Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Menelisik Lebih Jauh Tentang “Free Markets, Free Women” - KataKarsa

Menelisik Lebih Jauh Tentang “Free Markets, Free Women”

Kamis siang tanggal 27 Februari 2025, para mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 24 bersama teman-teman lainnya mengadakan kegiatan di sela kelas, yaitu “Free Markets, Free Women – A Film Screening & Discussion”, sebuah kegiatan yang berisi diskusi dan menonton film tentang permasalahan perempuan.

Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih satu jam, yaitu pukul 12.00–13.00 WIB yang dilaksanakan di ruang S304, Fakultas Sastra. Kegiatan ini dilaksanakan oleh salah satu mahasiswa Sastra Indonesia, yaitu Waleed Ahmad Loun di bawah naungan organisasi Students For Liberty yang ia ikuti.

Students For Liberty adalah organisasi Internasional jaringan mahasiswa pro-kebebasan yang berkembang pesat dari seluruh dunia. Students For Liberty adalah organisasi mahasiswa pro-kebebasan terbesar di dunia yang sangat cermat memilih relawan mahasiswa.

Diskusi siang ini diikuti oleh beberapa mahasiswa angkatan 23 dan 24, serta salah satu dosen Sastra Indonesia, yaitu Ibu Sinta. Selain menonton film dokumenter, para peserta juga disuguhi makanan khas India, yaitu nasi biryani dan minuman chai hangat yang berasal dari rempah-rempah. Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa terlihat enjoy menonton film dan menikmati makanan yang diberikan.

“Sejauh ini aku merasa senang karena makan serta nonton bareng bersama teman-teman dan juga dosen. Selain itu, pertama kali mencicipi kuliner khas Pakistan yang ternyata rasa makanannya cukup unik namun lezat dan rasa dari makanan tersebut memiliki ciri khas yang tak dapat ditemui di Indonesia,” ujar Natashya salah satu mahasiswa Sastra Indonesia yang mengikuti kegiatan ini.

Periode End of Sentence adalah judul film yang diputarkan pada kegiatan ini. Film ini kurang lebih menceritakan kesejahteraan perempuan desa di India yang berbeda dengan kehidupan di kota, khususnya mengenai produksi pembalut yang masih cukup sulit di desa tersebut. Salah satu scene film tersebut memperlihatkan bahwa perempuan biasanya masih malu untuk berbelanja di warung, apalagi membeli pembalut. Para perempuan seakan dibungkam dan merasa malu untuk mengatakan bahwa pembalut sebagai barang yang mereka beli, terlebih jika di situ terdapat gerombolan lelaki. Hal semacam ini masih sering kita jumpai di desa yang jauh dari peradaban kota. Melalui film ini, kita diajarkan bahwa menjadi perempuan harus bisa lebih berani dan memiliki hak untuk bersuara.

“Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan pendidikan kepada peserta tentang manfaat pasar bebas dalam mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan, mendorong peserta untuk lebih berpikir kritis, serta sebagai forum diskusi bagi mahasiswa,” jelas Waleed selaku pelaksana kegiatan ini.

Editor : Olivya Permata Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *