Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
"POV" (Point of View): Bukan Skenario, Melainkan Sudut Pandang Murni - KataKarsa

“POV” (Point of View): Bukan Skenario, Melainkan Sudut Pandang Murni

Pasti sering banget kan, kamu scroll TikTok atau Instagram Reels, lalu menemukan video dengan tulisan “POV: Kamu lagi diajak makan di restoran mewah sama doi”? Atau “POV: Dosen killer lagi ngejelasin materi”? Nah, kalau kita singkap lebih jauh, penggunaan “POV” di situ sering kali melenceng dari makna aslinya. Di dunia digital yang serba cepat ini, apalagi di kalangan anak muda, ada fenomena menarik di mana sebuah istilah teknis yang sebenarnya punya makna spesifik, tiba-tiba bergeser jadi semacam format konten. Ini nih, yang bikin kita jadi mikir, ada apa ya dengan semiotika bahasa di zaman sekarang?

Asal-Usul dan Makna Asli “POV”

Mari kita bedah dulu dari akarnya, supaya jelas duduk perkaranya. Istilah “POV” itu singkatan dari Point of View, yang kalau kita terjemahkan ke bahasa Indonesia artinya ‘sudut pandang’. Di berbagai disiplin ilmu dan seni, mulai dari dunia sastra yang mendalam, jagat perfilman yang visual, ranah fotografi yang menangkap momen, sampai kancah jurnalistik yang penuh objektivitas, konsep point of view ini punya peran yang sangat penting. Ia bukan sekadar istilah keren, melainkan merujuk pada posisi atau perspektif dari mana sebuah cerita, peristiwa, atau informasi itu disampaikan atau diamati. 

Contoh paling gampang di novel, kita kenal ada sudut pandang orang pertama (“aku” yang jadi pencerita utama), orang ketiga (“dia/mereka” yang seolah-olah narator di luar cerita), atau bahkan orang ketiga serba tahu yang mengetahui semua isi pikiran tokoh. Sedangkan dalam film, ada teknik “POV shot” di mana kamera ditempatkan seolah-olah menjadi mata si tokoh, sehingga penonton benar-benar merasakan dan melihat persis apa yang tokoh itu lihat dan alami. Jadi, “POV” itu selalu bicara soal dari mata siapa, dari posisi mana, atau dari pikiran siapa sebuah narasi, visual, atau kejadian disampaikan. Ini murni tentang perspektif visual atau naratif, yang fungsinya untuk memposisikan audiens atau pembaca, bukan tentang alur cerita atau skenario yang sedang digambarkan.

Baca juga: Bengkel Sastra Kembali Menampilkan Pasar Pahing di Jayadipuran Culture and Art

Maka dari itu, sangatlah menarik sekaligus sedikit menggelitik melihat bagaimana penggunaan istilah “POV” ini bergeser maknanya secara drastis di ranah media sosial, khususnya di platform-platform yang visual-heavy seperti TikTok dan Instagram Reels. Di sana, POV seringkali dipakai sebagai semacam “label” atau awalan untuk mendeskripsikan sebuah skenario atau situasi yang hipotetis, dan bukan lagi merujuk pada sudut pandang murni si pembuat konten atau penontonnya. Misalnya, ketika kita melihat caption “POV: Kamu lagi diajak makan di restoran mewah sama doi”, ini jelas bukan berarti kita sedang melihat adegan itu dari mata si “doi”, melainkan si kreator video sedang menciptakan sebuah situasi atau cerita di mana si “kamu” (sebagai penonton) adalah subjek yang mengalami atau berada dalam kejadian tersebut. Ini lebih tepatnya berfungsi sebagai role-play atau ilustrasi situasi yang dibayangkan, lengkap dengan deskripsi dan dramatisasi, daripada representasi murni dari perspektif visual atau naratif. Pergeseran ini menunjukkan betapa fleksibelnya bahasa di tangan penggunanya, meskipun kadang fleksibilitas itu sampai mengaburkan makna aslinya.

Pergeseran Makna “POV” di Media Sosial

Di jagat media sosial yang riuh, terutama platform visual seperti TikTok dan Instagram Reels, makna asli dari “POV” ini bergeser sangat jauh, bahkan nyaris tak dikenali lagi oleh mereka yang akrab dengan terminologi aslinya. Anak muda sekarang, yang memang jago berkreasi dengan konten digital, sering banget pakai “POV” sebagai semacam tagline atau awalan untuk mendeskripsikan sebuah skenario atau situasi yang hipotetis. Ini bukan lagi soal sudut pandang murni yang memposisikan penonton sebagai subjek yang melihat atau merasakan langsung dari mata sang tokoh, melainkan lebih ke arah “begini lho ilustrasi situasinya kalau kamu jadi [siapa]”. Contoh populer yang sering kita jumpai adalah “POV: Kamu lagi diajak makan di restoran mewah sama doi”–jelas banget ini bukan berarti kamu melihat kejadian dari mata si doi, melainkan si kreator video sedang menggambarkan sebuah simulasi situasi di mana si “kamu” (penonton) adalah subjek yang mengalami kejadian tersebut.

Baca juga: Kami Bukan Malas, Lulus Kuliah Delapan Semester Maih Tetap Tepat Waktu

Lebih jauh lagi, penggunaan “POV” di konteks ini cenderung mengarah pada sebuah bentuk role-play atau ilustrasi situasi yang sengaja dibuat untuk memicu imajinasi penonton agar seolah-olah menjadi bagian dari narasi yang ditampilkan. Ini bukan representasi sudut pandang kamera atau pencerita dalam pengertian sinematik atau naratif tradisional. Yang menarik, pergeseran makna ini menunjukkan bagaimana bahasa, khususnya istilah yang diserap, bisa mengalami “demokratisasi” makna di ruang digital. Sebuah istilah teknis yang dulunya eksklusif di bidang tertentu kini menjadi bagian dari lingo ‘bahasa gaul’ sehari-hari, bahkan dengan makna yang berubah total. Implikasinya, meskipun berhasil menarik perhatian dan mempermudah pemahaman konteks video bagi audiens yang melek media sosial, fenomena ini juga menciptakan celah komunikasi dan potensi misinterpretasi bagi mereka yang tidak familiar dengan konvensi bahasa gaul terbaru, atau bagi mereka yang masih berpegang pada makna kamus dan etimologi asli.

Dampak dan Kenapa Ini Bisa Terjadi? 

Lalu, kenapa bisa sih terjadi pergeseran makna yang cukup signifikan pada istilah “POV” ini? Ada beberapa faktor utama yang mungkin jadi biang keroknya. Pertama, alasan yang paling logis adalah kepraktisan dan efisiensi komunikasi di era digital. Istilah “POV” itu singkat, padat, dan menarik banget buat jadi caption atau tagline video yang durasinya cuma beberapa detik. Bayangkan kalau harus menulis “Ini adalah ilustrasi skenario ketika kamu sedang….” pasti kepanjangan dan kurang menarik, kan? Nah, “POV” yang hanya tiga huruf ini berhasil memadatkan niat untuk menggambarkan sebuah situasi hipotetis. 

Kedua, faktor tren dan viralitas di media sosial punya peran besar. Ketika ada satu kreator yang memulai tren penggunaan “POV” untuk skenario, dan kontennya meledak, banyak orang lain yang otomatis ikut-ikutan tanpa perlu repot-repot mendalami makna aslinya dari dunia film atau sastra. Ini mirip kayak virus bahasa yang menyebar cepat, di mana popularitas mengalahkan ketepatan. Pengulangan masif ini pada akhirnya melegitimasi penggunaan baru tersebut di mata sebagian besar pengguna. 

Baca juga: Gelar Gagasan Kritis 2025: Lokakarya Penulisan Opini bersama Petrus Seno Wibowo

Dampak dari pergeseran makna ini, tentu saja, menimbulkan ambiguitas dan potensi miskomunikasi. Bagi mereka yang paham betul makna “POV” dalam konteks aslinya, misalnya para sineas, sastrawan, atau mahasiswa komunikasi, penggunaan di media sosial ini bisa jadi membingungkan, bahkan terasa “salah kaprah”. Mereka mungkin berpikir, “Lho, kok ini bukan sudut pandang tokoh, tapi malah kayak potongan drama?” Hal ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang cukup lebar antara bahasa teknis (bahasa baku) dengan bahasa gaul (bahasa internet) yang sangat pragmatis. Bahasa gaul memang cenderung mementingkan efektivitas penyampaian pesan dalam konteks visual atau situasi yang spesifik di media sosial, daripada ketepatan makna semantik (makna sebenarnya dari kata tersebut). Ini bukan berarti bahasa gaul itu buruk, tapi fenomena ini menyoroti bagaimana dinamika interaksi online dan kecepatan informasi bisa membentuk makna baru yang terkadang jauh menyimpang dari akarnya.

Pentingnya Kesadaran Berbahasa di Era Digital

Meskipun bahasa itu dinamis dan terus berkembang, penting juga bagi kita untuk punya kesadaran berbahasa. Bukan berarti kaku dan selalu harus formal, tetapi setidaknya tahu kapan sebuah kata bisa digunakan secara fleksibel dan kapan harus tetap pada makna aslinya. Istilah seperti “POV” ini jadi contoh menarik bagaimana media sosial bisa menciptakan “makna baru” yang kemudian diadopsi secara luas. Mengakui pergeseran ini bukan berarti membenarkan, melainkan memahami bagaimana bahasa bekerja di tangan penggunanya, terutama generasi Z yang punya cara unik dalam berkomunikasi. Jadi, lain kali lihat “POV” di video, kita bisa senyum-senyum sendiri, karena tahu kalau itu bukan benar-benar sudut pandang murni, tapi lebih ke “ini lho skenarionya kalau kamu jadi…”. 

Editor: Fransiska Meiliana Martani 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *