Sabtu, 15 November 2025 pukul 18:00 WIB, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Seriboe Djendela (TSD) kembali menggelar Studi Pentas di Studio Banjarmili yang berjudul Tumirah: Sang Mucikari. Ini merupakan parade ketiga, alias parade terakhir dari rangkaian Studi Pentas Parade 3 Warna, setelah sebelumnya Aduh Ujang dan Anak Rantau yang juga tampil memukau para penonton.

Studi pentas ini merupakan wadah eksplorasi kaidah dasar dan ini menjadi ruang pertemuan bagi para pembuat karya dengan penonton untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan sosial.
Acara malam hari ini diawali dengan sambutan dari Pak Jeje, pendamping UKM Teater Seriboe Djendela, dilanjut dengan pementasan Tumirah: Sang Mucikari, lalu diakhiri dengan diskusi sekaligus pengenalan aktor serta kru dari suksesnya acara pementasan kali ini.
Baca juga: Sastra Spotlight Vol. 6 Ajak Mahasiswa Rayakan Romansa Lewat Karya
Kisah Tumirah: Sang Mucikari ini sendiri, mengambil latar waktu “98” yang berkisah tentang seorang mucikari yang memiliki rumah bordil yang mempekerjakan beberapa pelacur. Namun, meskipun menjadi seorang pelacur, Tumirah sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Hal serupa juga disampaikan oleh Agatha yang berperan sebagai Tumirah.

“Saya di sini belajar tentang kemanusiaan, melalui sosok Tumirah yang saya perankan. Sebagai Tumirah, saya melihat bagaimana pandangan masyarakat ketika perempuan yang berpakaian terbuka dan berprofesi sebagai mucikari begitu dianggap hina, padahal sosok Tumirahlah yang menjadi tokoh yang memanusiakan manusia,” ucapnya.
Selain itu, orang tua dari salah satu aktor, juga turut menyampaikan tanggapannya pada saat diskusi tadi. Lewat tanggapannya, beliau mengatakan kebanggaannya tentang suksesnya acara malam ini, juga tentang keberanian para aktor yang dengan “luwes” mengajak para penonton untuk hanyut merasakan bagaimana situasi yang dialami oleh para “kupu-kupu malam” pada masa “98” kala itu.
“Tumirah adalah Mucikari yang mengedepankan kemanusiaan, di atas segalanya,” ucap Lea selaku sutradara dari pementasan malam ini.
Melalui kisah Tumirah: Sang Mucikari, kita diajak untuk melihat realitas dan bersikap manusiawi terhadap sesama, terlepas dari bagaimana latar belakangnya.
Selain itu, Lea juga menambahkan harapannya pada UKM Teater Seriboe Djendela,
“Harapannya, Teater Seriboe Djendela ini bukan hanya sekadar UKM yang menampung bakat-bakat atau minat berkarya, tetapi bisa menyampaikan pesan-pesan yang terpendam, mungkin dalam sebuah karya sastra, mungkin ketika kritik ataupun hal yang dibungkam, karya sastralah yang bisa dibicarakan”, tambahnya.
Editor: Helena Setiasari















