Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Teror Ketukan dan Langkah Kaki - KataKarsa

Teror Ketukan dan Langkah Kaki

Malam itu, jam biologisku berperang melawan urgensi tugas akhir. Meskipun seluruh tubuhku terasa seperti karung pasir, mataku terasa terpatri pada layar laptop. Rasa lelah yang mendalam seharusnya langsung menenggelamkanku dalam tidur, tetapi pikiran memintaku untuk memprioritaskan progres tugas akhir kuliahku. Aku duduk di lantai kamar, laptop berada di atas kasur yang rendah, ditemani rutinitas wajibku: mendengarkan musik lewat earphone, meskipun saat itu hanya terpasang di satu telinga.

Di tengah fokus yang terpecah, aku mulai mendengar suara, yaitu langkah kaki menyeret sandal. Bunyi gesekan “srek, srek, srek” seolah langkah di atas aspal itu terdengar normal, biasa terdengar dari tetanggaku yang mungkin baru pulang. Aku mengabaikannya, menganggapnya sebagai bagian dari latar malam yang biasa. Namun, perhatianku tersentak ketika kemudian terdengar suara lain, yaitu suara gerbang yang dibuka.

Gerbang rumahku memiliki engsel tua yang selalu menghasilkan bunyi derit khas, “nyit”, setiap kali didorong ke dalam. Suara yang baru saja kudengar terdengar sangat mirip dengan gerbangku, dan seolah-olah, seseorang telah berhasil masuk. Aku mulai terdiam, seluruh indraku mencerna setiap getaran bunyi. Lalu, langkah kaki menyeret sandal itu terdengar semakin dekat, menapak naik ke teras yang menjadi batas antara luar dan dalam rumahku.

Baca Juga: 3 Alasan Pentingnya Tidur Cukup Untuk Menyeimbangkan Hidupmu

Belum sempat aku merangkai logika apa pun, tiba-tiba terdengar ketukan pintu sebanyak tiga kali. Itu bukan ketukan samar yang bisa kubantah sebagai salah dengar; bunyinya nyaring, jelas, dan terdengar tebal. Ketukan itu berbunyi seolah ada seseorang yang berdiri tegak di luar, meminta izin untuk masuk. Bunyi itu terdengar sopan, tetapi sangat mengancam di keheningan malam.

Seluruh sistem sarafku seakan berhenti, memproses ketakutan yang mendadak. Aku segera melepas earphone sepenuhnya, mendengarkan dengan segenap konsentrasi. Namun, tidak ada suara susulan. Keheningan yang kembali hadir justru lebih mencekam. Tubuhku sudah terlanjur merinding, dan pikiran mulai overthinking tentang skenario-skenario terburuk.

Dengan segenap keberanian yang tersisa, aku berujar dan memohon, “Tolong, aku hanya ingin menyelesaikan tugas, aku tidak mengganggu siapa-siapa. Jangan aneh-aneh.”

Setelah bisikan internal itu, tanpa pikir panjang, aku segera menyimpan semua progres tugas, menutup laptop, dan langsung membaringkan diri untuk tidur. Aku tidak berani berbagi cerita ini dengan siapa pun, takut jika reaksi mereka memicu keingintahuan untuk menyelidiki, sementara aku tak sanggup menghadapi kemungkinannya. Banyak hal yang terlintas di kepalaku, seperti bagaimana jika aku mengintip ke jendela dan menemukan sosok asing atau lebih buruk lagi, seorang perampok. Apa pun itu, tetap terasa mengerikan, terutama sebagai seorang perempuan yang tinggal sendirian. Misteri langkah kaki menyeret sandal yang diakhiri ketukan tiga kali itu tetap menjadi rahasia yang mengunci pintu kamarku.

Editor: Olivya Permata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *