Studi Pentas Tiga: Sarana Teater Seriboe Djendela dalam Mengkritisi Fenomena Republik Dewasa Ini

Stupen kali ini membawa dua naskah untuk dipentaskan. Naskah pertama berjudul Dipaksa Untuk Diam mengisahkan dinamika para pelaku pendidikan,— guru dan siswa (digambarkan sebagai hewan) — yang mengalami perubahan dalam sistem pendidikan dan pada akhirnya dipaksa “kenyang” oleh pemimpin agar diam.

Sabtu, 28 Maret 2026, UKM Teater Seriboe Djendela (TSD) Sanata Dharma menggelar Studi Pentas (Stupen) yang ketiga di Kampus I Universitas Sanata Dharma.

Suasana mendung selepas hujan melengkapi atmosfer pementasan pada sore hari ini. Pada pukul 17.20 WIB, para penonton terpantau telah memenuhi tempat duduk dan siap menunggu pementasan dimulai.

Kegiatan kemudian dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Johanes Baptis Judha Jiwangga, M.Pd., selaku dosen pendamping UKM TSD. 

Stupen kali ini membawa dua naskah untuk dipentaskan. Naskah pertama berjudul Dipaksa Untuk Diam mengisahkan dinamika para pelaku pendidikan,— guru dan siswa (digambarkan sebagai hewan) — yang mengalami perubahan dalam sistem pendidikan dan pada akhirnya dipaksa “kenyang” oleh pemimpin agar diam.

Naskah yang kedua berjudul Terdakwa yang secara ringkas mengisahkan penghakiman terhadap Sang Pemimpin di negeri terkutuk. 

Penonton terlihat antusias dalam kegiatan ini. Pada akhir masing-masing naskah, penonton diberi kesempatan untuk berdiskusi mengenai aspek teknis maupun non-teknis dari pementasan.

Baca juga: Mantra Malam-Malam Vol. 5: Saat Puisi Menemukan Suaranya di Sanata Dharma 

Stupen malam hari ini sukses meninggalkan kesan baik di benak penonton.

“Keduanya sama-sama memberikan kesan cerita yang mencekam, penuh gejolak amarah, emosi, penuh dengan kesedihan-kesedihan, penuh dengan pro, penuh juga dengan kontra,” ungkap Andreas mahasiswa Sastra Indonesia.

Andreas melanjutkan harapannya akan UKM Teater Seriboe Djendela, “Semoga Teater Seriboe Djendela bisa mempertahankan kualitasnya. Ya syukur-syukur kalau bisa jadi lebih baik lagi, saya juga mendoakan.”

Pada akhirnya, stupen ketiga ini berhasil menjadi sarana bagi UKM Teater Seriboe Djendela untuk menyampaikan sekaligus mengkritisi fenomena di Republik Dewasa ini, serta menghadirkan refleksi bagi penonton terhadap realitas sosial dengan cara yang penuh tafsir.

Editor: Sahira Diny Khairunisa

Thumbnail by Dokumentasi Bengkel Jurnalistik

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *