarjana Sastra (S.S.), sedangkan senjatanya berupa keterampilan yang kita asah selama kuliah.
Editor: Olivya
Thumbnail by eunoifa















